Hasil Petani Nasabah Tabur Puja Diekspor ke Luar Negeri

127

KAMIS, 30 MARET 2017

PADANG — Jejak Pemberdayaan Yayasan Damandiri — Keberadaan Tabur Puja ternyata sangat membantu para petani sambuang (kecombrang) yang berada di Kelurahan Gates Nan XX, Kecamatan Lubuk Begalung, Kota Padang, Sumatera Barat (Sumbar). Seperti pengakuan dari nasabah Tabur Puja di Posdaya Sejahtera, Rauldias, mengatakan, saat ini luas ladang yang ia miliki telah mencapai dua hektar yang semuanya diisi dengan tanaman sambuang.

Ketua Posdaya Sejahtera, Latifah, saat berada di pengumpul sambuang.

Di Padang, petani sambuang memang paling banyak berada di Gates Nan XX, apalagi usaha bertani sambuang yang dijalani Raul sudah masuk masa 10 tahun. Namun, di masa-masa awal Raul bersama ayahnya, bertani sambuang tidak seperti keadaan saat ini. Pada tahun pertama, Raul bersama ayahnya hanya menanam tanaman sambuang berada di sekitar belakang rumah yang memiliki luas tanah cukup kecil. Ketika itu, hasil tanaman sambuang memang tidak banyak, sehingga hasil panen sambuang pun di jual di Pasar Gates yang tak jauh berada dari rumahnya.

“Dulu palingan hanya sekira 3-4 kg yang dihasilkan dari panen di belakang rumah saya itu, yang dijual Rp3.000 per kilogram,” jelasnya, Kamis (30/3/2017).

Menurut Raul, minat masyarakat setempat untuk memasak sambuang memang tidak banyak. Namun, dulu sempat ada penawaran dari agen yang menyebutkan, potensi bertani sambuang di Gates Nan XX cukup besar. Sehingga agen itu menyediakan bibit sambuang secara gratis dan diberikan kepada warga yang berminat untuk bertani sambuang.

Melihat adanya peluang untuk memperluas tanaman sambuang, Raul bersama ayah pun berpikir untuk mencari dana membuka lahan baru sebagai tempat penanaman sambuang. Tahun 2014 merupakan awal adanya Unit Tabur Puja di Posdaya Sejahtera. Ini merupakan awal munculnya harapan bagi usaha Raul untuk bertani sambuang.

“Ketika saya bersama ayah benar-benar tengah mencari dana, dapatlah informasi bahwa ada lembaga, yakni Tabur Puja yang bisa meminjamkan modal usaha tanpa jaminan anggunan. Saya pun mengajukan pinjaman modal usaha, dan tidak lama kemudian permohonan saya diterima, dengan pinjaman awal Rp2 juta. Uang Rp2 juta itu saya gunakan untuk membuka lahan baru, yakni menyemprot rumput dan yang lainnya,” ucapnya.

Rika Susanti, petani sambuang di Gates Nan XX yang merupakan nasabah Tabur Puja.

Kini memasuki tahun 2017, usaha bertani sambuang pun menjadi penghasilan keluarganya. Karena dengan memiliki lahan dua hektar sudah bisa menghasilkan 250 kg sambuang setiap minggunya, sebab sambuang itu dipanen satu kali dalam satu minggu. Harga sambuangnya pun bervariasi yang dijual ke agen atau ke pengumpul. Untuk sambuang super dijual Rp7.000 per kg, sedangkan yang sortiran Rp3.000 per kg.

Bahkan hasil dari petani sambuang di Gates Nan XX ini, dipasarkan ke Jakarta dan juga hingga Malaysia serta Singapura. Tentunya, segala usaha dan perjuangan yang cukup panjang itu, diakui Raul, berkat adanya pinjaman modal usaha dari Tabur Puja yang memberikan kepercayaan terhadap dirinya dan ayahnya.

Selain Raul, juga ada petani sambuang lainnya yang juga menjadi nasabah Tabur Puja, yakni Sahbiri yang juga merasakan hasil dari bertani sambuang. Rika Susanti yang merupakan anak dari Sahbiri menceritakan, ayahnya sudah bertani sambuang sejak 5 tahun yang lalu. Kini dengan luas lahan yang sekira satu hektar, telah mampu memanen sambuang sebanyak 60 kg per minggu.

“Apa yang dirasakan oleh keluarga kami saat ini benar-benar terucap rasa syukur, tentunya semua ini berkat adanya kepercayaan dari Tabur Puja yang bersedia meminjamkan modal usaha untuk kami, yang tidak memiliki jaminan apa pun untuk mendapatkan pinjaman modal usaha,” katanya.

Menyikapi dari pernyataan nasabah Tabur Puja itu, Ketua Posdaya Sejahtera, Latifah, mengatakan, sambuang memang merupakan usaha bertani masyarakat di Gates Nan XX yang paling banyak dijalani. Mengingat pemukiman masyarakat setempat berada di bawah lereng Gunung Meru Gauang.

Sambuang yang telah dipanen.

“Masyarakat di sini banyak bertani sambuang di Gunung Meru ini, seperti ladang dari Rika. Dia berladang di Gunung Meru itu. Jadi, di sini nasabahnya tidak hanya dari nelayan, tapi juga ada pertanian, ya seperti bertani sambuang ini,” tegasnya.

Jurnalis: Muhammad Noli Hendra / Editor: Satmoko / Foto: Latifah dan Muhammad Noli Hendra

Komentar