SELASA, 10 JANUARI 2017

YOGYAKARTA --- Momen 10 Januari biasa diperingati sebagai Hari Tritura atau Tiga Tuntutan Rakyat. Tritura merupakan sebuah peristiwa ketika berbagai unsur mahasiswa didukung elemen masyarakat menggelar aksi besar-besaran turun ke jalan untuk menggulingkan rezim Presiden Sukarno yang dinilai telah melenceng dari dasar negara yang dianut bangsa Indonesia kala itu. Mahasiswa menuntut tiga hal, yakni pembubaran Partai Komunis Indonesia (PKI), perombakan Kabinet Dwikora, dan penurunan harga sembako. Peristiwa itu terjadi pada 1966 silam, setelah peristiwa berdarah pemberontakan PKI atau juga dikenal dengan G-30S/PKI.

Aktivis mahasiswa BEM DIY yang juga penggerak Aliansi BEM setanah air,  Zainudin Arsyad.
Kini, tepat 51 tahun berlalu, kondisi negara dan bangsa Indonesia dinilai tak jauh berbeda. Kenaikan sejumlah tarif mulai dari BBM, tarif pajak kendaraan, tarif dasar listrik, hingga harga kebutuhan pokok sembako seolah mengulang sejarah yang sama. Tepat pada peringatan Tritura hari ini, sejumlah mahasiswa di Yogyakarta, kembali turun ke jalan, menyuarakan suara rakyat yang semakin menderita, sebagaimana terjadi berulang-ulang puluhan tahun silam.

"Kondisi sekarang ini tak jauh berbeda dengan kondisi tahun 1966 silam. Saat itu berbagai elemen mahasiswa di seluruh wilayah tanah air turun ke jalan untuk menyuarakan hati rakyat yang menginginkan perubahan. Pemerintahan rezim Sukarno dinilai telah melenceng dari konstitusi dasar negara. Begitu juga saat ini. Pergeseran ideologi terasa begitu nyata. Harga kebutuhan pokok naik semua, sehingga semakin menyengsarakan rakyat," ujar salah seorang aktivis mahasiswa BEM DIY yang juga penggerak Aliansi BEM Setanah Air, Zainudin Arsyad, Selasa (10/1/2017).

Zain menyebut, paham atau ideologi Indonesia saat ini sudah semakin melenceng dari dasar negara Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945. Ideologi maupun perekonomian Indonesia saat ini dianggap telah begitu nyata diarahkan mengikuti negara China. Maka diperlukan upaya-upaya untuk meluruskan kembali, salah satunya dengan sebuah gerakan perubahan yang dimotori mahasiswa.

"Sekarang ini penggeseran ideologi bangsa begitu nyata. Ideologi dan ekonomi diarahkan ke China. Ini jelas sudah melenceng dari dasar konstitusi bangsa Indonesia. Terlebih saat ini juga banyak terjadi kekacauan di mana-mana. Banyak gelombang perpecahan dan konflik masyarakat terjadi. Sudah saatnya mahasiswa bergerak, " ujarnya kepada Cendana News.

Menurut mahasiswa UMY ini, peristiwa Tritura membuktikan, sejarah gerakan perubahan di Indonesia untuk menumbangkan sebuah rezim atau sistem pemerintahan, selalu dimotori oleh pemuda dan mahasiswa. Bahkan pemuda dan mahasiswa yang selalu menjadi ujung tombak perubahan itu. Bukan unsur militer atau pun unsur masyarakat lainnya.

"Dalam gerakan Tritura tahun 1966, kekuatan militer berada di belakang mahasiswa. Karena jika kekuatan militer yang pada saat itu bergerak, maka yang terjadi adalah makar atau kudeta. Tapi jika yang bergerak itu mahasiswa, berarti itu sudah menjadi kehendak bangsa dan negara," ujarnya.

Tak heran, lanjutnya, setiap gerakan perubahan yang dimotori mahasiswa, sebagaimana terjadi di tahun 1966 ataupun 1998 selalu mendapat dukungan dari berbagai elemen masyarakat. Baik itu masyarakat kecil, militer, tokoh nasional bahkan juga dunia internasional. 

"Gerakan Tritura tahun 1966 silam sangat relevan dilakukan saat ini. Sebelum negara ini menuju kehancuran," ujarnya.
Jurnalis: Jatmika H Kusmargana / Editor: Satmoko / Foto: Jatmika H Kusmargana
Bagikan:

Satmoko Budi Santoso

Berikan Komentar: