Jelajah Gunung Panderman di Kota Batu

75

MINGGU, 19 MARET 2017

BATU — Tak salah rasanya, jika Malang sejak dulu dikenal memiliki udara yang sejuk, karena memang Malang dikeliling beberapa gunung, di antaranya Gunung Semeru, Gunung Bromo, dan Gunung  Arjuna. Selain dari tiga gunung yang sudah cukup terkenal tersebut, di Kota Batu juga terdapat sebuah gunung yang kini banyak dikunjungi para pendaki, yaitu Gunung Panderman.

Gunung Panderman tampak di kejauhan

Kota Batu merupakan salah-satu kota administratif hasil pemekaran wilayah Kabupaten Malang. Untuk bisa sampai ke Gunung Panderman, para pendaki harus terlebih dulu menuju ke gerbang masuk Gunung Panderman yang berada di Dusun Toyomerto, Desa Pesanggrahan, Kecamatan Batu, Kota Batu.

Dari Kota Malang, lokasi tersebut bisa ditempuh dengan menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat, dengan waktu tempuh kurang lebih satu jam. Sedangkan jika di tempuh dari Kota Batu, hanya membutuhkan waktu 15-20 menit.

Di gunung itu, para pendaki diwajibkan membayar tiket masuk sebesar Rp7.000 per orang, untuk bisa memulai pendakian ke puncak Basundara yang merupakan nama puncak Gunung Panderman. Di pintu masuk ini pula, biasanya para pendaki mulai menata barang bawaan mereka dan mengkoordinir anggota rombongan mereka. Di tempat ini juga disediakan fasilitas toilet bagi para pendaki sebelum melakukan pendakian.

Di awal  pendakian, para pendaki akan melintasi jalanan berpaving, sebelum masuk ke dalam hutan. Selama perjalanan menuju puncak Basundaran, selain disambut udara yang sejuk, para pendaki juga disuguhi pemandangan alam yang sangat indah, yang tentunya tidak ada di perkotaan.

Ratusan bahkan ribuan jenis pepohonan akan selalu siap menemani setiap langkah para pendaki. Pepohonan yang dapat ditemui selama pendakian, di antaranya Cemara, Pinus, Kopi hingga pohon Alpukat. Tidak hanya itu, pemandangan bukit-bukit nan hijau terhampar memanjakan setiap pasang mata yang melihatnya. Kicau burung dan suara serangga seakan memberikan semangat kepada para pendaki untuk bisa segera sampai ke puncak Basundaran.

Pintu masuk kawasan Gunung Panderman

Salah-satu penjaga loket masuk Gunung Panderman yang juga sekaligus seksi reboisasi Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Wanatani Pasanggrahan, Kastari, mengatakan untuk bisa mencapai puncak Gunung Panderman atau puncak Basundaran itu hanya butuh waktu sekitar tiga jam. Karena itu, banyak pendaki yang langsung turun setelah selesai menikmati keindahan dari puncak Basundaran, tetapi tidak sedikit juga pendaki yang memutuskan untuk menginap, agar bisa menikmati keindahan gunung Panderman. “Biasanya, para pendaki yang bermalam di Panderman mendirikan tenda, selain di puncak juga mendirikan tenda di Latar Ombo atau yang biasa disebut pos dua,” jelasnya.

Di hari biasa, jumlah pendaki hanya sekitar 75-100 orang, tapi jika di hari libur bisa mencapai 200 orang pendaki. Dan, ada beberapa peraturan yang terdapat di area gerbang masuk Gunug Panderman yang harus dipatuhi setiap pendaki. Peraturan tersebut di antaranya mematuhi rambu-rambu yang sudah ada, tidak membuka jalur baru, menjaga etika selama pendakian, jangan menggunakan obor sebagai penerang jalan, memastikan api padam sebelum pergi dan tidak boleh membuang sampah sembarangan atau tidak boleh meninggalkan sampah.

Lebih lanjut, Kayun, yang merupakan petugas loket menyampaikan, beberpakali di Gunung Panderman pernah terjadi kebakaran hutan. Kebakaran tersebut ada yang karena memang faktor alam terjadi pada musim kemarau, tapi ada juga kebakaran yang disebabkan ulah tangan orang tak bertanggungjawab. “Setelah terjadi kebakaran tersebut, biasanya tidak lama kemudian langsung dilakukan reboisasi lagi, agar hutan di Panderman tidak gundul. Selain dari kami, penanaman pohon biasanya juga dilakukan teman-teman mahasiswa,” ungkapnya.

Menurut Kayun, untuk mendaki Gunung Panderman para pendaki harus benar-benar melihat dan mematuhi papan petunjuk arah yang sudah dipasang di sepanjang perjalanan. Kalau tidak, bisa jadi para pendaki akan tersesat karena banyak jalan yang bercabang. “Meski sudah ada papan petunjuk arah, tapi terkadang ada orang-orang tidak bertanggungjawab yang justru mengubah arah dari papan petunjuk tersebut. Akhirnya ada beberapa pendaki yang tersesat,” kisahnya.

Jalur pendakian Gunung Panderman

Sementara itu, jika dibandingkan dengan gunung-gunung lainnya yang ada di Malang, Gunung Panderman termasuk gunung yang tidak terlalu tinggi, hanya 2000 meter di atas permukaan laut. Dengan ketinggian tersebut, tidak heran banyak pendaki pemula yang mencoba mendaki Gunung Panderman.

Walaupun puncaknya tidak terlalu tinggi dan aksesnya tidak terlalu sulit, tapi tetap saja para pendaki harus berhati-hati, karena jalan cukup licin, terutama ketika hujan turun. Belum lagi menurut penuturan Kastari dan Kayun, di Gunung Panderman masih banyak terdapat hewan-hewan liar seperti Kijang, Babi Hutan dan yang paling banyak adalah Monyet.

Kastari dan Kayun

Salah-satu pendaki, Ucup, mengaku sudah beberapa kali mendaki Gunung Panderman. Menurutnya, Gunung Panderman sangat cocok bagi pendaki pemula, karena jalurnya tidak terlalu ekstrim. Kali ini, ia datang bersama beberapa rekan yang ingin mencoba merasakan bermalam di Gunung Panderman. “Karena tidak terlalu tinggi dan bisa ditempuh hanya sekitar tiga jam, biasanya saya tidak menginap. Tapi, kali ini saya bawa cukup banyak perbekalan dan juga tenda untuk persiapan bermalam di Gunung Panderman,” pungkasnya.

Jurnalis: Agus Nurchaliq/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Agus Nurchaliq

Komentar