JUMAT 2 DESEMBER 2016

LAMPUNG-Sebagian besar warga di Kecamatan Palas Kabupaten Lampung Selatan yang tinggal di aliran Sungai Way Pisang memanfaatkan air yang melimpah sebagai sumber pengairan lahan pertanian. Meski demikian sebagian masyarakat memanfaatkan untuk pembuatan kolam tanah untuk budidaya ikan nila, gurame, ikan lele serta berbagai jenis ikan tawar lain. Warga pemilik lahan yang masih luas sebagian membuat kolam tanah untuk memelihara ikan gurame dan lele.

Ikan lele yang dipanen oleh Kiran untuk dijual.
Bagi Kiran (40) keterbatasan lahan yang tak memungkinkannya membuat kolam tanah disiasati dengan membuat kolam terbuat dari terpal. Kolam terpal berbagai ukuran di antaranya 1x2 meter, 2x4 meter dan berbagai ukuran lain menjadi pilihan untuk memelihara ikan lele jenis sangkuriang yang mudah dan cepat berkembang. Budidaya ikan lele menggunakan terpal tersebut menurut Kiran sudah dijalankannya sekitar satu tahun terakhir setelah melihat sang kakak, Johan (40) yang juga membudidayakan ikan lele dengan teknik serupa.

Kiran mengungkapkan saat ini ia mengisi kolam terpalnya dengan ikan sebanyak 2000 ekor perkolam sementara dirinya saat ini masih memiliki sebanyak 5 kolam yang diletakkan di sekitar pekarangan rumah dengan berbagai ukuran. Pemilihan lele dengan berbagai ukuran tersebut dipilihnya untuk memudahkan konsumen yang membeli ikan lele miliknya. Kiran mengaku sengaja membudidayakan ikan lele untuk konsumsi hingga ukuran tertentu dan tidak memerlukan waktu lama dari saat menebar bibit hingga saat panen. Sebagian besar bibit ikan yang dibudidayakan dalam kolam terpal tersebut dibelinya dari Desa Kaliliak Kecamatan Palas yang dikenal sebagai sentra perikanan air tawar dan menyediakan bibit dalam jumlah cukup banyak.

"Selama setahun ini sebagian besar konsumen merupakan pemilik warung pecel lele atau konsumen rumah tangga yang ingin mengkonsumsi ikan air tawar sesuai ukuran yang sudah layak untuk dikonsumsi umumnya setelah satu bulan setengah,"ungkap Kiran saat ditemui di kolam miliknya di Desa Sukaraja Kecamatan Palas, Jumat (2/12/2016).

Pemilihan budidaya ikan lele yang sengaja dilakukannya untuk ikan konsumsi membuat Kiran memilih bibit dengan ukuran sekitar 6-7 centimeter dengan waktu perkiraan hingga masa panen sekitar 60 hari, meski demikian dalam kondisi konsumen cukup banyak usia 45 hari pun ia sudah mulai melakukan pemanenan ikan lele miliknya. Banyaknya permintaan akan ikan air tawar jenis lele terutama jenis sangkuriang diakui oleh Kiran karena jenis ikan lele sangkuriang tersebut lebih renyah saat digoreng dan tidak berbau.

Kolam yang masih sederhana dan sedikit diakui oleh Kiran menjadi kendala baginya untuk budidaya ikan lele menggunakan terpal. Biaya awal sebesar Rp1juta untuk pembuatan kolam dan proses membeli bibit diakuinya telah dikembangkannya untuk membuat kolam baru lainnya yang lebih besar. Meski demikian di awal tahun 2017 mendatang ia sudah berencana mengajukan pinjaman kepada badan usaha milik desa (Bumdes) dengan pinjaman lunak untuk membeli terpal tambahan dan ia berencana menambah kolam terpal yang dimilikinya dari sekitar 5 kolam menjadi 10 kolam. Penambahan kolam terpal tersebut menurut Kiran dilakukan karena ia kerap kewalahan menerima permintaan akan ikan lele terutama saat musim musim liburan dan warga memiliki kegiatan bersama yang membutuhkan ikan untuk lauk pauk.

Harga jual ikan lele yang relatif menguntungkan dengan harga Rp20ribu perkilogram berbagai ukuran membuatnya mampu menghasilkan uang sekitar Rp1juta perminggu saat dirinya mampu menjual ikan lele dengan jumlah sekitar 50 kilogram. Secara keseluruhan ikan lele yang dibudidayakannya dengan ukuran siap konsumsi mampu menghasilkan sekitar 200 kilogram ikan lele, namun ia mengakui perkembangan ikan lele dengan pasokan makanan yang masih menggunakan pelet membuat ikan yang dibudidayakannya maksimal mencapai berat total sekitar 150 kilogram. Pengembangan dan tekhnik sumber pakan yang lebih beragam dengan pakan alami akan dilakukannya pada pembuatan kolam tahap selanjutnya untuk meningkatkan produksi ikan yang dibudidayakannya.

Memilih memelihara ikan lele dalam terpal yang ditekuninya bukan tanpa alasan sebab ia mengakui banyak keunggulan dari teknik pemeliharan ikan lele menggunakan terpal. Beberapa keuntungan tersebut seperti, terhindar dari pemangsaan ikan liar, dilengkapi pengatur volume air yang bermanfaat untuk memudahkan pergantian air dan saat panen, mempermudah penyesuaian ketinggian air sesuai dengan usia ikan.

