JUMAT 2 DESEMBER 2016

BANDUNG-Sebanyak 60 peserta dari bebagai komunitas di 13 kota, menampilkan pertunjukan musik hip-hop di Auditorium RRI, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Kamis (1/12/2016) malam. Acara ini diselenggarakan oleh Rumah Cemara dengan misi memperingati Hari AIDS Sedunia (HAS).

Suasana pertunjukkan Hip Hop mempeirngat Hari AIDS sedunia di Bandung.
Boleh saja musik hip-hop, namun unsur nasional pun tetap mereka sertakan. Misalnya dalam beberapa pertununjukan bebunyian alat musik tradisional seperti kecapi dan irama khas Bali juga ditonjolkan.

"Seluruh peserta berasal dari latar belakang yang berbeda-beda, seperti komunitas HIV/AIDS, Konsumen Napza dan Komunitas hip-hop. Hari ini adalah panggung sesungguhnya bagi mereka untuk mengeluarkan semua kemampuan di depan penonton banyak," ujar Ketua Program Acara, Rijki Kurniawan.

Sebelumnya, selama 10 hari para peserta mendapatkan pelatihan dari pengajar profesional dari Next Level. Next Level sendiri merupakan program pelatihan musik dan budaya yang didukung oleh Biro Pendidikan dan Budaya Amerika Serikat, yang dikelola University of North Carolina (UNC) di Chape Hill.

Di tengah acara, Rumah Cemara juga mengajak pengunjung yang hadir untuk memakai pita merah sambil melakukan manannequin challange. Diharapkan aksi yang sedang hits ini mampu menyedot perhatian masyarakat.

Salah satu tujuan acara ini adalah memfasilitasi terbentuknya pemahaman horizontal antara berbagai komunitas, suku, etnis, agama dan latar belakang. Kegiatan ini juga didukung oleh Kedutaan Besar Amerika Serikat untuk Indonesia.

"Keragaman adalah hal penting yang menjembatani pilar utama Indonesia melalui slogan Bhineka Tunggal Ika dan Amerika Serikat melalui motto E Pluribus Unum," jelasnya.

Dikatakan, Rumah Cemara adalah organisasi komunitas yang memimpikan Indonesia tanpa stigma dan diskriminasi. Di mana semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk maju.

"Memperoleh layanan HIV dan NAPZA yang bermutu serta dilindungi sesuai konstitusi," pungkasnya.

Sementara itu, Humas Rumah Cemara Indra mengatakan pihaknya memang berupaya memperingati (HAS) 2016 dengan cara lebih moderen.

Menurutnya, musik adalah bahasa universal sehingga semua kalangan mampu menangkap maknanya.
Mengingat, dalam pagelaran ini pun para peserta menyajikan karya dengan semangat Indonesia tanpa stigma. Artinya merangkul semua kaum yang beresiko terjangkit AIDS/HIV.

"Bagaimana kampanyenya supaya tidak jemu atau membuat orang bosan, jadi bisa menyukai media yang sama yaitu musik. Selain musik kan ada lewat olahraga kita sudah lakukan itu, dan tetap edukasi di ruang kelas, di seminar juga kita tetap lakukan," papar Indra.

Jurnalis: Rianto Nudiansyah/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Rianto Nudinsyah
Bagikan:

Irvan Sjafari

Berikan Komentar: