Gua Jepang, Sejarah Kekejian di Masa Perang

68

MINGGU, 26 MARET 2017

BREBES — Gua Jepang yang berada di komplek Wisata Kebun Teh Kaligua, di bawah kaki Gunung Selamet, Desa Paguyangan, Brebes, Jawa Tengah, menyimpan banyak kisah keji di masa lalu. Selain diperuntukkan sebagai tempat persembunyian, Gua itu pada mulanya juga disiapkan sebagai tempat pembantaian kaum pria di desa setempat.

Ruang penyiksaan di Gua Jepang

Gua Jepang di Komplek Kebun Teh Kaligua, mulai dibuka sebagai tempat wisata pada 1997. Setiap hari libur, banyak wisatawan lokal maupun manca negara yang datang ke Gua itu. Sejumlah wisatawan datang dari berbagai daerah, antara lain Brebes, Tegal, Purwokerto, Pemalang, Cirebon, Jakarta, Semarang, Medan, dan banyak lagi. Sementara dari luar negeri, ada yang dari Malaysia, Kenya, Mesir, Belanda, dan tidak kecuali juga Jepang.

Pemandu wisata Gua Jepang, Salim, mengatakan, wisatawan dari Negara Jepang biasanya datang untuk memastikan sejarah yang ada di negara mereka dengan yang ada di Indonesia. Saat warga Jepang datang dan mendengarkan informasi yang disampaikan, banyak wisawatan Jepang yang menangis, karena perilaku kejam yang dilakukan oleh pendahulunya. “Karena di negaranya tersebut, mereka hanya diberitahu jika nenek moyang mereka pergi ke negara Asia, khususnya Indonesia, untuk bekerja, bukan menjajah,” kata Salim.

Ruang tahanan di Gua Jepang

Gua Jepang di kaki Gunung Slamet itu, kata Salim, memiliki banyak ruang khusus, seperti ruang tahanan, kamar pasukan Jepang, pos penjagaan, ruang pembantaian, gudang senjata, bekas dapur, kamar kelelawar, dan ruang ritual yang disiapkan untuk pembantaian, jika Jepang menang perang.

Salim menjelaskan, pada 1879 di kawasan Gua Jepang itu dibuat perkebunan teh pada masa ‘Onder Nemeng’ dari Belanda, yang berpusat di Batavia. Setelah itu, dibuat pabrik teh oleh ‘Van De Jong’, orang berkebangsaan Belanda. Setelah pabrik teh itu berdiri pada 1942, perkebunan teh itu kemudian diambil-alih oleh tentara Jepang, seiring agresi Jepang di negara-negara Asia di bawah pimpinan Komandan ‘Murakami’.

Setelah mengambil-alih perkebunan, Jepang segera membuat lorong-lorong dengan sistem romusha sebagai tempat perlindungan, penyimpanan senjata dan makanan hingga 1945. Pembuatan Gua Jepang ini memakan waktu 2 tahun. Awalnya, hanya sebagai tempat persembunyian, tetapi belakangan diketahui ada sebuah rencana besar, yaitu jika Jepang menang dalam perang Dunia II, maka salah satu lokasi di Gua Jepang tersebut akan dijadikan ruang pembantaian massal untuk kaum pria warga Desa Pandansari. “Jika kaum pria telah tiada semua, maka sisanya kaum perempuan akan diperistri oleh tentara-tentara Jepang. Tapi beruntung, sebelum niat keji itu terwujud, tragedi bom Hiroshima dan Nagasaki membuat Jepang kalah dalam perang dunia II, sehingga memupuskan niat tersebut,” kata Salim.

Salim (jaket biru) di depan pintu masuk Gua Jepang

Sesudah Jepang kalah perang, lanjut Salim, lorong-lorong tersebut tidak pernah digunakan hingga 1980-an. Baru pada 1997, lorong-lorong itu mulai dibuka sebagai obyek wisata, dengan diawali bersih-bersih oleh warga setempat dan juga karyawan PT. Perkebunan Nasional IX (PT. PN IX). “Karena Gua Jepang ini berlokasi di komplek perkebunan Teh Kaligua, pengelolaannya pun menjadi tanggungjawab PT. PN IX,” pungkas Salim.

Jurnalis: Adi Purwanto/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Adi Purwanto

Komentar