Jalan Sunyi Sastrawan Semarang

62

SELASA, 21 MARET 2017

SEMARANG — Tanyakanlah arti sunyi pada para penggiat sastra di Semarang. Mereka akan memaknai kata tersebut dalam tiga hal, pertama sunyi dalam pengerjaan, kedua sunyi karena minim dukungan dari pihak lain dan ketiga sunyi dalam kesejahteraan.

Widyanuari Eko Putra.

Saat ditemui CDN di Universitas PGRI Semarang, Selasa (21/03/2017) Sastrawan Kelab Buku, Widyanuari Eko Putra  menyebutkan dalam mengerjakan suatu karya, sastrawan melakukan ritual berkhalwat atau menyendiri agar bisa fokus. Hal itu dilakukan karena mereka harus melakukan riset untuk bisa mendeskripsikan karya yang akan ditulis.

Apalagi jika berbicara generasi 80-90 di mana teknologi belum maju, mereka akan melakukan riset untuk memulai suatu karya. Sementara sastrawan zaman sekarang sudah bisa lebih dinamis dalam berkarya karena sudah ada browsing di Internet.

“Sastrawan saat mengunduh di internet sebisa mungkin dijadikan pembanding. Tetapi mereka juga harus melakukan riset agar karyanya tidak dangkal,” ujar pria yang akrab dipanggil Wiwid tersebut.

Menurutnya hasil karya yang dihasilkan oleh sastrawan yang hanya membaca buku sangat berbeda dengan mereka yang melakukan riset. Karya yang dihasilkan terkadang dangkal dan konfliknya tidak mendalam.

Dukungan dari pemerintah untuk perkembangan sastra pun dirasa masih kurang, Wiwid mengakui sampai hari ini belum ada penghargaan bagi para sastrawan. Menurutnya pemerintah terkadang sering pilih kasih, Baginya sampai detik ini pemerintah hanya mau mendukung jika “berimpact” menguntungkan secara komersial.

Bagi Wiwid aliran-aliran dalam sastra memang tidak bisa disamakan dengan pertunjukan lainnya yang lebih mudah dikomersialkan. Sastra mempunyai ritme sendiri berada dalam kesunyian yang membedakannya dengan yang lain. Sehingga beberapa kali dirinya menolak bantuan dari pemerintah maupun Dewan Kesenian karena mempunyai motif yang tendensius.

“Kalau mau membantu perkembangan sastra harus tulus, tidak boleh ada embel-embelnya,” jelasnya.

Karena kurangnya perhatian dari pemerintah untuk mengembangkan sastra, dirinya sampai harus berjualan buku dari kampus ke kampus, walaupun hasilnya tidak seberapa tetapi baginya hal  tersebut lebih baik jika dibandingkan menunggu respon dari pemerintah.

Sementara itu sastrawan Arif Fitra Kurniawan dari Laci Kata juga menambahkan bahwa karena kurangnya respon pemerintah yang menganggap sastra sebagai anak tiri. Sastra dianggap sebagai sesuatu yang halusinatif karena hanya berimajinasi. Sementara pemerintah lebih menyukai hal yang pasti.

Baginya dengan menjadi sastrawan di Semarang sudah dianggap untuk menjadi miskin. “Jika ada sastrawan yang kaya biasanya mereka pnya sampingan lain yang lebih menjanjikan,” ungkapnya.

Karena itu di tengah kegiatannya mengembangkan kemampuan menulis puisi, Arif juga berjualan nasi dan mie goreng agar dapur tetap mengebul. Walaupun demikian di tengah minimnya dukungan pemerintah, dirinya tetap akan berjuang menjalani takdirnya bergelut di dunia sastra. Baginya sastra terlahir dalam keadaan sunyi.

Arief Fitra Yanuar.

Jurnalis: Khusnul Imanuddin/Redaktur: Irvan Sjafari/Foto: Khusnul Imanuddin

Komentar