Bambang Irianto Diperiksa KPK Sebelum Berangkat ke Lapas Medaeng

49

SELASA, 21 MARET 2017

JAKARTA — Bambang Irianto yang tak lain adalah Wali Kota Madiun, Jawa Timur, saat ini kembali menjalani pemeriksaan oleh penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK() di Gedung KPK Jakarta, Jalan Kuningan Persada, Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa siang (21/3/2017).

Bambang Irianto masih menjalani pemeriksaan di dalam Gedung KPK.

Setelah menjalani pemeriksaan di Gedung KPK Jakarta, rencananya Bambang Irianto hari ini juga  dijadwalkan langsung diberangkatkan ke Surabaya, Jawa Timur. Setibanya di Surabaya. Bambang Irianto selanjutnya langsung dibawa ke Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Medaeng, Surabaya.

Wali Kota Madiun non aktif Bambang Irianto kembali diperiksa sebagai tersangka dalam 3 kasus perkara dugaan penyalahgunaan jabatan dan penyelewengan anggaran dalam kasus perkara dugaan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), kasus suap (gratifikasi) dan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU).

Sementara itu Juru Bicara KPK Febri Diansyah menjelaskan kepada para awak media terkait dengan pemeriksaan terakhir yang dilakukan penyidik KPK sebelum tersangka Bambang Irianto dilimpahkan ke Pengadilan Negeri (PN) Kota Surabaya dan menjalani masa penahanan di Lapas Medaeng Surabaya.

“Tersangka BI (Bambang Irianto) hari ini sedang menjalani pemeriksaan oleh penyidik KPK di Gedung KPK Jakarta, BI diperiksa sebagai tersangka dalam kasus perkara dugaan penerimaan suap (gratifikasi) dalam protek pembangunan Pasar Besar Madiun (PBM) Madiun, Jawa Timur. Setelah pemeriksaan selesai, rencananya BI akan segera diberangkatkan ke Surabaya,” kata Febri Selasa siang, (21/3/2017).

Sebelumnya diberitakan, penyidik KPK menduga bahwa Bambang Irianto selama ini telah menerima sejumlah uang atau aliran dana dari berbagai Satuan Kerja Pemerintah Daerah (SKPD) dan juga pemberian yang berasal dari pihak lainnya. Bambang Irianto diduga telah menerima uang suap (gratifikasi) diperkirakan mencapai 50 miliar rupiah.

Jurnalis: Eko Sulestyono/Editor: Irvan Sjafari/Foto:Eko Sulestyono

Komentar