KAMIS, 1 DESEMBER 2016
KEEROM---Ladang ganja di perbatasan RI-PNG, kembali ditemukan. Kali ini prajurit TNI AD dari Satuan Tugas (Satgas) Pengaman Perbatasan (Pamtas) Yonif Raider 700 Wira Yhuda Chakti menemukan ladang ganja seluas setengah hektar. Penemuan ladang ganja ini berawal dari patroli prajurit selama dua jam lamanya di hutan Waris, perbatasan Republik Indonesia (RI)-Papua New Guinea (PNG), seluas setengah hektar ditumbuhi tanaman ganja setinggi satu hingga satu setengah meter.

“Awalnya memang ada laporan dari seorang warga, saat melintasi hutan Waris, dia melapor ke anggota pos Kalimao, melihat pohon ganja,” kata Komandan Satgas Pamtas Yonif Raider 700/WYC di Keerom, Kamis (1/12/2016).

20 pohon ganja yang dibawa Tim Pamtas Yonif Raider 700/WYC melintasi sungai.
Anggota yang dipimpin Komandan Kompi A Kapten Inf Sabar Widodo, dikatakan Letkol Inf Horas,  memerintahkan Komandan Pos Kalimao Lettu Inf Sahang Subaktyo untuk melakukan patroli menuju tempat yang dimaksud.

Tim Pamtas Yonif Raider 700/WYC saat mencari titik lokasi ladang ganja di Waris.
“Dan Alhamdulillah, tepatnya  hari ini, sekitar pukul 04.00 WIT, tim patroli berangkat menuju lokasi ladang. Setelah berjalan sekitar 1,5 jam dari pos pasukan tiba di lokasi dan langsung menemukan sekitar 20 pohon ganja tumbuh subur di sana,” katanya.

Dengan adanya penemuan tersebut, Bupati Keerom Celcius Watae saat dikonfirmasi menuturkan, ladang ganja yang ditemukan Satgas Pamtas ini sudah sepantasnya dimusnahkan. Hal itu sesuai dengan komitmen Pemda terhadap penanganan ladang ganja.

“Tahun ini saya lihat banyak ditemukan, tahun depan kami akan turun bersama-sama langsung melakukan sosialisasi ke tiap-tiap distrik, dari kampung ke kampung yang ada di perbatasan RI-PNG. Termasuk Arso Timur, Waris, Yabanda, Web dan Distrik lainnya,” kata Celcius Watae.

Sosialisasi terhadap ganja sangat penting. Menurutnya, masyarakat ada yang mempunyai keluarga juga di negara PNG. Dikatakan Watae, ada banyak jalan-jalan tikus di perbatasan RI-PNG yang juga perlu diwaspadai.

“Jadi adanya hubungan kekeluargaan itulah membuat transaksi ganja tinggi, ditambah lagi jalur masuknya banyak. Narkoba ini kami melarang, tapi di PNG tidak terlalu ketat soal ganja ini. Dan ini tantangan bagi kami,” ujarnya.

Jurnalis: Indrayadi T Hatta / Editor: Satmoko / Foto: Indrayadi T Hatta




Bagikan:

Satmoko Budi Santoso

Berikan Komentar: