Ciptakan SDM Berdaya Saing, UMB Terapkan Pembelajaran Berbasis Kompetensi

41

RABU, 29 MARET 2017

JAKARTA — Sektor perguruan tinggi semakin disadari sebagai salah satu lembaga yang berperan penting dalam menghadapi tantangan dan persaingan dunia yang kian ketat. Di sejumlah negara maju, sektor pendidikan telah terbukti berperan besar dalam meningkatkan kemampuan ekonomi negara.

Rektor Universitas Mercu Buana (UMB), Dr. Ir. Arissetyanto Nugroho, MM (kiri).

Rektor Universitas Mercu Buana (UMB), Dr. Ir. Arissetyanto Nugroho, MM., mengatakan, sektor pendidikan, utamanya perguruan tinggi berkontribusi besar terhadap peningkatan daya saing bangsa, melalui penyediaan sumber daya manusia yang unggul sesuai kebutuhan. Negara berpendapatan menengah, menjadi berpendapatan tinggi itu salah satunya disumbang dari sektor pendidikan.

 “Di Korea Selatan, peran pendidikan terbukti sangat signifikan. Pada kurun waktu 1985-1997, jumlah peneliti di negara tersebut hanya 2.100 per 1 juta penduduk, meningkat menjadi 3.760 pada kurun waktu 2000-2005. Jadi, selama kurun waktu 20 tahun itu, sebuah bangsa bisa meningkat dari negara berpenghasilan menengah menjadi berpenghasilan tinggi, karena peran yang sangat tinggi dari sektor pendidikan. Baik melalui penelitian dan publikasi yang dihasilkan para dosen,” kata Aris, dalam sebuah wawancara di stasiun radio di Jakarta, Rabu (29/3/2017).

Guna memenuhi tuntutan akan peranan sektor pendidikan yang sedemikian besar itu, UMB sendiri telah sejak lama melakukan berbagai upaya peningkatan kualitas anak didik melalui sistem pembelajaran yang terintegrasi. Mulai dari awal masuk, calon mahasiswa sudah diseleksi dari setiap aspek, meliputi kesehatan, bebas narkoba, bela negara, dan lain-lain, yang juga merupakan upaya mewujudkan amanat Undang-undang nomor 12 tahun 2012 tentang perguruan tinggi, yang menyatakan jika perguruan  tinggi itu adalah institusi yang bertugas mengembangkan potensi mahasiswa menjadi insan yang bertakwa, cerdas, kreatif dan sebagainya.

Sementara itu, selama 4 tahun dalam proses pendidikan, UMB menerapkan pembelajaran sesuai kurikulum berbasis kompetensi, sehingga mahasiswa  tidak lagi datang sekadar absen. Melainkan diajarkan presentasi, soft skill, sehingga pembelajaran berpusat pada mahasiswa itu sendiri. “Diharapkan dengan pembelajaran berbasis kompetensi yang dibangun dari mata kuliah-mata kuliah hingga magang, mahasiswa akan lulus tidak hanya membawa ijazah, namun juga sertifikasi kompetensi yang dirangkum dalam diploma sertificate,” kata Aris.

Dijelaskan Aris, dengan pembelajaran berbasis kompetensi itu, mata kuliah tidak hanya bersumber satu arah dari dosen saja, namun juga dari mahasiswa itu sendiri sehingga menjadi dua arah. Setiap kali pertemuan, selalu diadakan presentasi, diberikan tugas atau workshop, sehingga setiap pertemuan ada pendekatan praktik. Dengan demikian, mahasiswa sejak awal sudah terbiasa dengan etika kerja profesional yang dibutuhkan oleh dunia kerja.

“Sebagai perguruan tinggi, paling tidak kami menyiapkan dua hal. Pertama, hard skill dan soft skill. Yaitu, kemampuan kognitif sesuai jurusan yang dipilih, dan soft skill adalah kemampuan berkomunikasi, negosiasi, kerja sama tim dan lain-lain,” kata Aris.

Data Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN PT) menyebut, Universitas Mercu Buana merupakan 1 dari 50 perguruan tinggi di Indonesia yang telah meraih predikat Akreditasi Unggulan (A), dari total 4.492 perguruan tinggi se-Indonesia. Prestasi tersebut tentu saja tak bisa dianggap sepele. “Dengan 900 dosen, 300 karyawan dan 31.000 mahasiswa, bukan hal mudah untuk menyatukan komitmen, guna berjuang meraih akreditasi unggulan itu,” tegas Aris.

Akreditasi A bagi Universitas Mercu Buana, tertuang dalam Surat Keputusan Nomor 3001/SK/BAN-PT/Akred/PT/XII/2016, tertanggal 20 Desember 2016. Menurut Aris, akreditasi itu adalah sebuah indikator, bahwa perguruan tinggi sebagai sebuah institusi telah menjalankan kualitas manajemen pendidikan dengan baik. “Menyelenggarakan proses seleksi mahasiswa, proses pembelajaran hingga wisuda dan akhirnya menjadi alumni yang bisa diterima pasar, adalah juga cerminan dari akreditasi itu sendiri, sehingga akreditasi itu bukan sekadar huruf, melainkan kinerja,” kata Aris.

Jurnalis: Koko Triarko / Editor: Satmoko / Foto: Thowaf Zuharon

Komentar