Agar Menguntungkan, Sedikitnya Papua Butuh 5 Bioskop

0
19

KAMIS, 30 MARET 2017

JAYAPURA — Terbatasnya jam tayang di bioskop nasional bagi film lokal di Papua, tak sebanding dengan nilai yang dikucurkan dalam produksi pembuatan film itu sendiri dengan nilai penjualan. Artinya, dibutuhkan banyak bioskop di setiap kabupaten dan kota yang ada di Provinsi Papua, agar industri film di Papua bisa bergeliat maju seperti di Makassar.

Irham Acho Bahtiar

Hal ini diungkapkan salah satu sutradara film daerah yang kini namanya kian bersinar di kalangan sutradara nasional, Irham Acho Bahtiar, yang akrab disapa Acho. Ia mengaku, hingga saat ini tema-tema lokal dan pemain lokal yang dikaryakan melalui visual tersebut terhalang jam tayang. “Tetapi itu mungkin agak sulit, karena di film saya terdahulu, ternyata kami hanya diberikan jam tayang yang sangat terbatas. Khusus untuk timur saja, belum nasional,” ungkapkan Acho, penggagas sekaligus sutaradara film Epen Cupen dengan judul ‘Melody Kota Rusa’, produksi Merauke Enterprise Production pada 2010, saat dihubungi Cendana News melalui telepon selulernya, Kamis (30/3/2017).

Acho mencontohkan, rekan-rekannya yang ada di Makassar, Sulawesi Selatan, yang memproduksi film ‘Uang Panai’ juga diberikan penayangan terbatas. Pembatasan itu terlihat, bahwa film daerah tersebut hanya bisa laku di daerahnya, sehingga di tingkat Nasional sedikit dibatasi jam tayangnya. “Di sana (Makassar) dalam satu kota saja bisa 5 bioskop. Dan, mereka juga diberikan tayangan terbatas, karena dianggap film daerah. Sedangkan kami di Papua, hanya satu bioskop saja untuk Papua seluas ini. Ini sebenarnya tak adil, kalau diperlakukan seperti ini,” kata Acho, lulusan Institut Kesenian Jakarta (IKJ) Fakultas Film dan Televisi Jurusan Film, 2000.

Menruut Acho, bila di Papua terdapat 5 bioskop di beberapa kabupaten dan kota, ia sangat yakin produksi film dari daerah tangan pecinta seni di Bumi Cenderawasih Papua dapat berkembang dan bersaing dengan film-film kategori nasional. “Nah, kalau satu bioskop saja, itu tak dapat kembalikan biaya produksi film. Kita tahu, kalau biaya produksi sebuah film itu besar sekali. Jadi, kalaau satu bioskop, sudah pasti ke depannya kita akan takut memproduksi sebuah film,” tuturnya.

Pria yang lahir dan besar di Kota Rusa (Merauke) itu mengaku, saat ini mulai bermunculan film-film komedi  lokal. Sayangnya, masih meniru karya orang lain, bukan hasil dari ide kreatif mereka sendiri. Solusinya, meningkatkan workshop-workshop ke setiap daerah terkait perfilman. “Sejauh ini saya lihat kebanyakan hanya sekedar meniru. Saya sarankan, berkarya jangan meniru, harusnya menciptakan. Karena kalau hanya meniru, kapan majunya? Sehingga memang harus diberikan workshop kepada mereka. Intinya mereka berjalan sendiri tanpa ada yang bimbing,” kata pemilik film dokumenter berjudul ‘Profil Investasi Tanah Papua’ tersebut.

Acho pun telah mengajukan sebuah kegiatan workshop film untuk wilayah Merauke, namun belum ada tanggapan sampai saat ini dari Pemerintah setempat. “Saya ingin supaya dikompetisikan bagi anak-anak sekolah, tapi sebelum kompetisi berlangsung saya akan workshop mereka dulu. Kemudian kita undang juga dari sekolah-sekolah di luar Papua. Setiap daerah di luar sana sudah melakukan hal seperti itu,” katanya.

Satu kasus dicontohkan Acho, bahwa ada salah satu SMA di Merauke yang memiliki kegiatan belajar mengajar ekstra Kurikuler membuat film. Sayangnya, sang pengajar tak mengerti soal perfilman, dan hanya mengambil bahan dari internet. “Kan  hasilnya karya mereka seperti main-main, kalah dengan anak SMP di Jakarta,” ungkapkan Acho.

Sejak 2006-2017, Acho telah mengeluarkan 14 film, di antaranya Filmografi sebanyak 11 film dan Dokumenter sebanyak 3 film. Salah satu yang terkenal di tingkat lokal, yakni ‘Melody di Kota Rusa’ dan untuk tingkat Nasional ‘Security Ugal-Ugalan’ pada 2017, produksi MD Pictures, ‘Molulo Jodoh Tak Bisa di Paksa’ produksi DCU Production dan Rumah Semut Film pada 2007 serta Sinetron Komedi di sebuah televisi nasional berjudul ‘Epen Cupen’ the series pada 2016 produksi MNC Pictures sebanyak 60 episode.

Jurnalis: Indrayadi T Hatta/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Indrayadi T Hatta

Komentar