Hujan Robohkan Tanaman Padi di Penengahan Petani Panen Lebih Cepat

83

RABU, 29 MARET 2017

LAMPUNG — Hujan disertai angin kencang yang melanda sebagian wilayah Kabupaten Lampung Selatan, di antaranya Kecamatan Ketapang dan Kecamatan Penengahan. Curah hujan yang tinggi sejak Selasa malam (28/3) hingga Rabu dini hari (29/3) berimbas sebagian tanaman padi milik warga roboh. 

Tanaman padi yang roboh akibat hujan disertai angin kencang

Di Desa Klaten Kecamatan Penengahan, Ismaini (34) dan Sodikin (36) suaminya harus bekerja ekstra untuk memotong padi siap panen dengan luasan sekitar setengah hektar miliknya. Ia memanen lebih cepat dari jadwal untuk menghindari kerusakan akibat terendam air terutama yang roboh.

“Dua hari sebelumnya seluruh padi varietas Ciherang milik saya masih tegak namun kencangnya angin disertai hujan berimbas robohnya tanaman hampir 40 persen,” sebutnya kepada Cendana News, Rabu (29/3/2017).

Tidak hanya padi, tanaman jagung juga mengalami hal serupa. Beberapa tetangganya yang berprofesi sebagai petani jagung juga mengaku tanaman mereka yang sedang berbunga juga ikut roboh.

Selain menghindari kerugian akibat tanaman padi roboh, ia mengaku pemanenan dilakukan untuk mempercepat proses pengerjaan Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) yang melintasi lahan sawah miliknya.

“Hanya sekitar puluhan meter yang terimbas dan kami masih diberi kesempatan menggarap lahan sawah hingga panen dan ini panen terakhir di lahan terimbas tol,”ungkapnya.

Ismaini dan Sodikin memanen sebagian padi yang roboh diterjang angin dan hujan

Meski roboh akibat hujan disertai angin, namun ia memastikan tidak mengalami kerugian cukup besar akibat penanganan yang lebih cepat.

Hal berbeda dialami oleh petani di wilayah Kecamatan Ketapang yang masih terimbas banjir di Desa Sumbernadi yang sebagian lahan sawahnya terendam air luapan sungai Kali Asin.

Salah satu pemilik lahan sawah, Ahmadi (45) mengaku, lahannya dihantam banjir pada pertengahan bulan Februari saat menjelang masa padi berisi membuat sebagian padi miliknya tidak tumbuh dengan sempurna.

“Ini saat menjelang panen justru hujan disertai angin kencang sehingga sebagian padi roboh, kami terpaksa melakukan proses ngasak atau memilah padi yang masih bisa dimanfaatkan,” sebutnya.

Proses ngasak akibat hujan disertai angin diakuinya dilakukan agar ia tak mangalami kerugian cukup besar. Dari luasan lahan sekitar setengah hektar biasanya memperoleh hasil satu ton lebih, namun musim tanam kali ini dipastikan hanya akan memperoleh hasil dalam jumlah kuintalan.

Selain tidak berproduksi dengan baik, sebagian padi miliknya bahkan tidak bisa dipanen akibat terendam air dan tidak berisi. Ia berharap pembuatan tanggul pada tanggul penangkis sungai bisa cepat dilakukan agar petani dan petambak di wilayah tersebit tidak mengalami kerugian saat musim hujan yang menimbulkan banjir.

Jurnalis : Henk Widi / Redaktur : ME. Bijo Dirajo / Foto : Henk Widi

Komentar