BNN Sebut Jateng Masuk dalam Provinsi Rawan Peredaran

50

KAMIS, 23 MARET 2017

SEMARANG — Sampai akhir tahun 2016, pemakai Narkoba di Jawa Tengah mencapai angka lima ratus ribu pengguna atau 1,96 persen dari jumlah penduduk yang ada di provinsi tersebut. Menyikapi hal tersebut perlu kerja sama semua pihak untuk dapat menekan perkembangannya.

Kasi Pencegahan Bidang Pencegahan dan Pemberdayaan BNN Jateng Jamaludin Makruf

Kasi Bidang Pencegahan dan Pemberdayaan BNN Jateng, Jamaludin Makruf mengatakan, ada tiga langkah yang harus disinergiskan sebagai upaya pemberantasan narkoba. Pertama adalah pencegahan sejak dini. Kedua rehabilitasi bagi para pecandu dan ketiga pemberantasan untuk mengurangi pasokan narkoba.

“Karena saat ini Jateng sudah termasuk dalam provinsi rawan peredaran, maka untuk memutus mata rantai peredaran narkoba adalah dengan menjalin kerjasama antara Polisi, BNN dan Masyrakat,” sebutnya saat ditemui Cendana News di Semarang, Kamis (23/03/2017).

Dijelaskan, kecenderungan pengguna narkoba akan semakin meningkat terutama di saat ini yang telah ditemukan empat puluh delapan narkoba jenis baru sesuai yang telah ditetapkan oleh Peraturan Menteri Kesehatan No 2 Tahun 2017.

Tidak hanya produk baru, metode baru juga bermunculan. Berbagai cara dilakukan pedagang barang haram tersebut untuk dapat memasarkan Narkoba kepada masyarakat. Modus operandi biasanya mengubah atau memasukkan bentuk asli Narkoba ke dalam barang lainnya, seperti saat ini yang sedang tren adalah rokok elektrik. Bentuk Narkoba sudah dimodifikasi menjadi zat cair untuk dihisap.

“Tujuan pengedar memodifikasi narkoba untuk mengakali undang-undang supaya tidak terjerat,” kata Jamal

Karena itu BNN mengimbau agar masyarakat selalu waspada terhadap beredarnya zat-zat baru, jika dirasa mencurigakan diharapkan langsung melaporkan ke BNN untuk ditindak.

Ketua Umum LKCI Jateng Ulil Huda

Sementara itu Ketua Umum Lembaga Cegah Kejahatan Indonesia (LKCI) Jateng, Ulil Huda menambahkan, karyawan perusahaan adalah salah satu sasaran untuk menyuplai narkoba. Hal ini dikarenakan, selain karena rutinintas kerja yang melelahkan, mereka juga sudah mempunyai gaji sehingga narkoba bisa diperoleh dengan mudah.

“Perusahaan adalah ruang yang jarang dimasuki sehingga peredaran disana nyaris tidak terdeteksi,” tambah Ulil

Karena itu untuk mencegah peredaran narkoba di perusahaan agar tidak semakin menggurita, LCKI akan berkoordinasi secara intensif dengan Polisi dan BNN.

Jurnalis : Khusnul Imanuddin / Redaktur : ME. Bijo Dirajo / Foto : Khusnul Imanuddin

Komentar