KAMIS 1 DESEMBER 2016

LAMPUNG---Kecamatan Hatta, Kecamatan Penengahan, Kecamatan Bakauheni, Kecamatan Sragi merupakan tiga kecamatan dari puluhan kecamatan yang ada di Lampung Selatan dengan potensi perkebunan pisang yang sangat melimpah. Sebagai salah satu program unggulan berbasis one village one product (Ovop) atau satu desa dengan satu keunggulan hasil pertanian memberi peluang bagi pengembangan usaha mikro kecil dan menengah. Peluang dari potensi desa yang ada di setiap desa salah satunya ditekuni oleh kaum perempuan di Desa Sumbersari Kecamatan Sragi.

Kelompok ibu-ibu membersihkan dan mengiris pisang untuk pembuatan keripik.
Sebagai daerah perkebunan dengan beragam hasil pertanian salah satunya pisang membuat warga desa menjadikan perkebunan pisang menjadi sumber penghasilan setiap bulan di samping pekerjaan lain sebagai peternak dan menanam padi sawah.

Kepala Desa Sumbersari Iwan Kuswara bahkan mengungkapkan pengembangan berbagai jenis pisang  dengan nilai jual tinggi yang ditumpangsarikan dengan tanaman jagung telah memberikan sumber ekonomi bagi masyarakat. Jenis pisang yang dikembangkan di antaranya pisang kepok raja nangka, pisang tanduk, pisang kepok manado,pisang janten, pisang muli dan berbagai jenis pisang buah atau bahan baku pembuatan keripik.

Berdasarkan nilai jual pisang tersebut sudah cukup memberi keuntungan bagi petani di antaranya harga pisang kualitas bagus di antaranya pisang janten dihargai Rp8-12 ribu, pisang kepok Rp25 ribu, pisang tanduk Rp25 ribu, pisang raja nangka mencapai Rp20 ribu. Dalam dua minggu dengan kualitas pisang yang bagus para petani bisa memperoleh penghasilan sekitar Rp250-350 ribu perminggu. Selain dijual dalam kondisi mentah sebagian besar pisang dijual dalam kondisi matang dan juga dioleh menjadi produk UMKM oleh kaum perempuan.

Salah satu kelompok yang memanfaatkan pisang sebagai bahan pembuatan keripik diantaranya kelompok ibu ibu pembuat keripik yang diketuai oleh Sriani (34). Ia mengaku dalam musim musim tertentu terutama menjelang hari raya atau saat menjelang liburan panjang produksi keripik pisang yang diolah oleh kelompok ibu ibu yang beranggotakan sekitar 10 orang mampu memproduksi sekitar 250 kilogram sekali proses dan dipasarakan ke sejumlah toko oleh oleh di tepi Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum) dan sebagian dibeli oleh konsumen lokal untuk camilan.

"Kita lakukan produksi sebagian berdasarkan pesanan dari toko oleh oleh,sebagian untuk kebutuhan warga desa yang ingin membeli keripik karena tidak sempat membuat untuk camilan saat hari raya atau untuk buah tangan bagi keluarga,"ungkap Sriani saat dikonfirmasi Cendana News, Kamis (1/12/2016).

Potensi hasil pertanian yang bisa dimanfaatkan oleh kaum perempuan sebagai bagian dari pengembangan UMKM tersebut juga didukung dengan adanya Dana Desa (DD) untuk kebutuhan permodalan kelompok perempuan dengan sistem pinjaman lunak. Pemenuhan kebutuhan akan permodalan sekaligus memberi kemudahan bagi usaha kaum perempuan dalam mengembangkan sektor usaha berbasis pertanian yang bisa diolah menjadi makanan tradisional dengan nilai jual lebih. harga keripik pisang dengan berbagai rasa diantaranya manis, coklat, gurih serta varian rasa yang berbeda dijual dengan harga mulai Rp10ribu hingga Rp25ribu. Hasil penjualan dikumpulkan sebagai uang modal dan diputar perempuan mendapat bagian dari bisnis pengolahan makanan ringan tersebut.

Sriani yang juga berusaha memberdayakan kaum perempuan di desanya selalu mengajak kaum perempuan memaksimalkan potensi yang ada di wilayah tersebut untuk membantu para suami yang bekerja. Selain pekerjaan kaum perempuan dalam pengolahan makanan tradisional masih bisa dikerjakan disela sela membantu suami, mengurus anak juga bisa

menghasilkan. Ke depan kelompok perempuan pengolah hasil pertanian tersebut juga akan melakukan inovasi dengan mengolah keripik pisang dengan varian berbeda menyesuaiakan dengan lidah para konsumen.

Potensi hasil pertanian pisang, singkong dan hasil pertanian lain juga menjadi sumber mata pencaharian bagi warga Desa Kelaten Kecamatan Penengahan. Hamroh (45) yang sehari hari bekerja sebagai ibu rumah tangga bahkan sejak tiga tahun terakhir telah memproduksi usaha kecil rumahan dalam pembuatan makanan ringan tradisional berbahan hasil pertanian. Beberapa hasil kerajinan tangan olahan makanan ringan tradisional yang ditekuni Hamroh diantaranya keripik pisang, keripik singkong, kacang tanah goreng, bakso goreng,marning jagung, kacang kapri, makaroni goreng. Menggunakan nama produksi "Ratu Jaya" wanita berkerudung tersebut juga dibantu anak anaknya untuk mengolah dan memasarkan produk tradisional tersebut.

