RABU, 11 JANUARI 2017

Bulan Maret 2015 menjadi kenangan mendalam bagi Sefriyanti, salah satu anggota Tabur Puja Posdaya Melati 1, Bukit Duri, Jakarta Selatan. Pada tarikh waktu itulah, untuk pertama kalinya, perempuan berusia 49 tahun ini berkesempatan mendengar tentang Program Simpan Pinjam Tabur Puja (Tabungan Kredit Pundi Sejahtera) Yayasan Damandiri. 

Sefriyanti
Dengan kesempatan adanya pinjaman modal tersebut, terlintas seketika dalam benak Sefriyanti untuk berjualan Tupperware (merk kondang bagi berbagai peralatan rumah tangga, terbuat dari plastik, produksi Amerika Serikat sejak 1946). “Ibu Budiarti dan Ibu Titin, pengurus Posdaya Melati 1 yang memberi kesempatan kepada saya,” kata Yanti, pada 10 Januari 2017 lalu. 

Ibu rumah tangga yang akrab disapa Yanti ini memulai usaha jualan Tupperware, bersamaan dengan keikutsertaannya dalam Simpan Pinjam Tabur Puja (Tabungan Kredit Pundi Sejahtera) Yayasan Damandiri, Posdaya Melati 1 RW 011 Bukit Duri, Jakarta Selatan. Berkat Damandiri, waktu luang Yanti di rumah menjadi produktif dengan aktivitas bisnis.

Memulai Bisnis Tupperware dengan Pinjaman Dua Juta Rupiah

Dengan pinjaman sebesar Rp 2.000.000 dari Yayasan Damandiri, Yanti mendaftar sekaligus belanja tupperware. Yanti pun mendapat katalog seharga 900 ribu rupiah dari Tupperware. Dalam menjual tupperware, Yanti dibantu berbagai rekan dan tetangganya. Laris manislah dagangan Tupperware Yanti. Para konsumen percaya kepada Yanti. Apalagi, konsumen boleh membayar dengan tempo dan  pembagian diskon sesuai kesepakatan.

Dengan arus kas yang lancar dari usaha dagangannya, pinjaman Tabur Puja putaran pertama Yanti dapat terbayar dengan baik. Bahkan, Yanti mendapatkan kembali pinjaman kedua sebesar 3 juta rupiah dari Tabur Puja. Omzet bisnis Yanti meningkat berkat tambahan modal.

Selain menjual kepada rekan dan tetangga, Yanti juga menjual tupperware di sekolah, kantor swasta, maupun instansi pemerintah. Pada proses pinjaman yang ke dua, Yanti konsisten lancar dalam angsuran. Kepercayaan Damandiri terhadap Yanti semakin tebal.

Tanpa ragu, Yayasan Damandiri meningkatkan lagi jumlah pinjaman kepada Yanti pada putaran ketiga sebesar empat juta rupiah. Barang dagangan Tupperware bisa semakin banyak dibeli. Kelancaran penjualan Tupperware Yanti membuat pihak distributor Tupperware menawari pengambilan barang dengan jatuh tempo pembayaran selama 1 bulan. Tapi, Yanti memilih menggunakan dana pribadi saja. Yanti tak ingin ada beban.

Dengan tidak berhutang kepada Tupperware, Yanti menjadi pemegang kontrol utama dalam berbelanja, menentukan keuntungan, dan bebas dari tekanan siapa pun. Itulah prinsip dagang dari Yanti, agar usahanya selalu diberi kelancaran.

Selain Tupperware, Bercita-cita Membuka Usaha Pecel Lele

Bagi Yanti, menjaga hubungan baik sangat penting dalam bisnis. Karena, setiap pengusaha pasti memiliki impiannya sendiri-sendiri. Impian Yanti dalam bisnis, yaitu ingin melebarkan sayap usaha yang selama ini berjalan maupun usaha baru yang sedang direncanakan. Selain berbisnis Tupperware, ibu muda asal Palembang ini berencana membuka usaha Pecel Lele dan Pecel Ayam di luar Bukit Duri.

Yanti sudah memperkirakan, dana yang dibutuhkan untuk membuka usaha Pecel Lele mencapai 10 juta rupiah untuk melengkapi berbagai peralatan yang dibutuhkan. Antara lain Rombong (gerobak–red), kursi, meja, tenda, serta peralatan lainnya. Ketika pinjaman Tabur Puja putaran ketiga selesai akhir 2017, pinjaman ke putaran selanjutnya bisa lima juta rupiah. Jika masih kurang sebagai modal,  kedua anak Yanti akan menambahi. Rencana ini sudah didiskusikan oleh Yanti bersama anak-anak dan suaminya.

Sebagai anggota Tabur Puja Posdaya Yayasan Damandiri, keistimewaan Yanti sebagai pengusaha adalah ketekunan yang luar biasa dalam memberdayakan dana pinjaman. Kesuksesan Yanti, tentu tak lepas dari kukuhnya dalam menegakkan prinsip-prinsip usaha yang menjadi filter baginya dalam menentukan langkah ke depan.

Barang dagangan Sefriyanti peralatan rumah tangga merk Tupperware.
Saat ini, omzet perputaran tupperware Yanti berkisar 4-5 juta rupiah dalam satu bulan. Dari keuntungan itu, 30 persen adalah laba bersih keuntungan Yanti. Selain itu, dari poin pembelanjaan Tupperware, Yanti juga mendapat keuntungan berupa bonus tambahan barang dari perusahaan Tupperware, karena jumlah penjualannya selalu meningkat. Semakin tebal kantong Yanti dari penjualan Tupperware, tentu akan terus semakin naik jumlah pinjaman Yayasan Damandiri. 
Jurnalis: Miechell Koagouw / Editor: Thowaf Zuharon / Foto: Miechell Koagouw





Bagikan:

Satmoko Budi Santoso

Berikan Komentar: