Bersama Posdaya, Usaha Mandiri Bisa Lebih Berdaya

JUMAT, 17 MARET 2017

YOGYAKARTA — Jejak Pemberdayaan Yayasan Damandiri — Upaya pemberdayaan ekonomi warga yang dilakukan Posdaya Sumber Makmur di Kampung Celeban RW 5, Tahunan, Umbulharjo, Kota Yogyakarta, ternyata tak sia-sia. Sejumah pemuda yang semula menganggur atau tak memiliki pekerjaan tetap, bisa mandiri dengan membuka beragam usaha.

Rubiyanto menunjukkan sangkar burung yang sedang dibuatnya.

Salah seorang warga Celeban, RW 05, Rubiyanto, mengaku merasakan betul manfaat dan keberadaan Posdaya Sumber Makmur di kampungnya itu. Melalui kegiatan yang digalakkan oleh Posdaya, lelaki 34 tahun yang semula tidak memiliki penghasilan tetap ini menemukan peluang usaha mandiri yang memang sudah menjadi hobinya, yaitu membuat kurungan atau sangkar burung.

“Sejak dulu saya memang sudah suka menekuni kegiatan yang berhubungan dengan perkayuan. Dulu, sempat mencoba-coba membuat kurungan. Namun, hasilnya kurang bagus. Setelah ada kegiatan pemberdayaan dari Posdaya, saya banyak mendapat pelatihan membuat kurungan yang benar. Bahkan lewat posdaya juga, saya dan warga lainnya bisa mendapat bantuan berupa alat-alat pertukangan,” kata Rubiyanto.

Berawal dari sejumlah pelatihan dan bantuan alat pertukangan  itu pula, Rubiyanto mulai rutin membuat kurungan. Meski masih sebatas usaha kecil-kecilan kelas rumah tangga, namun perlahan ia mulai mendapat penghasilan tambahan. Beberapa kali ia bahkan sudah mampu menjual kurungan buatannya sendiri kepada para penghobi burung, yang tak lain merupakan teman-temannya. “Saat ini usaha pembuatan kurungan yang saya jalankan memang belum bisa benar-benar bisa fokus. Namun, paling tidak saya sudah memiliki bekal ilmu yang cukup untuk menjalankan usaha mandiri, mulai dari proses produksi hingga soal pemasaran. Termasuk memperelah penghasilan tambahan yang secara langsung sudah saya rasakan sendiri,” katanya.

Jaelani, perajin kulit  merasa terbantu dengan adanya Posdaya

Hal senada juga dirasakan oleh Jaelani. Pelaku usaha kerajinan kulit yang juga warga Kampung Celeban RW 5, ini juga merasa cukup terbantu dengan adanya program-program yang dibuat Posdaya Sumber Makmur. Terutama menyangkut soal strategi mengelola usaha, masalah promosi dan pemasaran hingga terkait permodalan.

Jaelani sendiri memulai usaha pembuatan kerajinan kulit seperti tas, dompet, sabuk, dan sebagainya itu sejak 1979, silam. Berawal dari bekerja di sebuah perusahaan kerajinan kulit di Jawa Timur, ia memberanikan membuka usaha sendiri di Yogyakarta. Sebagaimana pelaku usaha pada umumnya, usaha kerajinan kulit Jaelani sempat mengalami pasang surut. “Lewat kegiatan Posdaya, saya banyak mengikuti pembinaan dan pelatihan. Saya juga kerap diikutsertakan dalam berbagai even pameran produk kerajinan. Tentu, itu sangat membantu usaha saya. Apalagi lewat unit usaha Posdaya, yakni koperasi simpan pinjam (Tabur Puja), saya juga cukup terbantu dari sisi permodalan,” katanya.

Hingga kini, usaha kerajinan kulit Jaelani masih terus eksis. Meski tak lagi mengejar jumlah produksi, karena faktor usia, lelaki 60 tahun itu mampu memproduksi produk kerajinan kulit berupa sabuk dan dompet hingga 60 kodi setiap bulannya. Usaha pembuatan produk kerajinan itu ia jalankan di rumahnya sendiri, untuk kemudian disetor ke sejumlah penjual seperti di Pasar Beringharjo, Prambanan hingga Borobudur di Magelang, Jawa Tengah. “Sebenarnya, ada banyak sekali program-program positif yang dibuat oleh Posdaya. Namun, semua tetap kembali pada warga atau pelaku usaha itu sendiri. Apakah mau diberdayakan agar mandiri dan semakin maju, atau tidak,” pungkasnya.

Jurnalis: Jatmika H Kusmargana/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Jatmika H Kusmargana

Komentar