SABTU, 7 JANUARI 2017

MAUMERE --- Warga Dusun Wolomude dan Baolaka, Desa Teka Iku, Kecamatan Kangae, Kabupaten Sikka, hingga kini masih mengandalkan air hujan sebagai konsumsi sehari-hari, akibat tidak adanya jaringan air bersih di desanya. Meski demikian, sebagian besar warga yang berprofesi sebagai petani, telah menganggapnya sebagai sebuah kewajaran, karena telah berlangsung secara turun-temurun sejak zaman nenek-moyangnya.
Dusun Wolomude di Kabupaten Sikka.
Mantan Kepala Desa Teka Iku, Laurentius Vensi, saat ditemui di Dusun Wolomude, Sabtu (7/1/2017), mengatakan, rata-rata rumah warga di Desa Teka Iku letaknya berjauhan satu sama lain, dan semuanya pasti memiliki bak penampung air di rumahnya. Air hujan yang mengalir di atap rumah beratap seng akan mengalir di talang air dari seng atau bambu, yang langsung dihubungkan dengan bambu, pipa plastik atau talang plastik ke bak penampung di sebelah rumah.

“Di setiap bak itu, kami akan pasang kran air supaya bisa digunakan untuk mengambil air, tapi kalau hujan biasanya air kami tampung di ember juga,” terangnya.

Bila musim panas, jelas Vensi, warga terpaksa membeli air dari mobil tanki air ukuran 5.000 liter seharga Rp. 250-300.000. Biasanya, pembelian air dilakukan saat ada pesta di rumah. “Jadi, hujan bagi warga di sini dianggap berkah, sebab warga tidak harus membeli air bersih lagi dan sudah menjadi warisan turun temurun bagi warga mengkonsumsi air hujan,” tuturnya.

Kepala sekolah SDK Wolomude, Egenius Efendi pun mengatakan hal senada. Menurutnya, sekolahnya pun memiliki sebuah bak penampung air hujan yang berada persis di samping bangunan sekolah. Bak yang terlihat berlumut itu sudah dibangun puluhan tahun. “Kalau tidak ada bak penampung air hujan, tentu kami tidak mampu membeli air bersih, sebab anggaran kami terbatas,” ungkapnya.
Bak penampung air hujan milik warga Desa Teka Iku.
Setiap rumah warga di Desa Teka Iku memiliki bak penampung air hujan, sama seperti di beberapa wilayah di Kabupaten Sikka yang berada di daerah pegunungan yang tidak memiliki mata air. Hampir semua bak berumur di atas 20-an tahun, bahkan ada yang sudah mencapai 30 tahun dan terlihat berlumut. Bak air yang dibangun ini berukuran tinggi hingga mencapai 4 meter dan kebanyakan berbentuk bulat.

Bagian atas bak air terdapat lubang yang dipakai untuk memasukan talang air dan bambu. Lubang berdiameter sekitar 50 centimeter ini juga bisa digunakan untuk menimba air.
Jurnalis : Ebed De Rosary / Editor : Koko Triarko / Foto : Ebed De Rosary
Bagikan:

Berikan Komentar: