Kekar Tegal Tegar Tangkal Bahaya Riba

182

RABU, 22 MARET 2017

SLAWI — Komunitas Ekonomi Anti Riba (Kekar) mengadakan kajian tematik tentang masalah ekonomi dan problem keumatan yang bertempat di Masjid Agung Slawi Kabupaten Tegal, Rabu  (22/3/2017). Acara yang berlangsung bada Asar ini menghadirkan Ust. Suyoko selaku pendiri Kekar. Menurut Zaenudin, salah satu anggota Kekar Tegal, kelompoknya rutin menggelar kajian tematik tentang ekonomi.

Suasana diskusi Kekar.

Saat dimintai keterangan oleh Cendana News, Ust. Suyoko mengatakan bahwa awal mula pendirian lembaga ini adalah karena keprihatinannya akan problematika ummat yang mudah sekali terjerat hutang. Akhirnya dia memutuskan untuk totalitas terjun mengadvokasi masyarakat yang terjerat hutang, bahkan mengalami penyitaan rumah dan asset.

Melalui komtemplasi yang dalam, Suyoko akhirnya menemukan jawaban, bahwa semua masalah keuangan yang menimpa sebagian besar masyarakat yang dia advokasi berasal dari riba. Seperti Firman Allah, “Bahwa Allah mengahalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” Dan seringan-ringannya dosa riba adalah seperti dosa menzinahi ibu sendiri.”

“Riba lah yang menjadi penyebab dari kehancuran ekonomi. Riba itu ibarat serigala di tengah domba (harta) yang kita miliki. Maka lambat laun domba-domba yang kita miliki akan habis dimakan serigala. Begitulah riba menggerogoti harta kita. Maka buanglah semua harta riba meski itu hanya satu sen.” kata Ust. Suyono menegaskan.

Sampai detik ini, KEKAR sudah ada di 20 kabupaten / kota se Indonesia, kota-kota lainnya sebentar lagi akan menyusul seperti di Cirebon. Prinsip dari KEKAR adalah membangun kemandirian ekonomi ummat yang bebas riba.

Pada kesempatan ini pula dirinya menuturkan bahwa salah satu hal yang akan dilakukan oleh KEKAR adalah memberdayakan ekonomi ummat berdasarkan prinsip syariah murni. Banyak lembaga keuangan, pegadaian yang berlabel syariah tapi pada prinsipnya jauh dari nilai-nilai syariah.

Pada kesempatan ini pula, hadir beberapa orang yang pernah merasakan terjerat hutang, dari mulai ratusan juta hingga milyaran rupiah. Abdullah salah satunya, mantan seorang suplier mini market besar yang terjerat hutang hingga Rp4,5 milliar.

Dalam kebingunan akhirnya dia memutuskan masuk KEKAR. Dia diarahkan agar bertaubat dan mendekatkan diri pada Allah SWT, setelah itu perbanyak sedekah, dengan usaha dan keyakinan yang mantap tanpa menggunakan modal Bank (sumber dana Riba). 

Dalam tempo satu setengah tahun usaha saya berkembang dengan pesat hingga akhirnya mampu melunasi hutang senilai 4,5 milliar rupiah. “Dan sampai sekarang saya turut mensyiarkan akan bahaya dan larangan riba,” ujar Abdullah.

Jurnalis: Adi Purwanto/Redaktur: Irvan Sjafari/Foto: Adi Purwanto

Komentar