Jual Bibit Tanaman, Sanggup Antarkan Anak ke Perguruan Tinggi

33
SELASA, 21 MARET 2017

PADANG — Jejak Pemberdayaan Yayasan Damandiri — Keluarga Dewi Susanti, merupakan salah satu keluarga yang ada di Tanjung Balik, XI Koto Diatas, Kabupaten Solok, Sumatera Barat (Sumbar), yang berhasil dalam menjalani usaha, yakni menjual bibit tanaman sehingga anak pertamanya bisa melanjutkan pendidikan ke salah satu perguruan tinggi di Kota Padang.

Dewi Susanti.

Dewi sudah menjalankan usaha menjual bibit tanaman sejak tahun 2008 lalu. Ketika itu, tak banyak bibit tanaman yang ia jual dan tak banyak juga orang yang membeli bibit tanamannya tersebut. Namun, dengan adanya pinjaman dana dari Tabur Puja  (Tabungan dan Kredit Pundi Sejahtera) Posdaya Tanjung Balik, ia bisa mengembangkan usaha bibit tanamannya.

“Alhamdulillah, dengan adanya pinjaman dari Tabur Puja ini, usaha bibit tanaman saya bisa terus berkembang, dan jumlah bibit tanaman saya terus bertambah. Tapi, lupa saya, jumlah bibit tanamannya, yang jelas, saya jual bibit tanaman jambu, jeruk, durian, lengkeng, karet, dan jenis bibit tanaman lainnya,” katanya di Solok, Selasa (21/3/2017).

Dewi menyebutkan, meski pinjaman dana pertamanya Rp2 juta, ia pun memaksimalkan dana itu untuk usahanya tersebut. Karena secara jumlah modal yang ada dari Tabur Puja itu tidak mencukupi, tapi Dewi bersama suaminya memiliki strategi lain, agar uang Rp2 juta itu bisa dikembangkan untuk usaha.

“Kalau soal cukup atau tidak, tentunya tidak cukup untuk Rp2 juta itu. Tapi, saya benar sangat terbantu dengan pinjaman dana Rp2 juta itu, karena telah menambah jumlah bibit tanaman yang akan saya jual,” ujarnya.

Untuk menjual bibit tanamannya itu, Dewi mempercayakan kepada sang suami yang memiliki rekan kerja untuk menjualkan bibit tanaman. Sang suami juga bekerja di salah satu perusahaan yang menyediakan bibit tanaman. Membuat bibit tanaman miliknya ikut dijual secara bersama dengan bibit tanaman milik rekan kerja suaminya tersebut.

Harga bibit tanaman yang dijual Dewi bervariasi dan tergantung ukuran bibit yang dijual, seperti bibit tanamam lengkeng dengan ketinggian sekitar 30 cm dijual dengan harga Rp30 ribu. Jika jenis bibit tanaman makin tinggi, maka harga yang dijualnya juga akan semakin tinggi pula, yang mencapai ratusan ribu rupiah.

“Soal omzet tidak menentu, yang namanya bibit tanaman hanya musiman saja untuk ramai pembeli. Ya palingan per bulan itu bisa Rp1,5 juta. Tapi, hasil yang kami dapatkan itu, benar-benar telah membantu ekonomi keluarga,” demikian pengakuannya.

Selain terus mengembangkan usaha bibit tanaman, Dewi juga menyisihkan pinjaman dana usaha itu untuk beternak ayam kampung, kini telah mencapai 60 ekor ayam. Saat ini, ayam kampung milik Dewi memang tidak dijual untuk dipotong, tapi telur ayam kampungnya saja yang dijual dengan harga Rp2.500 per butir.

“Ayam kampung saya itu tidak untuk dijual, cuma telurnya saja, dan telur pun tidak dipasarkan secara banyak, tapi dijual apabila ada yang beli saja. Jadi, apabila tidak ada yang beli, telurnya ditetaskan saja,” kata Dewi.

Berkat usaha Dewi ini, ia telah mampu menyekolahkan empat orang anaknya, yang sulung saat ini tengah menjalani pendidikan salah satu perguruan tinggi di Kota Padang, pada semester dua. Sementara anak yang nomor dua tengah duduk di bangku STM Kota Sawahlunto. Lalu anak yang nomor tiga dan yang ke empat tengah belajar di Sekolah Dasar Tanjung Balik.

“Anak-anak saya tetap melanjutkan pendidikannya. Hal ini berkat usaha yang saya jalani bersama suami dan tentunya saya sangat berterima kasih kepada Tabur Puja, yang mempercayai saya untuk meminjamkan dana usaha, tanpa perlu ada jaminan pinjaman,” tegasnya.

Sementara itu, Manajer KBRI Kencana BKKN Kabupaten Solok, Fhajri Arye Gemilang mengatakan, pola pemberdayaan yang dilakukan di Solok berbasis nagari, yang tersebar di 8 kecamatan di Kabupaten Solok.

“Ada 24 Posdaya yang masuk dalam pengawasan kita, dengan jenis usaha yang bermacam-macam, seperti pedagang, pertanian, peternakan, industri rumahan, dan usaha lainnya,” jelasnya.

Ia menyatakan, Posdaya yang di Kabupaten Solok tidak ada yang mengalami masalah, terutama soal kredit macet. Masyarakat yang tergabung dalam Tabur Puja sangat jujur dalam membayarkan kreditnya, yakni dalam waktu per minggu yang datang langsung ke masing-masing Posdaya.

Bibit tanaman jeruk milik Dewi Susanti yang berada di pekarangan rumahnya.

“Kita harus paham juga kondisi ekonomi masyarakat, meski terkadang ada yang telat membayarkan kredit. Kami tidak mendesak orangnya, tapi malah kita bina. Karena kita tahu, nasabah kita masyarakat kurang mampu, jadi harus dirangkul,” tegasnya.

Jurnalis: Muhammad Noli Hendra / Editor: Satmoko / Foto: Istimewa

Komentar