Ada Posdaya, Warung Kelontong pun Turut Berkembang

149

RABU, 29 MARET 2017

YOGYAKARTA — Jejak Pemberdayaan Yayasan Damandiri — Sore itu, warung Susila Ningsih (42) nampak ramai. Sejumlah pembeli terlihat silih-berganti berdatangan ke warung kelontong milik wanita paruh baya berdarah Kalimantan itu. Dengan bahasa Jawa yang fasih, ia melayani sejumlah anak-anak dusun yang tengah membeli jajanan. “Yang ini Rp1.000. Kalau yang ini Rp500,” ujarnya dengan bahasa Jawa, namun dengan logat Kalimantan yang belum hilang. 

Susila Ningsih tengah melayani pembeli

Warung kelontong milik Susila Ningsih, merupakan salah satu usaha kecil di Dusun Ngijo, Srimulyo, Piyungan, Bantul, yang mendapatkan manfaat langsung program Posdaya Ngijo. Didirikan sejak bertahun-tahun silam, warung sederhana di tengah dusun itu terus berkembang seiring semakin ramai dan majunya Dusun Ngijo.

Ditemui di warungnya, Ningsih yang merupakan warga pendatang di Dusun Ngijo mengaku mulai pindah ke dusun tersebut sejak sekitar 20 tahun silam. Bersama suaminya, ia membuka warung kelontong sebagai usaha sambilan. Sebagaimana usaha pada umumnya, warung kelontong miliknya mengalami pasang surut. “Alhamdulillah, sekarang semakin ramai. Apalagi sejak ada Posdaya. Karena sejak ada Posdaya, banyak kegiatan digelar di sini, termasuk seringnya rombongan dari luar daerah yang datang melakukan kunjungan ke dusun ini,” ujarnya.

Letak warung Ningsih yang berada tepat di tepi jalan desa serta persimpangan gang masuk utama dusun, memang sangat strategis. Selain tepat berada di depan akses masuk ke dusun, di titik itu juga kerap digelar berbagai kegiatan mulai dari penyambutan kunjungan, senam warga, bakti sosial, dan sebagainya. Terlebih lokasinya juga tak jauh dari masjid yang mengalami perkembangan pesat sejak adanya Posdaya Ngijo.

Selain merasakan dampak dari sisi perkembangan dan kemajuan dusun, Ningsih secara langsung juga mendapat manfaat dari program yang dijalankan Posdaya Ngijo. Yakni, dana pinjaman lunak dari Simpan Pinjam Tabur Puja. Ia mengaku mendapat dana pinjaman senilai Rp500.000 untuk tambahan modal usaha. “Tentu, itu sangat membantu, karena bunganya sangat ringan,” ujarnya.

Ningsih memanfaatkan dana pinjaman bergulir itu untuk membeli berbagai barang dagangan mulai dari beras, gula, gandum, hingga bensin dan sejumlah dagangan lainnya. Meski jumlahnya tak terlalu besar, namun pinjaman bisa dilakukan berulangkali selama pinjaman sebelumnya telah selasai dilunasi. “Semoga dana bantuan pinjaman ini bisa terus bergulir dan bertambah besar jumlahnya, sehingga manfaatnya samakin dirasakan warga, khususnya dalam mengembangkan usaha,” katanya, berharap.

Jurnalis: Jatmika H Kusmargana/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Jatmika H Kusmargana

Komentar