Haryono Suyono Jelaskan Awal Berdirinya Yayasan Damandiri

43

SENIN, 27 MARET 2017

JAKARTA — Yayasan Dana Sejahtera Mandiri atau Yayasan Damandiri pada awalnya merupakan salah satu yayasan sosial yang bergerak di bidang pengentasan kemiskinan, pemberdayaan desa tertinggal dan juga yayasan pembinaan usaha mikro kecil dan menengah. Awal mula cikal-bakal lahirnya Yayasan Damandiri tersebut merupakan gagasan atau prakarsa Presiden Soeharto dan Haryono Suyono pada 1993.

Haryono Suyono (kiri) dan Asep Saefuddin, Rektor Universitas Trilogi, Jakarta.

Presiden Soeharto atau yang akrab dipanggil Pak Harto awalnya mengeluarkan Instruksi Presiden (Inpres) tahun 1993 tentang Desa Tertinggal. Pak Harto kemudian memerintahkan kepada Haryono Suyono yang saat itu menjabat sebagai Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) untuk segera melakukan pendataan khususnya terhadap rakyat atau penduduk miskin yang tinggal di wilayah pedesaan.

Tahun 1995, Pak Harto kembali mengeluarkan Instruksi Presiden (Inpres) No 3  Tahun 1995 yang mengatur tentang Keluarga Sejahtera. Pak Harto sekali lagi menugaskan BKKBN untuk melakukan pendataan ulang terkait dengan program keluarga miskin dan desa-desa yang masih tertinggal. BKKBN kemudian mendata ribuan desa yang masih tertinggal dan juga data terkait dengan jumlah penduduk miskin.

Pak Harto pada saat itu juga menggagas bagaimana jika yayasan tersebut tidak hanya mengandalkan sumber pendanaan atau anggaran dari Pemerintah saja, karena anggaran dana dari negara maupun BKKBN masih terbatas. Pak Harto lantas mempunyai ide bagaimana caranya yayasan tersebut mendapatkan dana bantuan atau sumbangan dari pengusaha-pengusaha kaya atau konglomerat.

Haryono Suyono yang pada saat itu menjabat sebagai Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dipercaya sebagai  pelaksana menangani masalah pembentukan sebuah yayasan tersebut. Haryono Suyono segera mengumpulkan para konglomerat untuk menyumbangkan sebagian  kekayaannya terkait dengan program yayasan untuk pengentasan kemiskinan dan juga desa tertinggal.

“Pak Harto menugaskan saya untuk mengumpulkan para konglomerat, salah satunya adalah membahas  pemberian dana bantuan sebuah yayasan sosial yang nantinya akan diketuai secara langsung oleh Pak Harto, sedangkan saya bertindak sebagai pelaksananya,” demikian dikatakan Haryono Suyono, mantan Kepala BKKBN kepada Cendana News di Atrium Kampus Universitas Trilogi Jakarta, Senin (27/3/2017).

Haryono Suyono juga menjelaskan, pada 2 Oktober 1995 dana sumbangan yayasan sosial dari para konglomerat kemudian segera diserahkan kepada orang-orang miskin. Penyerahan dana bantuan tersebut dilaksanakan secara langsung dalam sebuah acara penandatanganan komitmen deklarasi pengentasan kemiskinan di Bina Graha, Istana Negara, Jakarta.

“Sebenarnya kita pada waktu itu sudah punya sebuah yayasan yaitu bernama Yayasan Anugerah, sebuah yayasan sosial yang dibentuk tak lama setelah Pak Harto menerima penghargaan United Nation Populations Award dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tahun 1989. Namun pada saat itu Pak Harto bilang nanti kita akan membentuk yayasan baru yang diketuai sendiri oleh beliau, sedangkan saya ditunjuk sebagai pelaksana harian,” katanya kepada Cendana News di Jakarta.

Akhirnya, Yayasan Dana Sejahtera Mandiri atau Yayasan Damandiri diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 15 Januari 1996. Sebenarnya, Yayasan Damandiri tersebut diprakarsai oleh Haryono Suyono. Namun ada 3 tokoh penting lainnya di balik lahirnya Yayasan Dana Sejahtera Mandiri atau Yayasan Damandiri. Masing-masing Presiden Soeharto, Sudwikatmono, Liem Sioe Liong atau Sudono Salim dan Haryono Suyono sendiri sebagai pemrakarsa lahirnya Yayasan Damandiri.

“Pak Harto saat itu menyumbang Rp5 miliar, saya juga menyumbang Rp5 miliar, Pak Sudwikatmono Rp5 miliar dan sisa kekurangannya ditanggung Om Liem Sioe Liong atau Sudono Salim, sedangkan kebutuhan awal anggaran pendanaan Yayasan Damandiri diperkirakan sekitar Rp21 miliar pada saat itu. Uang tersebut  kemudian diserahkan dalam bentuk tabungan untuk membantu sekitar 13 juta warga miskin,” demikian pernyataan yang disampaikan oleh Haryono Suyono kepada Cendana News di Jakarta.

Jurnalis: Eko Sulestyono / Editor: Satmoko / Foto: Eko Sulestyono

Komentar