JUMAT, 2 DESEMBER 2016
TUBAN---Akibat tingginya curah hujan dan meluapnya Sungai Bengawan Solo, 2.262 hektar sawah di 29 desa di Kabupaten Tuban terendam banjir.

"Ke-29 desa tersebut tersebar di lima kecamatan yakni Kecamatan Soko, Rengel, Plumpang, Widang dan Parengan," jelas Kalaksa Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tuban, Joko Lidiyono saat dihubungi Cendana News, Jumat (2/12/2016). Jumlah sawah yang terendam paling banyak terdapat di Desa Kenongosari Kecamatan Soko, seluas 263 hektar.

Kondisi rumah warga yang terendam banjir.
Menurutnya, selain sawah, lahan pertanian yang ikut terendam berupa tegal, seluas 322 hektar dari 15 desa di empat kecamatan (Soko, Rengel, Plumpang, dan Widang).

"Tidak hanya itu, berdasarkan data per 1 Desember 2016 luapan Sungai Bengawan Solo juga mengakibatkan 5.672 rumah, 67.565 jalan, 28 sekolah, 8 masjid dan 20 musholla di lima kecamatan tersebut ikut terendam," ungkapnya.

Kondisi sekolah yang terendam banjir.
Sementara itu, Kasi Kedaruratan BPBD Tuban, Yoyok.A.Fahmi mengatakan, kondisi Tinggi Muka Air (TMA) di dua lokasi pos pantau di Bojonegoro dan Babat berstatus siaga merah. Sedangkan status pos pantau di Karangnongko di bawah siaga.

Petugas BPBD setempat menyisir wilayah yang kebanjiran.
"Di pos pantau Bojonegoro TMA pada pukul 06.00 WIB hari ini tercatat 15.15 dan mengalami kenaikan pada pukul 09.00 WIB menjadi 15.18. Kemudian di pos pantau Babat TMA juga mengalami kenaikan pada pukul 06.00 WIB setinggi 08.63, pada pukul 09.00 WIB menjadi 08.64. Sedangkan di pos pantau Karangnongko TMA mengalami penurunan, dari yang awalnya pada pukul 06.00 WIB setinggi 27.93 menjadi 27.47 pada pukul 09.00 WIB," terangnya.

Petugas BPBD, aparat kepolisian, TNI, dan warga bahu membahu mengatasi banjir.
Ia menyampaikan, selain mendirikan tenda dan dapur umum di halaman depan kecamatan, BPBD juga menyiapkan perahu karet untuk mengangkut masyarakat di daerah terisolir yang melakukan aktivitas. Kawasan terisolir tersebut di antaranya Desa Karangtinoto, Ngadirejo, dan Kanorejo.

"Di tiga kawasan yang terisolir tersebut, masyarakat yang ingin menjalankan aktivitasnya seperti berangkat sekolah maupun kerja, kita angkut menggunakan perahu karet dari BPBD Tuban," pungkasnya.

Jurnalis: Agus Nurchaliq / Editor: Satmoko / Foto: BPBD Tuban
Bagikan:

Satmoko Budi Santoso

Berikan Komentar: