Aksi Peduli Kendeng, Seniman Klaten Ritual Tujuh Mata Air

62

JUMAT, 31 MARET 2017

SOLO — Aksi solidaritas untuk pejuang wanita di Kedeng, Rembang, Jawa Tengah, Yu Patmi yang meninggal dunia dalam memperjuangkan petani Kendeng, masih terus digelorakan. Di Klaten, Jawa Tengah, aktivis peduli lingkungan menggelar aksi solidaritas dengan cara ritual mengambil air dari 7 sumber mata air. 

Pengambilan air dari tujuh mata air

 “Kenapa tujuh (7), ini sebagai  simbol pitulungan atau pertolongan untuk sesama umat manusia. Karena almarhumah Ibu Patmi merupakan sosok pejuang perempuan untuk lingkungan, tak hanya Kendeng, tapi seluh Indonesia,” ucap Koordinator Aksi Agung Bakar kepada awak media, di sela aksi, Jumat (31/3/2017).

Tak hanya mengambil air dari 7 mata air, peserta aksi gabungan itu juga berjalan kaki sejauh 7 kilometer. Setelah mengambil air menggunakan kendi, aksi ini berjalan dengan jalan kaki menuju padepokan Puser Jagad, yang berada di dukuh Koripan, Desa Kranggan, Kecamatan Polanharjo, Klaten.

“Setelah sampai di Padepokan, kita gelar doa bersama untuk keselamatan aktivis lingkungan lainnya, maupun almarhumah Ibu Patmi,” jelas dia.

Aksi peduli Kendeng yang dikemas dalam ritual itu tak lain sebagai bentuk protes kepada pemerintah, yang terus melakukan eksploitasi alam Indonesia. Bahkan, pemerintah seakan-akan menutup mata dengan ancaman bencana yang akan ditimbulkan dengan eksploitasi alam.

“Berbagai  kondisi mengerikan kerusakan alam telah banyak diperlihatkan. Seperti  lumpur Lapindo, Sidoarjo, Jawa Timur, kerusakan alam akibat Freeport  serta berbagai tambang yang ada di Kalimantan, dan lain sebagainya. Jika saat ini belum terlihat, tunggu 10 atau 20 tahun kedepan, kerusakan alam akan menimbulkan bencana,” ungkap Agung.

Meinggalnya Bu Patmi dalam memperjuangkan masyarakat Kendeng, agar pabrik semen tidak beroperasi hanya sebagian kecil potret dari aktivis lingkungan lainnya di Indonesia. Dengan berbagai upaya, aktivis lingkungan akan terus menyuarakan menolak proyek eksploitasi alam.  Ada harapan agar pemerintah dan seluruh lapisan masyarakat untuk menjaga dan melindungi alam agar tetap baik.

“Sudah saatnya kita merangkai kebersamaan, baik kawan-kawan yang ada di Klaten maupun di manapun berada untuk menjaga lingkungan. Harapannya dengan 7 mata air dapat menyatu menjadi kekuatan spritual bersama untuk menggugah kesadaran kita bersama. Yakni tetap menjaga lingkungan, baik udara maupun tanah,” pungkasnya.

Solidaritas Kendeng, aktivis lingkungan berjalan 7 kilometer.

 Jurnalis: Harun Alrosid/Redaktur: Irvan Sjafari/Foto: Harun Alrosid 

Komentar