Bagi Manusia Jawa, Tanaman adalah Saudara

75

MINGGU, 26 MARET 2017

YOGYAKARTA — Bagi manusia Jawa, tanaman bukan sekedar tanaman. Selain merupakan salah satu mahkluk Tuhan, manusia Jawa juga menganggapnya sebagai saudara seumur hidupnya. Tak heran, manusia Jawa sejak dulu selalu memberikan penghormatan dan penghargaan yang tinggi kepada tumbuhan. 

Sastrawan Iman Budhi Santosa tengah membacakan puisi dalam acara peluncuran bukunya ‘Suta Naya Dhadhap Waru’ 

Apapun jenis tanaman, baik itu jati, beringin atau sekedar rerumputan, memiliki kandungan nilai-nilai yang dapat dijadikan pelajaran kehidupan. Alang-alang, misalnya, meski sering dianggap tanaman gulma hingga kerap disisihkan, diinjak dan dibasmi, namun ia tetap dapat selalu bertahan hidup, tumbuh kembali dan tak pernah mati.

Tak heran, jika manusia Jawa memuliakan dan memberikan penghormatan kepada ilalang, dengan menjadikannya sebagai sebuah nama desa. Salah satunya sebuah desa di daerah Jogoroto, Jombang, yakni Desa Alang-alang, Caruban. “Kalau kita renungkan dan kita teliti, ada banyak pelajaran yang sebenarnya bisa kita ambil dari tanaman. Sejak dahulu, leluhur kita juga sudah mengajarkan kita untuk memuliakan tanaman. Buku ini mengajak setiap pembaca memelihara akar-akar itu,” beber sastrawan, Iman Budhi Santosa, dalam peluncuran bukunya ‘Suta Naya Dhadhap Waru, Manusia Jawa dan Tumbuhan’, di Taman Budaya Yogyakarta, pekan ini.

Iman menyebutkan, setidaknya ada 324 nama tumbuhan yang dijadikan nama dusun di sebanyak 3.400 daerah di wilayah DIY, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Pohon Jati, Maja, Tanjung, Jambe, dan Beringin merupakan nama-nama tumbuhan yang paling banyak dijadikan sebagai nama desa, oleh para leluhur bangsa Jawa. “Kenapa muncul penamaan seperti itu? Silahkan diteliti. Yang pasti, leluhur kita telah mewarisi hal itu,” ujarnya.

Di Yogyakarta, banyak daerah yang disebut atau dinamai dengan nama pohon atau tanaman. Namun, sayang tak semua generasi saat ini mengetahui sejarah tersebut. Kawasan Muja-Muju, misalnya, berasal dari nama pohon berbatang besar, yakni pohon Muja-Muju. Begitu pula kawasan Timoho, yang juga berasal dari nama pohon Timoho, yang pada zaman dahulu sering dimanfaatkan untuk gagang dan warangka keris.

“Sangat memalukan, tidak ada nama Mangir di Yogyakarta. Begitu juga Mentaok. Semua terjadi penghapusan. Bahkan, Jalan Gayam diganti dengan Jalan Bung Tarto. Apa salahnya dengan Pohon Gayam? Apa kurang bagus? Di Bojonegoro dan Cirebon, Pohon Gayam itu dijadikan sebagai identiatas kota, karena mereka tahu berdasarkan penelitian sejak zaman Belanda, Gayam merupakan pohon pencegah polusi nomor 1,” kata Iman.

Budayawan Emha Ainun Nadjib yang juga hadir dalam acara tersebut, mengatakan, Buku ‘Suta Naya Dhadhap Waru” karya Imam Budhi Santosa, merupakan buku yang dilahirkan oleh seorang manusia yang memiliki kelengkapan sebagaimana Tuhan maksudkan, saat awal proses penciptaan manusia. Yakni, manusia yang memiliki kejernihan dalam memandang segala sesuatu tanpa dikotori oleh kekotoran zaman.

“Buku ini jelas mempermalukan UGM, dan semua universitas yang ada. Buku ini juga mempermalukan semua doktor-doktor dan profesor. Karena buku ini seharusnya ditulis sebagai penelitian S3 dan butuh waktu yang lama. Tapi, saya tidak heran, karena Mas Imam ini bukan saja begawan atau pandita, tapi adalah empu yang lebih tinggi tingkatannya,” ujar Cak Nun.

Jurnalis: Jatmika H Kusmargana/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Jatmika H Kusmargana

Komentar