65 Persen Tenaga Kerja di Indonesia Masih Lulusan SD dan SMP

0
20

SENIN, 27 MARET 2017

PADANG — Kementerian Tenaga Kerja RI menyebutkan, penyebab lemahnya keterampilan tenaga kerja di Indonesia, karena dari 121 juta tenaga kerja yang ada saat ini, 65 hingga 68 persennya merupakan lulusan SMP dan SD.

Direktur Bina Pemagangan Kementerian Tenaga Kerja, Asep Gunawan

Direktur Bina Pemagangan Kementerian Tenaga Kerja RI, Asep Gunawan mengatakan, hal ini sempat membuat Kementerian Tenaga Kerja galau dalam hal MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN). Karena sejumlah daerah ribut soal tenaga kerja asing, padahal tenaga kerja yang ada di Indonesia masih sangat minim untuk melakukan pekerjaan seperti kemampuan yang dimiliki oleh tenaga kerja asing tersebut.

“Padahal kita telah melakukan MoU tentang MEA ini, sekarang kita yang ribut tentang tenaga kerja asing. Kita kan negara terbuka, jadi buat apa diributkan soal tenaga kerja asing itu,” ujarnya di Padang, yang ditemui usai peresmian kegiatan pelatihan dan pemagangan di Aula Disnakertrans Sumbar di Ujung Gurun Padang, Senin (27/3/2017).

Selain itu Asep juga menyebutkan, penyebab lain yang muncul akibat lemahnya daya saing tenaga kerja di Indonesia ialah di jenjang pendidikan, yakni di sekolah SMK hanya ada 27 persen guru yang produktif untuk mengajarkan para siswanya, sementara sisanya merupakan guru muatan lokal.

“Belum lagi persoalan kelemahan peralatan, ada yang perlatannya tidak mencukup atau memadai dan rusak. Jika hal ini dialami, bagaimana para siswa hendak mempraktekan ilmu yang dipelajarinya, sementara medianya minim,” ungkapnya.

Menurutnya, cara untuk mengantisipasi lemahnya daya saing tenaga kerja Indonesia, yakni melalui Program Pelatihan dan Pemagangan yang dilakukan oleh setiap daerah. Hal itu dikemukannya, karena sistem pelatihan yang diterapkan sangat efektif, karena memberikan pelatihan sesuai dengan latar belakang pendidikan dan keterampilan yang dimiliki.

Di sisi lain, Asep juga berharap Balai Latihan Kerja (BLK) bisa menjambatani para pencari pekerja untuk memiliki keterampilan yang bagus, sebelum mengajukan diri untuk bergabung kesuatu perusahaan. Apalagi pengangguran yang tertinggi itu terjadi hingga saat ini merupakan SMK dan Perguruan Tinggi Politeknik.

“Tentunya kita berharap kepada dunia industri untuk peduli kepada anak negeri agar mendapatkan pekerjaan,” tutupnya.

Jurnalis: Muhammad Noli Hendra / Redaktur : ME. Bijo Dirajo / Foto: Istimewa

Komentar