Hari Raya Nyepi Ajang Intropeksi Diri Bagi Umat Hindu

36

SELASA, 28 MARET 2017

BATU — Nyepi merupakan salah satu hari raya umat Hindu yang dirayakan setiap tahun saka, dan pada 2017 atau tahun saka 1939 kali ini hari raya Nyepi jatuh pada 28 Maret. Dalam hari raya Nyepi, umat Hindu berdiam diri di dalam rumah dan tidak melanggar 4 pantangan yang biasa disebut Catur Brata Penyepian.

Ketua Parisada Hindu Darma Indonesia (PHDI) Kota Batu, Pariyanto.

“Di dalam catur brata penyepian itu ada empat brata yang harus kita sucikan atau pantangan yang tidak boleh dilakukan yakni  Amati Geni, Amati Karya, Amati Lelungan dan Amati Lelanguan,” jelas Ketua Parisada Hindu Darma Indonesia (PHDI) Kota Batu, Pariyanto kepada Cendana News, Senin (27/3/2017).

Pantangan yang pertama yakni Amati Geni, di mana selama Nyepi umat Hindu  tidak boleh  menyalakan api dalam bentuk panas dan asap. Hal tersebut dilakukan sebagai simbol bahwa manusia harus mampu mengendalikan amarahnya. Selanjutnya pantangan yang kedua yaitu Amati Karya atau pantangan untuk bekerja dalam bentuk fisik maupun dalam bentuk pikiran sehingga umat Hindu bisa selalu terfokus untuk berbakti kepada sang Sang Hyang Widhi.

Pantangan berikutnya adalah Amati Lelungan yang berarti tidak bepergian dalam bentuk fisik dan tetap berdiam diri di rumah. Dan yang terakhir yakni  Amati Lelanguan yang artinya tidak membuat suasana gaduh atau suasana yang tidak diinginkan oleh masyarakat. Tujuannya supaya dalam kegiatan Brata Penyepian itu benar-benar hening sehingga mampu merasakan naik turunnya nafas. Dengan demikian manusia  akan merasakan betapa rendahnya dirinya di hadapan Hyang Widhi.

Tujuan dilakukannya Brata Penyepian menurut Pariyanto adalah sebagai ajang intropeksi diri untuk mengingat dosa-dosa dan kesalahan apa yang telah dilakukan selama dalam kurun waktu satu tahun. Intropeksi diri ini diperlukan agar kedepannya tidak tidak melakukan kesalahan yang sama.

“Mungkin kita tidak ingat perbuatan baik apa yang kita lakukan, tapi kita pasti bisa mengingat kesalahan dan perbuatan dosa apa yang pernah kita lakuka selama ini. Untuk itu kesalahan-kesalahan tersebut perlu di intropeksi dengan melakukan brata penyepian sehingga kedepannya kita tidak mengulangi kesalahan tersebut dan bisa bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi,” terangnya.

Ia menambahkan bahwa ada dua perhitungan dalam melakukan brata penyepian. Ada yang memulainya tepat pukul 00.00, tapi ada juga yang baru memulainya pada pagi hari hingga pagi berikutnya, imbuhnya.

Lebih lanjut Pariyanto mengungkapkan bahwa umat Hindu meyakini Trisandya yaitu melakukan sembahyang tiga kali dalam sehari yaitu pada saat pagi hari ketika matahari terbit, pada siang hari dan pada sore hari ketika matahari akan tenggelam. Persembahyangan tersebut sebagai bentuk rasa syukur kepada sang Hyang Widhi.

“Pergantian waktu dari menit ke menit dan dari jam ke jam itulah kita harus selalu bersyukur kepada sang Hyang Widhi. Bersyukur ini tujuannya untuk meningkatkan keimanan kita di hadapan Tuhan. Sehingga ketika keimanan seseorang  selalu di tingkatkan, maka hasilnya akan menjadi lebih baik,” pungkasnya.

Jurnalis: Agus Nurchaliq/Redaktur: Irvan Sjafari/Foto: Agus Nurchaliq

Komentar