Kata Cak Nun, Modernitas Lahirkan Pola Pikir Statis

0
22

MINGGU, 26 MARET 2017

YOGYAKARTA — Cendekiawan, budayawan, satrawan, sekaligus ulama kawakan, Emha Ainun Nadjib, alias Cak Nun, menilai modernitas telah melahirkan pola pikir yang statis. Masyarakat dikatakan semakin tidak mengerti cara berpikir secara utuh dalam menjalankan kehidupan. Baik itu dalam kehidupan berumah tangga, bermasyarakat maupun bernegara. 

Cak Nun (paling kanan) dalam diskusi di TBY

Hal itu dapat dilihat dalam berbagai contoh. Misal, banyaknya orang yang berpikiran statis. Mengangap dirinya liberal atau moderat. Dan, berpegang teguh pada keliberalan atau kemoderatannya. Tanpa pernah berpikir secara sadar, bahwa sesungguhnya setiap orang secara beriringan menjalankan keliberalan maupun kemoderatannya sepanjang hidupnya. “Hidup itu tidak pernah statis. Tidak penah ada yang diam. Hidup selalu bergerak, mengalir, bergetar. Dalam memahami hidup kita harus seperti itu. Baik dalam berumah tangga, bermasyarakat atau bernegara. Sekarang ini dunia dilangsungkan dalam kediaman. Kita jangan ikut menjadi statis sebagaimana terminologi berpikir orang modern yang statis,” kata Cak Nun, dalam diskusi buku karya Iman Budhi Santoso di Taman Budaya Yogyakarta, belum lama ini.

Cak Nun mengajak agar masyarakat kembali belajar berpikir secara berlipat-lipat. Tidak saja berpikir panjang saja, namun juga berpikir konstan, berpikir lipatan, putaran dan bulatan. Pasalnya, Cak Nun menilai banyak orang termasuk Pemerintah saat ini tidak mengerti cara berpikir seperti itu. Sehingga, menyebabkan munculnya berbagai persoalan di Indonesia. “Kita semakin lama dan semakin modern akan semakin dekaden. Semakin tidak mengerti cara berpikir seperti itu,” katanya.

Lebih lanjut, Cak Nun mengatakan, jika dikembalikan ke Tuhan, manusia dicipkakan sebagai sebuah subyek. Bukan obyek. Bahkan manusia diciptakan sebagai subyek yang paling utama setelah Tuhan itu sendiri. Manusia memiliki seluruh unsur kelengkapan semua ciptaan Tuhan sebelumnya. Baik itu unsur malaikat, iblis, tanah, logam, api, air, dan sebagainya. “Dalam persepektif manusia, Tuhan itu kan tidak ingin diam. Sehingga, Tuhan memancarkan cipratan Diri-Nya menjadi alam semesta. Jadilah, maka jadilah. Tapi, bukan lantas jadi. Melainkan terus berlangsung hingga sekarang. Kita sebagai manusia harus berusaha menjadi manusia yang utuh, dengan kelengkapan sebagaimana yang Tuhan maksudkan. Jangan diamputasi macem-macem,” katanya.

Jurnalis: Jatmika H Kusmargana/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Jatmika H Kusmargana

Komentar