Angkut Lumpur, Cara Kota Banjarmasin Peringati Hari Air

97

RABU, 22 MARET 2017
 

BANJARMASIN — Ratusan orang menceburkan diri ke dalam endapan lumpur di Sungai Teluk Dalam, Jalan Soetoyo S, Kota Banjarmasin, Rabu pagi (22/3/2017). Memanfaatkan tanggul yang terbuat dari anyaman bambu, peserta bahu-membahu mengangkut lumpur dari dasar sungai ke bak dump truk yang terparkir di bahu jalan.

Suasana peringatan Hari Air Sedunia di Banjarmasin.

 Peserta terdiri dari 400 orang yang dibagi ke dalam 40 kelompok. Satu kelompok diisi 10 orang peserta. Panitia membuat sekat-sekat arena lomba angkut lumpur bagi setiap kelompok peserta. Mereka mesti mengangkut lumpur cuma di dalam batas tali sekat yang ditentukan panitia.

Sorakan saling bersahutan di sela peserta. Keriuhan menjelang siang itu salah satu agenda memperingati Hari Air se-Dunia di Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Tahun 2017, Pemerintah Kota Banjarmasin menggelar lomba angkut lumpur di Sungai Teluk Dalam. Alhasil, peserta harus belepotan lumpur ketika menceburkan diri ke dasar sungai.

“Saya ingin membersihkan sungai dari kotoran sekalian lumayan dapat uang lelah,” ujar seorang peserta Afdiannoor di sela mendulang tumpukan lumpur.

Panitia menyiapkan duit tunai bagi pemenang I, II, dan III. Adapun peserta yang gagal meraih juara, panitia tetap memberikan duit lelah sebesar Rp100 ribu per orang. Peserta berasal dari instansi pemerintahan dan masyarakat umum. Pemkot Banjarmasin melibatkan TNI-AD sebagai juri untuk menghitung berapa banyak bobot lumpur yang diangkut setiap kelompok peserta.

Kepala Bidang Sungai Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Kota Banjarmasin, Joko Pitoyo, mengatakan ajang lomba angkut lumpur sebagai momentum pengingat bahwa warga Kota Banjarmasin mesti menjaga lingkungan sungai. Menyandang predikat Kota Seribu Sungai, Joko prihatin melihat sebagian kondisi sungai-sungai penuh sampah rumah tangga di Kota Banjarmasin.

“Banyak sungai-sungai dangkal karena sedimentasi lumpur dan sampah, ini akibat aktivitas rumah tangga. Dengan lomba ini, kami ingin menyadarkan masyarakat pentingnya menjaga kebersihan sungai,” ujar Joko Pitoyo.

Pemkot Banjarmasin telah mencatat ada 102 sungai yang membelah wilayah Kota Banjarmasin. Sebagian anak-anak sungai malah tertutup beton-beton bangunan akibat gencarnya pembangunan fisik yang mengabaikan kearifan lokal. Padahal, Kota Banjarmasin identik sebagai daerah berbasis budaya sungai.

Untuk menyelamatkan fungsi sungai, Joko kerap merevitalisasi dan normalisasi sungai-sungai di Banjarmasin.

“Saya harap masyarakat Banjarmasin lebih peduli terhadap budaya sungai. Sungai bukan hanya sebagai sarana transportasi saja, tapi sungai harus bisa bermanfaat untuk pariwisata dan ekonomi,” kata Joko.

Jurnalis: Diananta P Sumedi/Redaktur: Irvan Sjafari/Foto: Diananta P Sumedi

Komentar