Fitri Setyani, Perawat Asal Indonesia yang Bertugas di Jepang

34

JUMAT, 17 MARET 2017

PONOROGO — Program Pemerintah Indonesia yang bekerja sama dengan pemerintah Jepang tentang pengiriman tenaga medis perawat dengan nama Indonesia-Japan Economy Partnership Agreement (IJEPA) membuka perdagangan bebas antar dua negara. Tidak hanya barang namun meliputi jasa, tenaga kerja, perluasan investasi dan peningkatan kemampuan industri.

Fitri Setyani

Salah satu peserta program, Fitri Setyani (29 tahun) asal Ponorogo mengaku beruntung dapat menjadi salah satu peserta dalam IJEPA tersebut, Saat ini, sudah dua tahun lamanya ia berada di Jepang.

“Disini saya mendapatkan banyak ilmu dan pengalaman yang berbeda dibandingkan saat bekerja menjadi perawat di Indonesia,” jelasnya saat dihubungi Cendana News, Jumat (17/3/2017).

Fitri sapaan akrab Fitri Setyani ini menambahkan, saat bekerja di Jepang ia mendapatkan pengalaman yang unik dan menarik. Saat ada pasien yang sakit, peran keluarga dianggap kurang, sehingga tenaga medis yang menangani harus memberikan perhatian ekstra.

“Kalau di Indonesia kan peran keluarga pasien sangat besar, kalau disini beda,” ujar  Fitri yang saat ini bekerja di Asahi General Hospital tepatnya di Prefektur Chiba, Kota Asahi, Jepang.

Selain peran keluarga yang kurang, di Jepang para tenaga medis asal luar negeri harus mau belajar bahasa Jepang dan huruf Kanji. Ini merupakan tugas wajib, jika tidak lulus maka dalam kurun waktu 3 tahun bagi perawat dan 4 tahun bagi careworker (profesi pengasuh lansia) harus kembali ke negara masing-masing.

“Setelah sembilan jam bekerja di rumah sakit, sisanya saya gunakan untuk belajar, karena disini semua peralatan menggunakan huruf Kanji,” cakapnya.

Menurut keterangan Fitri, jika lulus ujian negara ini, para peserta program bisa memperpanjang masa kontrak kerja dengan membawa serta keluarga seperti istri, suami ataupun anak.

Program IJEPA ini tidak semua negara bisa mengirim perwakilan. Dengan adanya kerja sama ini maka Indonesia memiliki peluang emas mengirimkan perwakilan tenaga medisnya ke luar negeri.

“Ini kesempatan emas bagi saya, karena saya saat berangkat ke Jepang tidak mengeluarkan biaya apapun, semua sudah dibiayai oleh pemerintah,” tuturnya.

Perawat asal Ponorogo, Fitri Setyani

Alumnus D3 Akper Pemkab Ponorogo ini senang bisa mendapatkan pengalaman bekerja di luar negeri dengan gaji setara pegawai di Jepang yang seprofesi. Bahkan pihak keluarganya pun mendukung karirnya selama di Jepang.

“Terakhir, saya berharap semoga saya bisa segera lulus ujian negara supaya saya bisa memperpanjang kontrak kerja,” pungkas wanita yang bertugas bersama tiga perawat asal Indonesia, dua perawat asal Vietnam dan 20 perawat dari Jepang.

Jurnalis : Charolin Pebrianti / Redaktur : ME. Bijo Dirajo / Foto : Istimewa

Komentar