JUMAT 2 DESEMBER 2016

MAJALENGKA---Kunjungan Komisi IV DPR RI ke Desa Sukamulya, Kecamatan Sukajati, Kabupaten Majalengka, Kamis (1/12/2016) menjadi kunjungan tak terduga tanpa protokoler penyambutan. Hal itu dipilih untuk mendapatkan gambaran sebenarnya atas kericuhan alih fungsi lahan yang terjadi antara pemerintah provinsi Jawa Barat, Pemkab Majalengka dan warga Desa Sukamulya untuk kepentingan pembangunan BIJB (Bandar Udara Internasional Jawa Barat).

Wakil Ketua Komisi IV, Titiek Soeharto sedang menanggapi sengketa lahan Desa Sukamulya dengan pemerintah provinsi Jawa Barat terkait pembangunan BIJB.
Komisi IV DPR RI yang berkunjung terdiri dari Wakil Ketua Siti Hediati Soeharto atau juga disapa Titiek Soeharto, Wakil Ketua Herman Khaeron dan Anggota Oo Sutisna. Kedatangan tersebut diantar oleh Ketua HKTI (Himpunan Kerukunan Tani Indonesia) Kabupaten Majalengka, Boy Supanget Ketua KTNA (Kontak Tani Nelayan Andalan) Kabupaten Majalengka, Otong Rustam Petani sekaligus penduduk asli Desa Sukamulya untuk kemudian diterima oleh Kepala Desa Sukamulya Nono Darsono beserta seluruh warga di balai desa.

Kericuhan yang terjadi baru-baru ini antara aparat keamanan gabungan dari unsur TNI/Polri dengan warga Desa Sukamulya dipicu turunnya 5.000 orang aparat untuk mengawal pengukuran tanah oleh petugas BPN di wilayah Desa Sukamulya. Pengukuran serta pengawalan dihadang oleh warga dengan membakar ban bekas, kayu-kayu dan ranting yang diserakkan di jalan, serta usaha-usaha lain dari warga karena merasa pengukuran tanah yang dilakukan belum sepenuhnya mewakili kata setuju dari warga.

Petugas dari unsur Kepolisian diduga bertindak terlalu represif sehingga menyisakan trauma bagi warga desa khususnya wanita dan anak-anak. Dari siang hingga sore hari, tak hentinya aparat kepolisian dengan pasukan dalmas menembakkan gas air mata sehingga wanita serta anak-anak di desa terpaksa diungsikan ke luar dari desa untuk sementara waktu.

"Ini bukti-bukti nyata selongsong gas air mata yang kami kumpulkan di lapangan," ungkap Nono Darsono, Kepala Desa Sukamulya sambil menunjukkan satu peti kecil selongsong gas air mata yang dimaksudkan.

Nono Darsono melanjutkan bahwa kekuatan negara ada pada petani yang kuat juga. Petani Desa Sukamulya adalah petani-petani pekerja keras dan penghasil padi berjuta-juta ton sejak lama. Dengan demikian penggusuran paksa dengan jalan intimidasi pengukuran tanah yang dikawal aparat sampai 5.000 orang dianggap usaha terstruktur pemerintah untuk melakukan pemiskinan di Desa Sukamulya.

Tuturnya lagi warga memang ditawarkan ganti rugi. Lahan kami diganti sebesar Rp86.000-200.000 per meter. Sedangkan untuk beli lahan baru  pada harga Rp400-500  ribu rupiah dipastikan warga  tidak sanggup. Akan tetapi titik permasalahannya hanya sampai di sana.  Pada keadaan serta kenyataan  mereka harus meninggalkan lahan produktif yang sudah sejak lama menjadi sandaran hidup untuk mengolah lahan baru dari awal lagi.

"Kalau begitu caranya, kami tidak butuh bandara itu. Tanpa bandara tersebut kami sudah hidup nyaman dan sejahtera selama ini. Lalu saat bandara itu hadir maka kami melarat. Apakah itu adil untuk kami?" tekan Nono lagi.

