Green Technology, Solusi Pembangunan Ramah Lingkungan

38

SABTU, 18 MAARET 2017

WONOSOBO — Banyaknya bangunan yang merusak estetika alam sekitar menjadi keprihatinan tersendiri bagi para arsitek, karenanya saat ini digencarkan konsep infrastruktur berdasarkan Green Technology. Hal demikian diungkapkan oleh CEO Jatengland, Ferry Firmawan, dalam acara temu wicara regional Forum Mahasiswa Teknik Sipil di Aula Al-Ala, Universitas Sains Al-Quran Wonosobo.

Ferry Firmawan saat memberikan materi

Menurut Ferry, keberhasilan seorang arsitek bukan hanya dilihat ketika bangunannya selesai, tetapi juga bagaimana mereka bisa melestarikan alam sekitar sehingga generasi mendatang bisa melanjutkan hidup mereka dengan tenang. Karena tujuan diterapkannya Green Technology adalah mengembangkan cara-cara baru untuk menyediakan kebutuhan tanpa merusak lingkungan.

Konsepnya sendiri terdiri dari inovasi, recycle, dan keberlangsungan. Inovasi diharapkan para arsitek bisa membuat konsep-konsep infrastruktur yang bisa ramah lingkungan, sementara recycle diharapkan bangunan yang akan dibuat bahan-bahannya bisa mendaur ulang dari hasil alam, sementara keberlangsungan adalah insfrastruktur yang sudah selesai dibangun bisa digunakan oleh generasi mendatang untuk waktu yang lama. “Green Technology sangat penting untuk menghindari dampak pemanasan global, dan terlahir dari kesadaran manusia akan kebutuhan energi bersih,” terang Ferry, saat ditemui pekan ini.

Lebih lanjut, Wakil Ketua Kamar Dagang Industri (KADIN) Jawa Tengah tersebut juga mengatakan, saat ini lulusan teknik sipil diharapkan bisa memulai revolusi green teknology, mulai dari lingkungan kecil, yaitu RT tempat mereka tinggal. Dalam sehari-hari, mereka bisa menanamkan konsep hijau untuk pengelolaan lingkungan sehari-hari.

Suasana Seminar Nasional Forum Komunikasi Mahasiswa Teknik Sipil Indonesia.

Ferry mencontohkan, Amsterdam lebih dari 60 persen menjadi kota ramah lingkungan. Arsitektur di kota sungai itu selalu dikonsep dengan dua arah, yaitu modernisasi easy acces, tetapi ramah lingkungan. Kota tersebut tidak hanya memanfaatkan sungai sebagai saluran air, tetapi juga sebagai jalur transportasi. Selain itu, pembangunan di Amsterdam juga memperbanyak jalur bersepeda daripada jalan raya, sehingga polusi akan berkurang. Hal ini sesuai dengan tujuan dewan untuk memangkas emisi CO2 40 persen pada 2025.

Sementara itu, Emmy Yuliarti Rusiadi menambahkan, saat ini desain bangunan di Indonesia mempunyai konsep kearifan lokal tersendiri, sehingga arsitek lokal jangan hanya copy paste desain dari luar negeri, karena bisa saja tidak sesuai jika diterapkan.

Lulusan pascasarjana Engginering Universitas Gajah Mada itu juga menyampaikan pentingnya Indonesia menyimpan desain arsitektur lokal, sebab hal tersebut merupakan hak kekayaan intelektual. Jangan sampai atas nama pertukaran budaya, bangsa kita secara sukarela menyerahkan desain tersebut secara cuma-cuma. “Saat saya mengikuti pertukaran pelajar di luar negeri, data adalah suatu yang berharga, untuk mendapatkannya kita harus membayar,” ujar Perwakilan Indonesia dalam forum Asia Pacific Urban Forum (APUF) dan High Level Meeting (HLM) 2015 itu.

Emmy juga mengingatkan, agar sesama arsitek menghargai hasil karya orang lain, karena desain adalah hasil kerja keras yang diselesaikan dalam waktu lama.

Jurnalis: Khusnul Imanuddin/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Khusnul Imanuddin

Komentar