Lezatnya Sate Pecel Sinta Khas Semarang di Tugu Api Pancasila TMII

45
MINGGU, 8 JANUARI 2017

JAKARTA — Taman Mini Indonesia Indah — Berakhir pekan di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) terasa belum lengkap jika belum singgah melepas lelah sejenak di Lapangan Tugu Api Pancasila TMII. Tepat di depan Sasono Langen Budoyo, sisi parkir selatan, pepohonan tampak rimbun seolah mengajak setiap pengunjung TMII untuk duduk di bawahnya. Pedagang asongan resmi TMII yang berseragam, tampak hilir-mudik menawarkan dagangan, seperti layang-layang kertas TMII, minuman ringan, boneka barbie, layang-layang pesawat berbahan stereofoam dan berbagai cemilan lain.
Sinta, pedagang Sate Pecel Sinta di Tugu Api Pancasila TMII.
Selain para pedagang tersebut, ada juga yang menjajakan jamu tradisional, pecel bumbu kacang dan tidak lupa direct sales beberapa merk makanan maupun minuman ternama ikut menjajakan produk pabrikan andalan masing-masing. Dari semua itu, ada seorang pedagang yang menjajakan makan siang mengundang selera, yakni Sate Pecel bumbu kacang dari Semarang, Jawa Tengah. Nama pedagang itu, Sinta, dan dagangannya dikenal dengan Sate Pecel Sinta Khas Semarang.
Dari sekian banyak pedagang pecel bumbu kacang di TMII, hanya Sinta yang menjual sate ayam. Sajian menu Sinta adalah lontong, pecel sayuran (tauge, kangkung, daun singkong, bayam dan kol), gorengan, sate ayam, sate hati ampela ayam, sate kepala ayam dan tentunya bumbu kacang. Tetapi, bukan berarti semua disajikan dalam satu paket, melainkan pembeli bisa memilih antara memesan lontong pecel atau lontong sate. Nama Sate Pecel Sinta juga bukan mewakili paket menu sajian, tetapi bahwa hanya Sinta satu-satunya pedagang yang menjual sate bersamaan dengan pecel di TMII.
Sate buatan Sinta cukup akrab di lidah para pelanggannya. Ia membuat sate ayam dengan cara melumuri bahan baku sate dengan bumbu kacang dan kecap sebelum dibakar. Begitu pula dengan sate hati ampela ayam dan sate kepala ayam buatannya. Namun, khusus untuk hati ampela ayam dan kepala ayam, Sinta akan merebusnya terlebih dahulu dengan bumbu racikan rahasia agar gurih, baru kemudian dilumuri bumbu kacang sebelum kemudian dibakar layaknya makanan sate pada umumnya.
Sate Pecel Sinta siap dinikmati.
“Saya rebus terlebih dahulu agar empuk dan ada rasa gurih. Dan, ternyata pelanggan sangat menggemari masakan saya. Boleh dikatakan semakin akrab di lidah pelanggan, sehingga mereka kerap mencari sate buatan saya jika kebetulan berakhir pekan atau mengunjungi taman mini pada hari tertentu,” tutur Sinta, saat ditemui Cendana News.
Harga yang dipatok Sinta tidak terlalu mahal. Sepuluh tusuk sate ayam lengkap dengan satu buah lontong dan bumbu kacang hanya dijualnya seharga Rp. 15.000. Sedangkan sate hati ampela ayam dan sate kepala ayam dijualnya satuan dengan harga Rp. 5.000 per tusuk. Sedangkan untuk pecel sayur ditambah lontong dan gorengan, Sinta menjualnya seharga Rp. 10.000 satu porsinya. Namun untuk pemesanan atau pilihan tertentu dari pelanggan, harga bisa berubah sesuai kesepakatan.
“Kalau sate ayam dan pecel bisa juga beli dengan harga tujuh ribu rupiah, tapi khusus sate kepala ayam dan sate hati ampela ayam harga sudah tetap, lima ribu rupiah per tusuk,” tambah Sinta.
Bumbu kacang ramuan Sinta cukup enak dan gurih dan ada resep khusus yang membedakan bumbu kacang untuk sate dengan bumbu kacang untuk pecel. Ramuan bumbu kacang untuk sate tidak menggunakan kencur, sedangkan bumbu kacang untuk pecel menggunakan kencur sebagai salah-satu bahan ramuan. Sinta juga menghindari berbuat curang dengan mencampur oncom ke dalam bumbu kacang.
“Ada pedagang yang sengaja mencampur oncom ke dalam bumbu kacang untuk menghindari membeli kacang terlalu banyak, karena harga kacang tanah itu mahal. Saya tidak mau, karena itu akan mempengaruhi rasa bumbu kacang saya,” ujar Sinta.
Jika pembeli ramai dan dagangannya laku, Sinta bisa meraup omset Rp. 500.000, dengan keuntungan bersih sekitar Rp. 200-300.000 untuk ditabung. Keuntungan itu digunakannya untuk membiayai anaknya di Semarang, sekaligus untuk modal masa depan sekolah anak-anaknya. Suami Sinta sendiri berada di Semarang dan berdagang seperti yang dilakukannya di Jakarta. 
Sinta berdagang setiap hari di TMII mulai pukul 13.00 WIB hingga menjelang pukul 17.00 WIB. Senin hingga Jumat, Sinta hanya berdagang sate ayam, sedangkan khusus untuk Sabtu-Minggu dan tanggal merah libur nasional, ia melengkapi dagangannya dengan pecel sayuran. Namun, tetap saja pelanggan mengenal dagangannya dengan Sate Pecel Sinta Khas Semarang.

Jurnalis : Miechell Koagouw / Editor : Koko Triarko / Foto : Miechell Koagouw

Komentar