Selain itu ia mengungkapkan dengan memelihara ikan lele menggunakan terpal lele terlihat bersih dan tak berbau apalagi ditambah dengan pemeliharaan tanaman enceng gondok yang ada di dalam kolam terpal.

"Saya memelihara ikan lele sengaja untuk pembesaran samapi tingkat konsumsi sementara untuk pemijahan atau bibit banyak dilakukan masyarakat di Desa Kaliliak dan ini sama sama menguntungkan bagi para pembudidaya ikan lele,"terangnya.

Ia juga tak mengalami kesulitan dalam pemasaran ikan lele yang dibesarkannya sebab selama ini banyak penampung ikan lele untuk dijadikan pecel lele. Sementara ketersediaan air selain dari air sungai yang diambil dengan cara memompa air sungai sebagian dipasok dari air sumur yang dialirkan dengan mesin penyedot air.

Budidaya ikan lele yang ditekuni Kiran diakuinya saat ini merupakan pekerjaan sambilan karena sebagai petani ia juga sibuk mengurus kebun jagung dan singkong yang merupakan pekerjaan pokok harian. Hal serupa juga digeluti oleh warga yang tinggal di Kecamatan Palas selain Kiran yang memanfaatkan kolam terpal untuk pembudidayaan ikan lele sangkuriang.

Hasil ikan nila saat panen.

Pengolahan Ikan Lele Menjadi Abon

Selain Kiran, warga Palas juga memanfaatkan peluang banyaknya warga yang memiliki kolam ikan lele dengan melakukan pengolahan lele menjadi produk turunan ikan diantaranya abon. Salah satu usaha kecil menengah (UKM) yang memanfaatkan ikan lele untuk pembuatan abon digeluti oleh Toha Suparman yang memiliki usaha pembuatan abon lele Pas Mantap.

Pengolahan ikan lele menjadi abon diakui oleh Toha Suparman untuk meningkatkan nilai jual hasil ikan air tawar yang ada di Desa Bumidaya Kecamatan Palas. Ia memulai usaha tersebut dengan membentuk kelompok pengolah dan pemasaran (Poklahsar) Pas Mantap yang sudah berdiri sejak 2006.

Pengolahan ikan lele yang dilakukan kelompok tersebut menurut Toha dilakukan dengan pengolahan ikan lele menjadi abon. Sebagai keistimewaan abon yang diolahnya adalah abon dengan rasa yang berbeda diantaranya abon lele berkarakter daging sapi, rasa original ,rasa pedas manis, rasa bawang. Sebagai industri rumahan ia mengaku produk pangan olahan ikan miliknya telah memiliki sertifikasi produksi industri rumah tangga dari Dinas Kesehatan Kabupaten Lampung Selatan.

"Kita memang sengaja melakukan pengolahan ikan air tawar jenis lele karena ikan lele di wilayah kita melimpah dan abon merupakan produk turunan lele yang bisa meningkatkan nilai jual sekaligus menambah penghasilan bagi warga,"terangnya.

Selain dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan abon ikan lele yang mulai dipasarkan ke luar daerah, sebagian warga juga memanfaatkan ikan jenis lain untuk pembuatan produk olahan ikan. Beberapa produk olahan ikan yang dibuat oleh warga diantaranya ikan asin, nuget, otak otak, bakso ikan, sosis, keripik ikan serta hasil olahan ikan lainnya.

Keaktifan masyarakat dalam budidaya ikan air tawar juga diakui oleh Sutisna selaku penyuluh perikanan Kecamatan Palas. Sutisna mengungkapkan budidaya ikan lele menggunakan kolam terpal dal kolam semen serta kolam tanah di Kecamatan Palas hingga saat ini tercatat mencapai 117 kelompok tersebar di sebanyak 21 desa dan sebagian membentuk kelompok pengolahan ikan dengan jumlah 6 kelompok. Ia mengapresiasi warga yang memanfaatkan peluang dengan melakukan budidaya ikan air tawar menjadi sumber penghasilan tambahan.

"Jika dirata rata warga di sekitar Palas sebagian menjadi pembudidaya ikan diantaranya gurame, patin, lele, nila, emas dan bawal,"ungkapnya.

Sebagai daerah penghasil ikan air tawar ia bahkan mencatat hasil produksi ikan air tawar di kecamatan tersebut bisa mencapai 80 ton per bulan sebagian untuk kebutuhan lokal dan sebagian dijual ke luar daerah. Berbagai penyuluhan dan pemberian bantuan serta pemberian pelatihan teknik budidaya ikan air tawar yang baik di antaranya pemanfaatan kolam terpal menjadikan Palas menjadi salah satu sentra ikan air tawar yang besar di Lampung Selatan. Selain maju dalam bidang perikanan air tawar ia juga mendorong warga untuk melakukan pemanfaatan dengan memberdayakan kaum perempuan dalam pengolahan ikan air tawar menjadi produk makanan yang memiliki nilai jual lebih.

Jurnalis: Henk Widi/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Henk Widi
Bagikan:

Irvan Sjafari

Berikan Komentar: