KAMIS, 1 DESEMBER 2016
YOGYAKARTA---Kepala Bagian Hukum dan Humas Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Sardjito, Yogyakarta, Trisno Heru Nugroho, mencemaskan ratusan penderita HIV AIDS (Orang dengan HIV AIDS/ODHA) yang tidak mau berobat dan menjalani konseling. Pasalnya, ODHA yang tak mau berobat dan menjalani konseling bisa saja berperilaku tidak aman atau berpotensi menularkan.

Jumlah penderita HIV AIDS di DI Yogyakarta tahun ini meningkat signifikan. Jika pada tahun 2015 terdapat 1.766 ODHA dengan rincian laki-laki sebanyak 1.124 dan perempuan sebanyak 642 orang, di tahun 2016 ini meningkat menjadi 2.057 orang dengan rincian 1.349 laki-laki dan 708 perempuan. Data tersebut merupakan data pasein HIV AIDS yang pernah atau tercatat di RSUP Dr. Sardjito, sehingga sangat dimungkinkan jumlah ODHA di seluruh wilayah DI Yogyakarta masih jauh lebih besar lagi.

Trisno Heru Nugroho, Kabag Hukum dan Humas RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta.
"Jika ditambah dengan data lain dari pasien yang berobat di rumah sakit lain, mungkin jumlah ODHA di Yogyakarta bisa mencapai 5.000 orang. Dan, ini pun hanya fenomena gunung es, sehingga jumlah sesungguhnya juga masih dimungkinkan lebih besar lagi," jelas Trisno Heru Nugroho, saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (1/12/2016).

Ironisnya, dari pasien HIV AIDS yang ditangani RSUP Dr. Sardjito, berasal dari berbagai latar belakang profesi. Mulai dari mahasiswa, dosen atau pengajar di perguruan tinggi negeri, Pegawai Negeri Sipil (PNS), aparat, pegawai swasta dan banyak lagi. Sementara dari segi usia, rata-rata penderita juga dalam usia produktif antara 25-50 tahun.

Menurut Heru, hal yang lebih memprihatinkan lagi adalah dari jumlah ODHA pada tahun 2016 yang ditangani RSUP Dr. Sardjito, yaitu 2.057 orang, sebanyak 251 di antaranya tidak tertib berobat. Bahkan, beberapa di antaranya menghilang begitu saja setelah diketahui positif HIV.

"Penderita yang menghilang atau tidak meneruskan proses pengobatan dan konseling ini yang dikhawatirkan bisa berpotensi menyebabkan penularan, karena kurangnya edukasi," ujar Heru.

Heru mengatakan lagi, meski HIV AIDS tak bisa disembuhkan, namun dengan menjalani pengobatan yang teratur bisa memperpanjang usia. Hal demikian terbukti dengan adanya satu pasien HIV AIDS yang telah mengidap sejak usia 50 tahun, namun hingga kini di usia 70 tahun masih rutin berobat dan relatif kondisi kesehatannya terjaga.

"Kita harus lebih terbuka terhadap kasus HIV AIDS ini, agar upaya pencegahan bisa dilakukan dengan baik. Tidak ada alasan bagi pengidap HIV AIDS untuk tidak berobat. Selain bisa lebih memperpanjang usia, juga mencegah penularan yang lebih luas lagi," pungkasnya.

Jurnalis: Koko Triarko / Editor: Satmoko / Foto: Koko Triarko


Bagikan:

Satmoko Budi Santoso

Berikan Komentar: