Andi Narogong Bawa Uang Ratusan Ribu Dolar Amerika Saat Ditangkap KPK

64

JUMAT, 24 MARET 2017

JAKARTA — Andi Agustinus alias Andi Narogong sebelumnya diberitakan telah ditangkap dan diamankan petugas KPK di sebuah kafe di kawasan Tebet, Jakarta Selatan. Kemudian petugas KPK langsung mengembangkan penyelidikan dengan membawa yang bersangkutan menuju rumah kediamannya yang terletak di kawasan Cibubur, Jakarta Timur, Kamis malam (23/3/2017).

Wakil Ketua KPK Basaria Padjaitan

Pada Kamis malam atau sekitar pukul 22:00 WIB, dengan pengawalan ketat petugas KPK, Andi Narogong tampak terlihat tiba di Gedung KPK Jakarta. Andi Narogong selanjutnya langsung menjalani pemeriksaan selama 1×24 jam. Saat ini Andi Narogong sedang menjalani masa penahanan sementara selama 20 hari di Rumah Tahanan (Rutan) KPK Jakarta.

“Petugas KPK berhasil menyita dan mengamankan beberapa barang bukti antara lain berupa uang tunai senilai 200 ribu Dolar Amerika (USD) pada saat menangkap tersangka AA (Andi Agustinus), selain itu petugas KPK juga mengamankan beberapa barang bukti elektronik lainnya” jelas Juru Bicara KPK Febri Diansyah   kepada wartawan di Gedung KPK Jakarta, Jumat (24/3/2017).

Sementara itu, Wakil Ketua KPK Basaria Pandjaitan sebelumnya sempat menjelaskan kepada wartawan di Gedung KPK Jakarta, bahwa tersangka Andi Agustinus alias Andi Narogong tersebut selama ini diduga banyak mengetahui terkait seputar proyek pengadaan Kartu Tanda Penduduk (KTP) yang berbasis elektronik atau e-KTP.

Keterangan dan informasi yang diperoleh Andi Agustinus terkait dengan proyek KTP Elektronik sangat penting artinya bagi penyidik KPK. Nama Andi Agustinus alias Andi Narogong sempat disebut-sebut oleh tersangka Irman dan juga tersangka Sugiharto dalam persidangan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta.

Dengan tertangkapnya Andi Narogong, KPK berharap bahwa proses pengungkapan kasus perkara dugaan penggelembungan anggaran ” dalam proyek e-KTP tersebut semakin terang dan jelas. Berdasarkan perkiraan KPK, proyek pengadaan e-KTP tersebut diduga telah merugikan keuangan yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara senilai 2,3 miliar rupiah.

Jurnalis: Eko Sulestyono/Redaktur: Irvan Sjafari/Foto: Eko Sulestyono

Komentar