Jaga Kekhusukan Nyepi, Pecalang dan Polsi Koordinasi Jaga Desa di Lampung Selatan

0
21

SELASA, 28 MARET 2017

LAMPUNG — Pasca berbagai prosesi upacara keagamaan mulai dari Melasti, Pecaru, Pawai Ogoh Ogoh umat Hindu di Kabupaten Lampung Selatan mulai melaksanakan perayaan Nyepi 1 Saka 1939. Kepolisian Sektor Penengahan bersama Pecalang atau petugas keamanan adat  bekerja sama menjaga keamanan selama rangkaian Hari Raya. 

Wayan Kucir (kanan) Pecalang di Desa Tridharmayoga Kecamatan Ketapang Lampung Selatan

Kepala Kepolisian Sektor Penengahan, Ajun Komisaris Polisi Mulyadi Yakub melalui Kepala pos polisi Tamansari Polsek Penengahan, Ajun Inspektur Dua Nurkholis mengungkapkan, kerja sama sebetulnya sudah berlangsung sejak berbagai ritual keagamaan. Penjagaan melibatkan sebanyak 25 personel dari Polsek Penengahan dan bahkan pihak Polres Lampung Selatan pun juga mengerahkan anggota.

Puncaknya selama jalannya pelaksanaan Nyepi anggota Polsek Penengahan tetap berjaga mengamankan desa desa yang mayoritas beragama Hindu seperti Desa Sumbernadi, Desa Sumur, Desa Tridahrmayoga, Desa Ruguk, Desa Bangunrejo, Desa Sripendowo yang semuanya berada di Jalan Lintas Timur Sumatera.

“Fokus pengamanan dilakukan di beberapa titik masuk jalan desa bahkan para pecalang telah memasang portal khusus terbuat dari bambu di gerbang desa dengan tulisan larangan memasuki desa karena berpotensi mengganggu kekhusukan umat Hindu yang tengah menjalankan perayaan Nyepi,”terang Ajun Inspektur Dua Nurkholis saat dikonfirmasi Cendana News, Selasa (28/3/2017).

Aipda Nurkholis dari Polsek Penengahan berkoordinasi dengan para Pecalang jaga keamanan selama Nyepi

Ajun Inspektur Dua Nurkholis bahkan mengungkapkan, saat para pecalang melaksanakan tugas berkeliling kampung, anggota polisi membantu menjaga di pintu desa dan akses jalan yang berbatasan dengan Jalan Lintas Sumatera.

Salah satu Pecalang di Desa Tridahrmayoga, Wayan Kucir (50) mengaku mereka bertugas di setiap desa rata rata hanya dua orang. Selama pelaksanaan Nyepi pihaknya berjaga di pintu masuk desa untuk menjaga keamanan dan ketertiban. Selain larangan memasuki desa dengan tulisan, portal dari bambu pun dibuat untuk menjaga keamanan.

“Karena desanya hanya kecil dan mayoritas beragama Hindu satu dua pecalang tetap bisa bertugas bergantian menjaga desa dengan berkeliling mengamankan desa,”ungkap Wayan Kucir.

Beberapa pecalang di Desa lain yang bertugas diantaranya Made Gepeng di Desa Sumbernadi, Desa Sripendowo Tejo Agung dan beberapa desa lain dengan pecalang yang telah ditunjuk. Pelaksanaan Nyepi 1939 tersebut akan berlangsung hingga selesai dan masyarakat Hindu melaksanakan Catur Brata Penyepian dengan empat pantangan yang harus dijalankan untuk semakin mendekatkan umat Hindu dengan Tuhan Yang Maha Esa.

Jurnalis : Henk Widi / Redaktur : ME. Bijo Dirajo / Foto : Henk Widi

Komentar