Menanggapi kericuhan yang sempat terjadi, maka Wakil Ketua Komisi IV, Titiek Soeharto menyatakan keprihatinan mendalam. BIJB memiliki tujuan baik serta untuk kesejahteraan warga juga, akan tetapi hendaknya warga disosialisasikan dengan baik dan benar dari jauh-jauh hari.

"Tidak bisa juga hanya melihat sisi ganti rugi secara sepihak sebagai jalan keluar terbaik. Dialog harus dilakukan dengan sebaik-baiknya dari jauh-jauh hari agar tidak terjadi salah faham berujung kericuhan yang akhirnya seolah menindas warga," ucap Titiek Soeharto.

Menurut para warga Desa Sukamulya, mereka memang sudah sejahtera dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan mereka sampai bisa membangun Pasar Desa secara swadaya tanpa bantuan sepeserpun dari pemerintah, Sekolah Taman Kanak Kanak, Sekolah Dasar dan Madrasah. Tapi sekarang guru-guru di sana sudah pindah karena diduga mendapat perintah dari aparat pemerintah daerah. Bahkan Puskesmas sudah dipindah dari Desa Sukamulya.

"Sekalian saja mumpung kami berkumpul di balai desa saat ini, pemerintah bom saja kami, supaya mati semua. Jangan ditindas perlahan dengan memindahkan semua guru bahkan Puskesmas," keluh Nurdiansyah, seorang warga dihadapan Titiek Soeharto dan rombongan Komisi IV DPR RI.

Keluhan Nurdiansyah berhubungan erat dengan keterangan Boy Supanget, Ketua KTNA (Kontak Tani Nelayan Andalan) Kabupaten Majalengka kepada Cendana News di dalam kendaraan bahwa ketika rombongan Komisi IV DPR RI datang, ia meminta Korlantas Pengawalan atau siapapun untuk tidak menggunakan sirine dan klakson menakutkan karena warga masih trauma.

Padahal, Desa Sukamulya adalah satu-satunya desa di wilayah Kecamatan Sukajati yang sudah menghasilkan seorang profesor yang nota bene adalah anak petani. Belum terhitung juga guru-guru, dosen dan tentunya hasil bumi bagi kebutuhan pangan nasional. Namun warga Sukamulya merasa tidak dianggap karena sejak 2004 tidak pernah disosialisasikan terkait kegunaan BIJB. Bahkan BIJB yang dikelola oleh pihak swasta tidak mau mempekerjakan warga desa.

Warga Desa Sukamulya semakin sakit hati dan merasa ada yang tidak beres dengan proyek pembebasan lahan untuk BIJB karena adanya oknum-oknum pengembang yang mendompleng di proyek BIJB untuk pengadaan lahan bangunan rumah bagi penduduk yang mendapat ganti rugi pembebasan lahan. Rumah contoh yang terbuat dari atap seadanya di atas lahan-lahan kosong sekarang dinamakan warga sebagai " Rumah Hantu " karena tidak ada yang mau menghuninya.

"Dialog yang dibangun dengan warga tidak baik. Sehingga sosialisasi tidak sampai seluruhnya kepada penduduk. Hal ini tidak betul. Oleh karena itu, semua warga saya harap bersabar dan berdoa, semoga upaya kami mendiskusikan permasalahan Desa Sukamulya dengan pemerintah provinsi Jawa Barat dapat berujung keberhasilan serta keadilan buat bapak serta ibu semua," pungkas Titiek Soeharto.

Selongsong gas air mata yang digunakan aparat membubarkan  wanita warga Desa Sukamulya.
 Jurnalis: Miechell Koagouw/Editor: irvan Sjafari/Foto: Miechell Koagouw


Bagikan:

Irvan Sjafari

Berikan Komentar: