Kak Seto Minta Pelaku Pedofil Karanganyar Dihukum Berat

0
11

SELASA, 21 MARET 2017

SOLO —  Kasus  perilaku seksual menyimpang yang telah menelan korban 16 anak di Karanganyar, Jawa Tengah, menjadi perhatian serius bagi Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI). Ketua LPAI, Seto Mulyadi, secara pribadi langsung datang ke Karanganyar, untuk meminta kejelasan penanganan kasus pedofil  yang tengah ditangani Polres Karanganyar tersebut.

Kak Seto saat menggali informasi dari pelaku pedofil di Karanganyar, Jawa Tengah.

Selama hampir satu jam, pria yang akrab disapa Kak Seto itu meminta agar kasus yang melibatkan anak di bawah umur diberikan penanganan secara tuntas. Terutama, bagi korban perilaku seks menyimpang itu harus diberikan pendampingan psikologis secara profesional. “Selain kita geram kepada pelakunya, tentu untuk korban harus diberikan pendampingan psikologis secara mendalam dan profesional,” ujar Kak Seto kepada awak media, Selasa (21/3/2017).

Kak Seto mengingatkan, pentingnya pendampingan terhadap korban pedofil karena sebagian besar pelaku dari kasus perilaku seks menyimpang  selama ini pernah menjadi korban. Hal itulah yang harus menjadi perhatian khusus bagi Pemerintah atau lembaga perlindungan  anak, agar kasus pedofil tidak terus terulang. “Dampak psikologis korban pelecehan seksual itu sangat bahaya, karena bisa menjadi pelaku pedofil jika tidak diberikan pendampingan psikologis dan perhatian khusus,” terangnya.

Kasus pedofil di Indonesia, sebut Kak Seto, seperti halnya fenomena gunung es.  Sejauh ini  sulit untuk mengungkap kasus yang melibatkan anak di bawah umur, karena masih adanya ganjalan dan perasaan malu untuk melaporkan. Adanya kasus pedofil juga mengingatkan, jika pelecehan seksual tidak hanya dapat terjadi kepada anak perempuan, tetapi anak laki-laki juga menjadi korban.  Peran orangtua perlu untuk memberikan pemahaman, dan pendidikan kepada anak agar mampu menangkal bahaya pelecehan seksual.

Selain kepada korban, Kak Seto juga memberikan peringatan keras agar pelaku pedofil diberikan hukuman berat sesuai Undang-Undang nomor 17 tahun 2016, tentang perlindungan anak.  Kak Seto menyebut, perlu ada pemberatan hukuman terhadap pedofil . “Seperti  dikebiri, diberikan chip, hingga hukuman seumur hidup atau hukuman mati.  Tentunya, dalam menjatuhkan hukuman perlu mempertimbangkan dampak kepada korban,” jelasnya.

Secara pribadi, Kak Seto juga berkomunikasi  langsung  dengan tersangka pedofil, Fajarudin alias Udin. Dalam pembicaraan itu, pelaku mengaku jika dirinya pernah menjadi korbal pelecehan seksual seperti halnya yang dilakukan terhadap 16 anak di Karanganyar. “Pelaku mengakui jika perilakunya merupakan perbuatan yang keliru dan salah.  Selanjutnya kenapa melakukan, karena pelaku pernah diperlakukan hal sama,” ungkap Kak Seto.

Sementara itu, Kapolres Karanganyar, Ajun Komisaris Besar Polisi Ade Safri Simanjuntak, menambahkan, pihaknya masih membuka aduan terhadap korban lain dari kasus perilaku seks menyimpang dengan tersangka Udin tersebut. Sejauh ini, baru ada dua korban yang melaporkan tersangka kepada kepolisian Karanganyar. “Kita juga terjunkan Petugas untuk pendampingan, mulai dari PPA, Dinas Sosial, dan Komisi Perlindungan Anak Karanganyar. Kita juga masih terus mendalami kasus ini secara tuntas,” pungkasnya.

Jurnalis: Harun Alrosid/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Harun Alrosid

Komentar