Inisiatif memgerjakan usaha rumahan tersebut diakui Hamroh berangkat dari kebun milik sang suami, MAsri (50) yang banyak ditanami pisang dan juga daerahnya yang sebagian besar warga memiliki tanaman pisang, singkong, jagung. Sebagian besar bahan baku juga dibeli dari petani lokal untuk diolah menjadi makanan ringan. Modal awal usaha pengolahan hasil pertanian tersebut diakuinya dimulai dengan Rp500 ribu dengan membeli pisang seharga Rp15 ribu pertandan dan singkong dengan harga Rp20 ribu per karung.

"Buat kesibukan dan juga melatih anak anak saya untuk mandiri karena potensi desa ini sangat banyak sayang kalau tidak dimanfaatkan dengan baik dan membuat makanan tradisional salah satunya,"ungkap Hamroh.

Berawal dari 5 orang karyawan yang membantunya ia pun mengaku sudah memiliki sebanyak 8 orang yang membantunya dari mulai proses pengolahan, pembungkusan. Sebagian wanita yang bekerja mengolah makanan tradisional akan berkurang saat musim tanam jagung dan musim tanam jagung karena sebagian memilih menjadi buruh tanam jagung dan pada hari hari biasa sebagian ibu rumah tangga membantunya mengolah hasil pertanian tersebut.

Hamroh dibantu anak dan pekerja menekuni pembuatan makanan tradisional.
Modal Pinjaman Menjadi Pemicu Meningkatkan Produksi

Berbekal modal pribadi dan program pembinaan, permodalan dari program nasional pemberdayaan masyarakat (PNPM) khusus kaum ibu membuat Hamroh terus meningkatkan produksinya. Peningkatan produksi dan berbagai varian produk dilakukan untuk bisa melunasi kewajiban dari uang modal yang dipinjam. 

Hamroh mengungkapkan dengan modal pinjaman sebesar Rp2 juta bisa ditutupi dari hasil penjualan makanan tradisional tersebut dengan angsuran sekitar Rp115 ribu per bulan. Setelah modal bertambah usaha keripik pisang dalam sehari bisa mengolah sebanyak 10 tandan sementara singkong yang dikerjakan dengan cara manual dan digoreng manual masih menghasilkan keripik sekitar 100 kilogram.

Proses distribusi dari hasil kerajinan pangan olahan tersebut dilakukan oleh sepupunya yang mengantarkan hasil makanan tradisional tersebut ke warung warung setiap seminggu sekali. Berbagai jenis makanan yang dibungkus dengan plastik dengan satu pak berisi 20 bungkus dijual seharga Rp8 ribu per pack dan dijual eceran di warung warung desa dan juga di warung sekolah.

Selain permintaan dari warung warung lokal, ia  memenuhi permintaan dari sejumlah warung di Provinsi Banten di antaranya keripik pisang dan keripik singkong. Permintaan yang cukup banyak tersebut menurut Hamroh terkadang membuatnya kewalahan terutama dengan keterbatasan alat pengolahan yang masih menggunakan sistem manual.

"Idealnya alat penggorengan sudah menggunakan sistem vakum tapi karena alat yang cukup mahal belum bisa kami beli dan kami gunakan manual dan bahan bakar kayu,"ucapnya.

Kendala pengolahan makanan ringan yang masih menggunakan cara manual tersebut, selain masih mampu memproduksi dalam jumlah sedikit juga karena keterbatasan modal. Ia berharap ke depan dengan rajin menabung dan mampu membeli peralatan yang lebih bagus sehingga produksinya bisa lebih banyak dan saat ini fokus hasil penjualan digunakan untuk melunasi pinjaman.

Meski sebagai usaha kecil menengah, pembuatan produk makanan hasil pertanian tersebut menurut Hamroh menjadi penopang perekonomian bagi keluarganya. Ia bahkan mengaku meski hanya menekuni bisnis pembuatan makanan tradisional hasil pertanian namun ia mampu  menguliahkan anaknya menjadi seorang bidan. Pemberdayaan kaum ibu di desanya juga saat ini masih kurang mendapat dukungan meski kelompoknya sering diikutkan dalam berbagai perlombaan usaha kecil menengah oleh pemerintah daerah namun perhatian dalam bentuk peralatan dan permodalan masih minim.

Sementara itu Camat Kecamatan Penengahan, Lukman Hakim, mengungkapkan terus mengingatkan kepada kepala desa untuk mempergunakan anggaran dana desa dalam upaya pemberdayaan kaum perempuan. Selain mengembangkan potensi desa yang ada diantaranya hasil pertanian, pemberdayaan kaum perempuan dengan pembuatan makanan tradisional dapat didorong dengan membentuk badan usaha milik desa (Bumdes) simpan pinjam dengan bunga lunak. Meski demikian masih sedikit desa yang memanfaatkan dana desa untuk pembentukan koperasi simpan pinjam yang bisa memberi solusi bagi UMKM yang kesulitan permodalan dan enggan meminjam di bank bank konvensional dengan syarat yang cukup sulit.

Jurnalis: Henk Widi/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Henk Widi
Bagikan:

Irvan Sjafari

Berikan Komentar: