RABU, 11 JANUARI 2017

BANJARMASIN --- Toko roti Min Seng yang berkelir kombinasi kuning, oranye, dan hijau itu berdiri tepat di ujung Jalan Pangeran Samudera, Kota Banjarmasin. Dari balik kaca di lantai dua toko roti Min-Seng, senapan tiba-tiba menyalak hingga peluru tajam menembus dada aktivis muda bernama Hasanuddin H Madjedi ketika melintas di depan toko. Suara tembakan membuat ribuan massa kocar-kacir seraya berteriak takbir. Pria muda yang masih mengenakan topi Unlam itu tewas bersimbah darah setelah puluhan aktivis mengevakuasi Hasanuddin HM ke Balai Pengobatan Muhammadiyah.

Toko roti Min Seng yang jadi saksi bisu atas penembakan aktivis Hasanuddin HM.
Toko roti legendaris ini pun menjadi saksi bisu atas peristiwa kelam dan heroik akibat demonstrasi besar-besaran ribuan mahasiswa yang menuntut Tritura di Banjarmasin pada 10 Februari 1966 silam. Selain Hasanuddin, satu aktivis bernama Bahrudin juga tertembus timah panas di bagian bahu. Tapi, nasib Bahrudin lebih mujur karena nyawanya masih tertolong. Kedua aktivis muda asal Universitas Lambung Mangkurat itu kebetulan tengah berada di barisan depan seraya membawa spanduk bertuliskan: “Kami Bangsa Indonesia, Pilih Hidup Atau Mati.”

Tulisan pada spanduk itu agaknya garis nasib bagi Hasanuddin H Madjedi yang akhirnya menyudahi hidup setelah timah panas menembus dadanya. “Kalau hidup berarti menuruti antek-antek komunis. Penembaknya itu tentara baret hitam kiriman dari Kodam Diponegoro,” kata adik kandung Hasanuddi Madjedi sekaligus saksi sejarah peristiwa itu, Hj Rusminah, kepada Cendana News, Rabu (11/1/2017). 

Dalam aksi Tritura di Banjarmasin, Rusminah dan suaminya, H. Sairoji Rojat, kebetulan ikut berdemonstrasi menuntut Pemerintahan Presiden Soekarno membubarkan Partai Komunis Indonesia, turunkan harga-harga kebutuhan pokok, dan perombakan kabinet dari antek komunis. Rusminah mengakui, demonstrasi Tritura mahasiswa di Banjarmasin telat satu bulan daripada aksi serupa di Jakarta pada 10 Januari 1966.

“Kami melihat kondisi rakyat semakin susah, di mana-mana antrean beli beras, minyak goreng, gula. Harga sembako cepat berubah dalam sehari saja, pokoknya sangat memprihatinkan. Alhamdulillah semua perguruan tinggi di sini bersatu menuntut Tritura,” kata Rusminah.

Hasanuddin saat itu baru menyandang status mahasiswa persiapan tingkat 1 Fakultas Ekonomi Unlam. Dia aktivis organisasi ekstra Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia cabang Unlam.

Ada pun Rusminah, menyandang status yang sama tapi sebagai mahasiswa Fakultas Hukum Unlam. Menurut Rusminah, ribuan mahasiswa Unlam bertolak dari kampus utama di Jalan Lambung Mangkurat dan kini bersalin sebagai kantor Bank Mandiri Cabang Banjarmasin, menuju titik kumpul di lapangan Merdeka. Di sana, ribuan massa mahasiswa dari puluhan kampus turut bergabung menuntut Tritura. Lapangan Merdeka masa kini berubah jadi bangunan Masjid Sahbilal Muhtadin di pusat Kota Banjarmasin.

Makam Hasanuddin HM satu kompleks dengan Pangeran Antasari.
Massa semula berorasi di hadapan Gubernur Kalimantan Selatan, Aberani Sulaiman, Rektor Unlam Milono, dan Kasdam Mulawarman Kolonel Sutopo Yuwono. Beres menyampaikan aspirasi,  ribuan massa mahasiswa kemudian long march menuju titik demonstrasi berikutnya, menuntut Tritura di kantor Konsulat Jenderal Republik Rakyat Tjina (RRT). Bangunan ini sekarang bersalin rupa jadi markas satuan Ajenrem 101/Antasari di Jalan Pierre Tendean. Di depan konsulat Tiongkok, mahasiswa mendesak Presiden Soekarno memenuhi tuntutan Tritura.

“Tiongkok kan negeri komunis dan Presiden Soekarno dianggap antek komunis, jadi harus membersihkan antek-antek komunis di kabinetnya. Awalnya aksi berjalan damai, tapi pegawai konsulat dan polisi bersikap kasar terhadap mahasiswa,” kata Rusminah menceritakan ulang kejadian tersebut. Walhasil, kerusuhan pun pecah yang memaksa ribuan mahasiswa kocar-kacir di bawah guyuran hujan deras.

Terdesak sikap represif aparat, massa bergeser kembali ke titik utama berkumpul di Lapangan Merdeka. Pergeseran demonstran melewati Jembatan Dewi. Di ujung jembatan itu, polisi dan tentara memecah konsentrasi massa menjadi dua kelompok. Barisan massa yang dipimpin Hasanuddin Madjedi memilih rute Jalan Ujung Murung - Pangeran Samudera- Lambung Mangkurat. Ada pun kelompok massa yang lain melintasi jalan protokol yang saat ini bernama Jalan Hasanuddin HM - Lambung Mangkurat.

“Saya dan suami lewat Jalan Hasanuddin HM itu sekarang ini. Saya baru tahu Hasanuddin tertembak setelah tiba di kampus Unlam,” kata Rusminah sambil dibenarkan oleh Sairoji Rojat. Menurut Rusminah, para mahasiswa senior berada di belakang spanduk yang dibawa Hasanuddin HM dan Bahrudin. “Makanya enggak tertembak, tapi sebagian ditahan polisi,” Rusminah berujar.

Sairoji Rojat menambahkan, tekad Hasanuddin HM kala itu memang sedang menggelora setelah mendapat tempaan mental dari para seniornya. Kata Rojat, mahasiwa senior biasanya menguji mental adik kelas lewat peloncoan. “Saya juga habis dipelonco, jadi masih semangat. Sama senior kan harus nurut,” ujar Rojat.

Gelombang demonstrasi terus berlanjut setelah pecah kerusuhan dengan kematian Hasanuddin HM. Selain elemen mahasiswa, para pelajar ikut menyuarakan tuntutan Tritura di Banjarmasin. Toh, rentetan aksi demonstrasi tak mengubah kondisi dalam waktu singkat. “Lama sekali harga-harga kebutuhan baru turun, mungkin setahun setelah aksi demonstrasi,” kata Rusminah.

Pihak mahasiswa dan keluarga menuntut pengungkapan dalang di balik kematian Hasanuddin HM. Tapi seiring waktu berjalan, keluarga tak kunjung mendapat kepastian proses hukum atas kematian Hasanuddin HM. “Orang tua sudah mengikhlaskan,” kata wanita sepuh itu.

Hasanuddin HM lahir dari pasangan suami istri bernama H. Ahmad Madjedi dan Hj. Sahrul Bahriah. Hasanuddin HM anak kedua dari delapan bersaudara. Rusminah sendiri anak ketiga alias adik kandung dari Hasanuddin HM.

Sehari sebelum demonstrasi, mengutip tulisan Syarifuddin Ardasa dalam blog pribadinya, Hasanuddin H. Madjedi antusias mendengar rencana para seniornya seperti Mas Abi Karsa, Gusti Rusdi Effendi, Yusriansyah Aziz, Djok Mentaya dan lainnya akan bertolak menggelar demonstrasi. Hasanuddin lekas meminta izin bapaknya, H. Ahmad Madjedi. Mereka tinggal di Jalan Batu Piring, nomor 21, Kota Banjarmasin.

“Bah…hari ini ulun handak umpat demo. Mun sudah demo ni bah…harga baras wan gula turunan,” kata Hasanuddin HM kepada H. Ahmad Madjedi seperti ditulis Syarifuddin Ardasa. Saking semangatnya, Hasanuddin HM berkali-kali bercermin dan membenarkan sisiran rambutnya. Selesai urusan bercermin, ia siap berangkat mengenakan baju baru warna krim muda hasil pemberian kakaknya Hj. Siti Rubiah.

“Aku ingat banar, waktu itu kain tetoron masih langka di Banjarmasin. Jadi Asan kubuatkan baju hanyar dan dipakainya waktu handak demo,” jelas Hj. Siti Rubiah yang kini telah mangkat. Siti Rubiah merupakan kakak kandung Hasanuddin HM.

Setelah merasa mantap, pemuda kelahiran Desember 1945 siap berangkat. Toh Siti tetap dibayangi firasat buruk menjelang keberangkatan Hasanuddin.  Ketika ingin menaiki sepeda ontel, tiba-tiba pegas dudukan sadel sepedanya patah. “Asan bebulik ke dalam rumah, bepada wan Abah mun per dudukan sepedanya patah. Tapi abah menyahuti, kira-kira sudah jabuk  jua kalo nak. Kena ai diganti,” kisah Siti Rubiah.

Tapi Rusminah berkata, ”Hasanuddin naik sepeda berboncengan dengan Gusti Abdurrahman menuju kampus.”

Mengutip pengakuan dari eksponen 66 asal Unlam, Yusriansyah Azis, Syarifuddin Ardasa menulis aksi demonstrasi Tritura di Banjarmasin justru ada dua tuntutan lain: stabilkan harga dan adili tengkulak atau cukong sembako. Yusriansyah Aziz  mengatakan, lumpuhnya perekonomian berdampak ke situasi politik yang kacau setelah ada campur tangan Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia (PKI) di Banjarmasin. Di blog itu, Ardasa menulis sejumlah pentolan aktivis 66 melihat indikasi ini terekam dari propaganda siaran Radio Swasta Viking Hsinhua di Pecinan (sekarang Jl. Pierre Tendean).

“Hampir setiap hari, radio ini menyuarakan cerita propaganda dengan paham komunis. Di malam hari, mereka kerap menggelar pertunjukan teater dan nyanyian-nyanyian untuk menghimpun massa,” kata Yusriansyah Aziz, bekas dosen ekonomi Unlam.

Pemerintah yang kala itu menerapkan standar ganda legalitas kewarnegaraan Indonesia dan Tiongkok turut memicu kecemburuan warga lokal. Kecurigaan aktivis angkatan 66 Banjarmasin memuncak terhadap eksistensi Gerakan 30 S/PKI di Kalsel, setelah Ketua Partai Komunis wilayah Kalimantan Selatan, Aman Hanafiah, mendesak Panglima Kodam Mulawarman Amir Mahmud agar masuk Dewan Revolusi bentukan Kolonel Untung.

Pemerintah juga mengadu domba keberadaan organisasi mahasiswa ekstra kampus lewat isu aktivis KAMI yang dituding anti revolusi dan penolakan mahasiswa terhadap paham komunis yang direspon negatif pemerintah. Serentetan peristiwa ini membuat mahasiswa dan pelajar di Banjarmasin turun ke jalan pada 10 Februari 1966.

“Jumlahnya ada sekitar 15 ribuan orang saat itu. Mereka berasal dari sekitar 16 organisasi mahasiswa, pelajar dan kemasyarakatan, kecuali GMNI yang tidak ikut,” kata Yusriansyah Azis.

Adik kandung Hasanuddin H Madjedi, Hj Rusminah dan suami, H Sairoji Rojat.
Jasad Hasanuddin HM dibawa ke Rumah Sakit Daerah Ulin, Kota Banjarmasin. Menurut Rusminah, keluarga sangat terpukul atas kematian Hasanuddin. Para rekan aktivis dan pejabat turut berkumpul di RSUD Ulin. Pemerintah pusat akhirnya menobatkan sosok Hasanuddin HM sebagai Pahlawan Amanat Pembelaan Rakyat (AMPERA) dari Banjarmasin. Jenazahnya disemayamkan di Taman Makam Pahlawan bersisian dengan Pangeran Antasari.
Jurnalis: Diananta P. Sumedi / Editor: Satmoko / Foto: Diananta P. Sumedi



Bagikan:

Satmoko Budi Santoso

Berikan Komentar: