Ini Strategi Tanam Cabai Versi TNI di Papua

56

RABU, 11 JANUARI 2017

KEEROM — Tingginya harga cabai di Indonesia, bahkan di wilayah paling timur Papua yang  tembus Rp 120 ribu per kilogram, tak menyurutkan upaya petani maupun kalangan lainnya untuk berusaha mencari celah pengurangan dampak tersebut.

Letkol Inf Horas Sitinjak, akrab dengan petani di Distrik Senggi dan menularkan ilmunya soal kiat menanam padi ala TNI.

Salah satu contoh yang patut ditiru seperti petani di Distrik Senggi yang dibina secara langsung oleh Satuan Tugas (Satgas) Pengaman Perbatasan (Pamtas) RI-PNG Yonif Raider 700 Wira Yudha Chakti di bawah pimpinan Letnan Kolonel Infanteri Horas Sitinjak.

Ia mengaku, ada strategi khusus yang harus dilihat saat menanam cabai, mulai dari perkiraan tumbuh dan setiap bulan bagaimana perkembangan cuaca yang menerpa lokasi atau wilayah tersebut.

Langkah pertama yang dilakukan, dijelaskan Horas, menyiapkan media tanah yang cukup subur dan sebelum menanam bibit cabai, tanah dicampur dengan pupuk kandang lalu dibiarkan selama tiga hingga empat hari.

“Ini bertujuan agar pupuk kandang menyatu dengan tanah secara utuh,” demikian dijelaskan Letkol Inf Horas Sitinjak di Senggi, Keerom, Papua, Rabu (11/01/2017).

Kedua, lingkungan tanah sekitar tanaman harus bersih. Intinya, kata Horas, petani harus rajin membersihkan rumput liar. “Ini bertujuan agar pertumbuhan bibit cabai tak diganggu dengan rumput liar,” ujarnya.

Buah cabai yang terkena hama dan mulai membusuk, lanjutnya, jangan dibiarkan batangnya jatuh di sekitar tanaman cabai tersebut. “Ini akan menularkan ke buah cabai yang masih bagus. Selain itu setiap pagi dan sore sudah pasti wajib disiram,” katanya.

Ponirah, salah satu warga transmigran yang berdomisili di Distrik Skanto, Kabupaten Keerom, mengaku, melonjaknya harga cabai di Kota Jayapura, diperkirakan karena sebagian besar petani sedang alami kegagalan panen cabai.

“Bukan karena tidak subur, melainkan cuaca yang ekstrem, hujan disertai angin kencang juga akibatkan cabai banyak yang jatuh. Masih banyak pula petani yang saat ini baru menanam bibit cabai,” kata Nirah sapaan akrabnya.

Jurnalis: Indrayadi T Hatta / Editor: Satmoko / Foto: Indrayadi T Hatta

Komentar