Jalan Sunyi Patmi: Mahasiswa Siap Berjuang Apa pun Konsekuensinya

90

RABU, 29 MARET 2017

SEMARANG — Mahasiswa di Semarang terus bergerak memperjuangkan Kendeng. Menurut Direktur LBH Semarang, Zainal Arifin, mereka mempunyai cara yang unik untuk memperjuangkan Kendeng.

Aksi GMPK di depan kantor gubernur menuntut pemberhentian berdirinya pabrik semen.

Di sebuah kedai kopi Cendana News berhasil menemui mahasiswa. Rupanya, kedai tersebut merupakan tempat wajib bagi mahasiswa untuk berdiskusi tentang Kendeng. Saat Cendana News datang, tampak sepuluh orang mahasiswa sedang berdiskusi dengan Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK).

Menurut Ketua Umum Gerakan Mahasiswa Peduli Kendeng (GMPK), Nico Wauren, menerangkan, sebagai aliansi mahasiswa yang juga ikut menolak pendirian pabrik semen di Kendeng dirinya membuat gerakan di kampus-kampus lewat diskusi, bedah film hingga aksi turun ke jalan. Karena itu sifat mahasiswa mem-back up gerakan yang dilakukan oleh Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK) karena konflik yang terjadi di sana bukan hanya lagi perjuangan warga Rembang, tetapi sudah menjadi isu nasional.

“Berbagai elemen masyarakat harus bersatu untuk menolak pendirian pabrik semen Rembang dan Pegunungan Kendeng yang sudah menjadi isu nasional,” kata Nico, saat dikonfirmasi Cendana News (29/3/2017).

Hanindya Disha Randy Raharja dari GMPK menambahkan, bahwa Gubernur Jateng dianggap melawan hukum ketika mengeluarkan adendum padahal sebelumnya sudah ada putusan MK. Hal ini mengindikasikan bahwa Ganjar Pranowo pede pasti menang melawan warga sehingga akhirnya menjadi paradoks ketika JMPPK terus melawan yang mengakibatkan investasi senilai lima triliun terancam batal.

Sementara itu, Ketua Umum DPC Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia (Permahi) Semarang, Noval Sebastian, menilai kasus Kendeng adalah salah satu permasalahan agraria yang cukup pelik  karena sudah banyak pihak yang terlibat dalam masalah ini dengan berbagai motif, entah itu pro dan kontra. Dirinya juga menyoroti ketidakkonsistenan perkataan Ganjar Pranowo. Dalam statemen-statemennya terdahulu politisi PDI-P tersebut selalu berucap bahwa jika petani Kendeng menang di pengadilan maka pabrik tidak akan didirikan.

 Hanindya Disha Randy Raharja

“PK yang sudah dikabulkan oleh MA seharusnya tidak dapat diganggu gugat, tetapi masih bisa dikangkangi Ganjar Pranowo,” ujar Noval.

Saat ini, penggiringan persepsi publik mengenai pendirian pabrik semen bisa dilihat dari tiga sudut. Pertama adalah elemen hukum dimana seharusnya permasalahan ini sudah selesai ketika JMPPK mendapat surat keputusan PK tentang pencabutan ijin amdal dari MA. Tetapi nyatanya, Ganjar Pranowo mengeluarkan izin baru walau mengatasnamakan adendum, hal ini dikarenakan orang nomor satu di Jawa Tengah tersebut menggunakan pendekatan kedua yaitu elemen kekuasaan dimana ia bisa menginstruksikan instansi di bawahnya untuk mendukung keputusannya. Sementara itu, elemen ketiga adalah media yang saat ini menjadi rebutan untuk menyebarkan isu-isu yang diinginkan oleh pihak pro dan kontra, walaupun dirinya mengakui dengan kekuasaannya, Ganjar Pranowo akan lebih mudah menggiring publik untuk mendukung pabrik semen.

“Dengan jejaring sosial mahasiswa, kami berusaha menandingi isu yang digiring oleh pihak pro pabrik semen,” tambahnya.

