DPP Laskar Ampera Arief Rahman Hakim, Peringati 51 Tahun Supersemar

55

SABTU, 18 MARET 2017

JAKARTA — Dewan Pimpinan Pusat Laskar Amanat Penderitaan Rakyat (Ampera) Arief Hakim Angkatan 66, menggelar peringatan 51 tahun Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) 1966-2017, di Kompleks Taman Ismail Marzuki (TIM), Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (18/3/207).

Fahmi Idris (tiga dari kiri) bersama tamu undangan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya

Peringatan hari lahirnya Supersemar yang selalu diperingati rutin setiap tahun oleh DPP Laskar Ampera Arief Rachman Hakim Angkatan 66, kali ini mengusung tema ‘Komunis Gaya Baru Membahayakan Keutuhan NKRI’,  Acara dimulai sekitar pukul 11.15 WIB, dibuka dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan mengheningkan cipta untuk para arwah pahlawan dan tokoh bangsa.

Beberapa tamu penting tampak hadir dalam acara tersebut, antara lain Fahmi Idris, mantan Menteri Tenaga Kerja (Kabinet Reformasi Pembangunan) dan juga Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Kabinet Indonesia Bersatu Jilid 1) dan beberapa tokoh penting lainnya. “DPP Laskar Ampera Arief Rachman Hakim Angkatan 66 untuk ke sekian kalinya kembali memperingati hari lahirnya Supersemar yang ke 51. Dengan adanya acara ini, diharapkan akan selalu mengingatkan kita semua pada sebuah peristiwa bersejarah, yaitu lahirnya Supersemar pada 51 tahun lalu,” kata Shidki Wahab, Ketua Umum DPP Laskar Ampera Arief Rahman Hakim Angkatan 66 di Jakarta, Sabtu (18/3/2017).

Shidki Wahab saat berpidato dalam acara pembukaan Peringatan Supersemar.

Supersemar merupakan sebuah mandat atau perintah yang ditandatangani dan diberikan oleh Presiden Soekarno kepada Mayor Jenderal (Mayjen) TNI Soeharto, yang saat itu menjabat sebagai Panglima Komando Strategis Angakatan Darat (Pangkostrad), sekaligus menjabat sebagai Panglima Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Pangkopkamtib).

Supersemar yang diberikan kepada Mayor Jenderal TNI Soeharto tersebut bertujuan untuk memulihkan situasi keamanan dan ketertiban di Indonesia paska terjadinya Pemberontakan G 30 S/PKI 1965. Dengan memegang mandat  Supersemar, Mayor Jenderal Soeharto sehari kemudian membubarkan Partai Komunis Indonesia (PKI) dan seluruh antek-anteknya.

Mayor Jenderal TNI Soeharto saat menerima mandat Supersemar kebetulan juga merangkap jabatan sebagai Menteri Panglima Komando Angkatan Darat (Menpangad), menggantikan Letnan Jenderal TNI Ahmad Yani, yang sebelumnya telah meninggal dunia bersama 6 Pahlawan Revolusi lainnya sebagai korban keganasan G 30 S/PKI di Lubang Buaya, Jakarta Timur, pada  30 September 1965.

Jurnalis: Eko Sulestyono/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Eko Sulestyono

Komentar