Ahli Listrik Ini Menjadi Sastrawan Terkenal di Papua

75

SELASA, 21 MARET 2017

JAYAPURA — Igir Al-Qatiri itulah nama satu-satunya sastrawan  Papua yang telah membukukan namanya ke tingkat Nasional bahkan Internasional. Siapa yang tahu kalau pria berambut gondrong ini ahli di bidang kelistrikan.

Igir Al-Qatiri saat serius membaca buku.

Igir Al-Qatiri, pria yang identik dengan sepatu siang malam warna warni ini menjadi teknisi listrik sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Neger 3 Kotaraja. Pada  saat itu tahun 1993, sekolah tersebut dikenal dengan nama Sekolah Teknologi Menengah (STM) satu-satunya di Papua.

Berangkat dari keluarga berekonomi rendah ayahnya bernama Muchsin Mursalin (Alm) bin Husain bin Syekh Usman Lahmadi Al-Qatiri asal Ternate keturuan Cina Arab yang bekerja serabutan telah wafat tahun 2007 lalu, dirinya tak mau mengecewakan ayahnya sebagai tulang punggung keluarganya saat itu.

Dari situlah dirinya berupaya membantu kehidupan keluarganya dengan mencari nafkah sepulang sekolah sebagai teknisi listrik. Dengan kasih sayang ibunya Khadijah Arfan Khari asal Sorong, Raja Ampat, Papua Barat yang kini masih berada dalam satu atap rumahnya, membuat dirinya tak patah arang mencari rezeki.

“Saya anak nomor dua, anak pertama perempuan. Otomatis saya yang menjadi tulang punggung  keluarga saya. Saat saya sudah lulus, Abah  (ayah/bapak) bilang kamu harus cari kerja dan membiayai adik-adikmu,” kata Igir yang kini telah mengeluarkan 23 buku karya sastranya.

Di perjalanan sejak dirinya kerja sebagai teknisi listrik dari kelas 1 STM saat itu, ia terkenal dengan sebutan Ilham.  Namun pria gado-gado campuran Papua, Ternate, Cina dan Arab ini memiliki nama asli Irham Muchsin Al Qatiri. Awalnya nama Ilham itu saat dirinya bekerja pada seorang pengusaha asal China yang tak bisa sebutkan huruf ‘R’ sehingga dirinya dipanggil Ilham.

“Nama Ilham di kalangan pengusaha di Papua mereka tahu, saya tukang listrik.Tapi kalau nama Igir sebagian banyak yang tahu karena karya-karya sastra termasuk sastrawan tingkat Nasional bahkan Internasional,” kata pria gondrong suka makan papeda itu.

Selama dirinya bekerja teknisi listrik di Tanah Papua, hampir seluruh bangunan-bangunan megah di Kota Jayapura adalah buah karya teknisi yang ia torehkan. Begitu juga masjid-masjid serta kantor pemerintahan provinsi Papua bahkan Pemda Kota Jayapura pun menjadi bagian dari sejarah kelistrikannya.

“Kini saya fokus di bidang sastra, hanya satu keinginan yang belum tercapai. Saya ingin anak-anak Papua mencintai dunia sastra untuk mengangkat Papua ke tingkat nasional hingga internasional,” kata Igir.

Sejak 2 SD Igir sudah bisa menulis surat cinta. Teman-teman di SMP dan STM sering memintanya menulis surat ijin atau surat sakit.  Dia menulis sejak 2005. Hingga saat ini telah 1.731 puisi ciptaannya yang belum sempat ia bukukan sampai saat ini, ditambah dengan koleksi buku-bukunya pun lebih dari seribu buku  karya sastra di dalam rumah Polimak III, Jayapura Selatan, Kota Jayapura.

“Tahun 2016 saya berinisiatif merangkul semua pecinta sastra, sehingga saya dirikan Pilamo Aksara salah satu komunitas sastra di Papua,” ujar Igir sambil memegang tas nokennya.

Dirinya termotivasi dari Kahlil Gibran sastrawan terkenal dalam sejarah literasi dunia sastra, dari situlah ia terus dan terus mengasah talenta terpendamnya dengan menuangkan inspirasi dari kehidupan sosial Tanah Papua.

“Kita tahu bahwa Tuhan Yesus terkenal dengan Injilnya,Muhammad dengan Alqurannya dan Kahlil Gibran terkenal dengan karya sastra. Si Gibran inilah sebagai pusat motivasi saya,” tutur kelahiran Jayapura 27 Mei 1975.

Buku yang paling kontroversial di Papua dirilis pada  2011, Menelusuri Jejak Langkah Sang Legenda Black Brothers. Karya itu paling dibenci namun yang paling dicari hingga saat ini.

“Karya itu sudah digunakan sebagai bahan referensi oleh beberapa mahasiswa di universitas yang ada di Papua bahkan di luar Papua untuk skripsi dan tesis mereka,” ujarnya

Buku Black Brothers tersebut digarapnya sejak 2006 hingga  2011 diterbitkan sebanyak 7000 buku dan dalam waktu tak sampai setahun buku tersebut laris manis dipasaran. “Buku itu menjadi panggilan buat grup legendaries Black Brother masuk kembali ke Indonesia pada 2014  dan mengadakan show di Jakarta saat hadiri pernikahan anak laki-laki dari Amry Kahar salah satu personil Black Brother,” kata Igir.

Sastrawan yang mempunyai karya novel, puisi, prosa, cerpen dan pantun itu mengakui bukan orang asli Papua, namun lahir dari rahim anak asli Papua. Pria bertubuh ramping itu lahir besar dari badai penolakan, karyanya ibarat angin yang akan memperak-porandakan ketidak mampuan dari diri sendiri.

“Saya tak mewarisi tubuh yang kokoh laksana orang-orang asli di Papua. Mereka bisa angkat pamplet berdemo, saya tak pernah bisa seperti mereka, karena tubuh saya tak kokoh ketika berbenturan dengan arogansi aparat. Saya lebih memilih menulis tentang ketidakberpihakan terhadap orang-orang kecil di Papua, karena dengan begitu sesungguhnya saya buat revolusi perubahan bagi Papua,” tuturnya.

“Keindahan Papua, laksana wajah bumi yang memantulakn kedamaian surga. Tugas seorang seniman hanyalah melihat kemudian mengungkapkannnya diatas kanvas karya. Jika ia tak mampu melakukannya ia tak panas dibilang seniman. Ia hanyalah sang pecundang yang bersembunyi dibalik topeng seni.” Igir Al-Qatiri

Igir Al-Qatiri di Mata Sahabatnya

Edmon Pattipeilohy mengenal Igir Al-Qatiri tahun 2011 lalu saat penulis tersebut bersama rekan-rekannya membedah buku ‘Menelusuri Jejak Langkah Sang Legenda Black Brothers’ di  gedung Fakultas Bahasa dan Sastra Inggris di Universitas Papua (Unipa) Manokwari, Papua Barat.

“Dia orangnya bersahaja, kritis yang tajam tapi tutur katanya indah, dan sangat puitis. Sikapnya sendiri tak sombong terhadap teman yang baru dia kenal,” kata Edmon lulusan dari Unipa Manokwari itu.

Sahabat-sahabat Igir Al-Qatiri, dari kiri Vonny Aronggear, Andre Liem dan Edmon Pattipeilohy.

 Senada hal itu, penyair perempuan pertama di Papua, Vonny Aronggear mengakui sepak terjang Igir Al-Qatiri dalam menulis sebuah karya sastra. “Igir ini salah satu motivator saya untuk terus berkarya didunia syair. Dan pastinya saya dapat salurkan keanak-anak murid saya di sekolah,” kata Vonny Aronggear, guru Geografi di Sekolah Menang Pertama (SMP) Negeri 2 Jayapura.

Andre Liem, yang juga sahabat dari dari penulis tersebut menyebutkan bahwa Igir bagaikan magnet otodidak yang lahir secara alamiah yang dapat implementasikan karyanya mirip seperti Khalil Gibran dan dalam setiap tutur dan baik dari pada kata demi kata dari puisi yang ia ciptakan.

“Kekuatan hembusan angin dari segala penjuru ruang hampa, di situlah seorang Al Qatiri lahir bagi seorang bayi terlahir polos. Dalam jiwa yang penuh makna,” kata Andre Liem yang kesehariannya sebagai pecinta lingkungan.

Igir, penyair atau pun sastrawan asal Papua berdarah campuran itu yang paling produktif dalam sejarah literasi dunia sastra di Papua ini, sering berkolaborasi dengan para sastrawan atau pun penyair dalam dan luar Papua, bahkan luar negeri.

Selain buku berkaitan dengan  sejarah Black Brothers, ia telah mengeluarkan buku Cinta Bergerimis Dusta (Novel), Lonceng Kematian (Novel), Retak Retak Cinta (Novelit), Potret Buram Seniman Papua (Antologi Puisi), Festival Perasaan (Antologi Puisi), Doktrin Penyejuk Jiwa (Antologi kata-kata Mutiara).

Jurnalis: Indrayadi T Hatta/Redaktur: Irvan Sjafari/Foto: Indrayadi T Hatta

Komentar