Lebih lanjut Noval menambahkan, bahwa saat ini yang dilakukan oleh mahasiswa adalah mensupport gerakan JMPPK dengan menyebarkan kabar tentang Kendeng ke berbagai daerah, dengan memanfaatkan kekuatan jejaring mahasiswa lainnya agar informasi yang diterima bisa valid. Hal ini akan menjadi pemantik perlawanan mahasiswa untuk menyuarakan perlawanan warga Kendeng di daerah mereka berasal.

Noval Sebastian

“Kelebihan kami adalah solidaritas mahasiswa yang kuat untuk menyebarkan informasi, sehingga isu yang disuarakan di daerah sama dengan isu yang disampaikan di Semarang dan Kendeng,” tambah Noval.

Saat ini, aksi JMPPK lebih banyak terpusat di Jakarta dan Rembang karena di Semarang hasilnya dianggap nihil dengan statemen Ganjar Pranowo yang bersikeras melanjutkan pendirian pabrik semen. Masa kevakuman ini dimanfaatkan dirinya untuk kembali menyusun kekuatan dengan menggunakan media sosial untuk menyebar informasi ke berbagai daerah agar mahasiswa tahu bahwa perlawanan JMPPK tidak akan pernah berhenti.

Mahasiswa Siap Menerima Konsekuensi Perjuangan, Termasuk Bersinggungan dengan Dosen
Di kesempatan yang sama, Hanindya menambahkan, bahwa apa yang dilakukan mahasiswa saat ini bukannya tanpa risiko. Mereka seringkali bersinggungan dengan dosen-dosen di forum ilmiah. Tetapi dirinya mengaku tidak gentar dengan perbedaan pendapat tersebut karena sudah mempunyai dasar kuat. Dengan ilmu, keahlian, dan kecerdasan yang dimiliki, mahasiswa akan terus berjuang untuk mengetuk hati masyarakat untuk membela perjuangan rakyat Kendeng.

“Ketika ada dosen yang pro pembangunan sering juga kami pertanyakan sikap mereka. Bagi kami perbedaan bukan masalah asal ada dasarnya, kami siap menerima konsekuensi apa pun,” tambahnya.

Sementara itu, Nico juga menyerukan adanya persatuan antar mahasiswa untuk membela JMPPK karena kelangsungan Kendeng adalah bagian dari kelangsungan ekosistem. Apalagi setelah meninggalnya Ibu Patmi, bagi GMPK, kematian ibu dua orang anak tersebut menyiratkan pesan bahwa JMPPK akan semakin kuat untuk menjaga pegunungan agar tetap lestari.

“Tidak ada yang sia-sia dengan meninggalnya Ibu Patmi, kita akan semakin kuat memperjuangkan Kendeng,” ujar Nico.

Kesibukan mahasiswa saat membagi waktu untuk kuliah dan mengerjakan tugas juga tidak menyurutkan mereka untuk membela JMPPK. Bagi Noval, esensi dari pendidikan tidak hanya semata-mata terkungkung dalam perkuliahan, karena bagi mahasiswa ada tiga hal yang harus diselaraskan dalam perkembangan pemikiran, yaitu mencerdaskan otak, memperkukuh moral dan memperhalus perasaan, semuanya harus berjalan beriringan.

“Jadi tidak bisa kuliah atau demo terus, semuanya harus berjalan beriringan,” tambah Noval.

Baik Noval, Nico atau Hanindya berharap, bahwa selaku orang yang memimpin Jawa Tengah, sikap dan perilaku Ganjar Pranowo harusnya bisa menjadi tuntunan. Dari dulu Ganjar selalu berkoar-koar kepada masyarakat untuk mematuhi hukum yang berlaku, adalah suatu keniscayaan jika pada akhirnya dirinya sendiri yang melawan hukum hanya karena alasan investasi. Seharusnya dengan dikabulkannya PK oleh MA yang mencabut izin amdal, pembangunan pabrik semen PT SI di Rembang yang merusak lingkungan harus segera dihentikan tanpa terkecuali.

Jurnalis: Khusnul Imanuddin / Editor: Satmoko / Foto: Khusnul Imanuddin

Komentar