FORSIL MAPALA Malang Raya Gelar Aksi Pungut Sampah

42

RABU, 22 MARET 2017

MALANG — Gerakan Pecinta Alam untuk Negeri, menjadi tema peringatan Hari Air Sedunia 2017 yang digelar Forum Silaturahmi Mahasiswa Pecinta Alam (FORSIL MAPALA) Malang Raya, Rabu (22/3/2017). Ratusan anggota Mapala dari berbagai perguruan tinggi dan juga Sekolah Menengah Atas (SMA) turut dalam kegiatan yang di mulai pukul 11.00 WIB, tersebut.

Aksi pungut sampah FORSIL MAPALA se-Malang Raya

Koordinator FORSIL MAPALA Malang Raya, Hayuangga Tinno Putra Kusuma, menjelaskan, dalam peringatan hari air sedunia kali ini Forsil mengadakan acara longmarch yang di mulai dari kampus Institut Pertanian Malang (IPM) menuju Alun-alun Kota Malang. Longmarch tersebut juga sekaligus untuk memungut sampah-sampah yang terlihat selama perjalanan menuju ke alun-alun. “Para peserta dibagi menjadi dua kelompok, karena dalam aksi longmarch bersih sampah ini ada dua jalur yang akan dilalui, yang pertama jalur daerah Bethek dan yang kedua jalur Blimbing,” jelas Tinno, sembari menambahkan, sampah yang sudah terkumpul nantinya akan dibuang langsung ke TPA Supit Urang.

Setiba di Alun-alun, mereka mengadakan kampanye hari air dan membagikan 200 bibit pohon Flamboyan kepada masyarakat. Selain itu, juga kampanye secara visual, yaitu melalui pertunjukkan musik. “Tanaman Flamboyan ini dipilih, karena kami menyusuaikan tanaman yang sesuai dengan rumah-rumah di perkotaan. Tanaman ini nantinya berfungsi untuk menjaga kejernihan air, utamanya di lingkup perkotaan yang mungkin secara presentase kalau tidak diimbangi dengan penanaman pohon, lama-kelamaan kualitas air di perkotaan akan menurun,” terangnya.

Namun demikian, kualitas air di Malang masih tergolong baik jika dibandingkan dengan kota-kota lainnya. Hal tersebut disebabkan masih banyak penyangga air di Malang yang juga dikelilingi oleh beberapa gunung, seperti Gunung Semeru, Gunung Kawi dan Gunung Arjuna.

Hayuangga Tinno Putra Kusuma (tengah)

Lebih lanjut Tinno menyampaikan, kegiatan semacam ini sudah sering dilakukan dan setiap tahunnya pasti diadakaan, meski tidak selalu waktu peringatan hari air. Kegiatan ini tidak hanya diikuti oleh anak-anak MAPALA saja, tetapi juga melibatkan berbagai komunitas, di antaranya komunitas peduli Malang, komunitas bersih sungai dan berbagai komunitas lainnya. “Awalnya kami menargetkan 500 peserta yang bisa ikut terlibat dalam acara ini, tapi saat ini yang hadir hanya sekitar 200 orang lebih,” ucapnya.

Tinno berharap, dengan sedikit aksi dari teman-teman MAPALA se-Malang Raya ini bisa mengubah pola pikir masyarakat dan juga anak-anak MAPALA sendiri, bahwa sekecil apapun sampah yang dibiarkan pasti akan mempengaruhi lingkungan di sekitarnya dan berdampak pada penurunan kualitas air.

Jurnalis: Agus Nurchaliq/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Agus Nurchaliq

Komentar