Kesusasteraan di Malang Berkembang Pesat

65

SELASA, 21 MARET 2017

MALANG — Dalam kurun waktu lima tahun belakangan, dunia kesusasteraan, khususnya puisi, di Kota Malang terus berkembang pesat. Banyak penulis-penulis puisi muda yang bermunculan, baik di media massa maupun dalam pertunjukkan secara langsung.

Prof. Dr. Maryaeni, M.Pd.

“Dan, munculnya banyak penulis muda inilah yang menjadi latar belakang gregetnya orang-orang  dalam berkesenian secara umum, di peta perpuisian Indonesia,’ jelas Guru Besar Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang (UM) Prof. Dr. Maryaeni, M.Pd., saat ditemui Cendana News di Kafe Pustaka UM, Selasa (21/3/2017).

Maryaeni mengakui, kesusateraan di Malang  pernah mengalami masa stagnan. Namun, dalam waktu lima tahun terakhir ini kesusastraan di Malang  mulai bangkit kembali, yang ditandai dengan banyaknya penulis muda yang bermunculan. Kebangkitan kesusasteraan tersebut juga dibarengi dengan perkembangan kesenian dan kebudayaan di Malang.

Munculnya penulis puisi atau seniman puisi  mulai dari SD dan SMA, bahkan hingga perguruan tinggi, sekarang sudah banyak ditemui di Malang. Bermunculannya para penulis  puisi yang baru ini dimungkinkan karena situasi yang membawa mereka untuk dapat mengungkapkan ide  maupun keinginannya di zaman sekarang. “Bahkan, anak-anak SD di Malang sendiri ada beberapa yang sudah jago menulis puisi. Ada juga yang juga jago bermusik, berteater, maupun yang menjadi dalang cilik juga ada,” ungkapnya.

Menurut Maryaeni,  tema puisi yang diangkat oleh para penulis tersebut selalu berkembang dan meluas. Tidak hanya melulu tentang cinta, tetapi akhir-akhir ini marak mengangkat tema ekologi atau yang dikaitkan dengan lingkungan, kemanusiaan, bencana maupun tema-tema lainnya. Lomba puisi dari tingkatan SD hingga perguruan tinggi, sudah biasa diadakan di Malang dengan tema yang beragam. “Kalau di UM sendiri lomba baca puisi, lomba teater maupun lomba dongeng sudah sering kali diadakan. Bahkan, dulu ketika saya mengajar menulis puisi, mahasiswa saya minta untuk membuat kumpulan puisi atas namanya sendiri,” terangnya.

Selain itu, di Malang juga memiliki komunitas eni sastra, terutama baca puisi, sehingga tidak mengherankan jika perkembangan dan perjalanan kesasteraan di Malang, terutama puisi, saat ini sangat luarbiasa dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. “Dan, itu menjadi semangat kami yang bergerak di pendidikan, agar dapat meningkatkan kemampuan anak didiknya untuk bersastra dan berkesenian. Apalagi sekarang ada gerakan literasi nasional yang bisa dikaitkan dengan pembacaan puisi, membuat puisi dan penyusunan cerita,” katanya.

Lebih lanjut, Maryaeni mengatakan, sebenarnya di Malang memiliki banyak potensi untuk bersastra, berkesenian dan berkebudayaan. Hanya saja, masalahnya adalah tempatnya. “Kami seringkali terkendala birokrasi yang rumit. Bahkan, hampir semua seniman Indonesia itu kalau ingin mementaskan sesuatu selalu terjebak oleh birokrasi, utamanya administrasi. Pertunjukan kami terkadang merupakan pertunjukkan non profit, tapi ketika akan meminjam gedung dan sebagainya kita harus membayar. Inilah yang menjadi permasalahan kami selama ini,” akunya.

Maryaeni berharap, ke depan kesusasteraan di Malang tidak akan stagnan lagi dan bisa terus berkembang, karena dengan kesadaran berekspresi, kesadaran mengutarakan maksud dan keinginan tersebut bisa dilakukan setiap saat dan di manapun.

“Sekarang, tinggal yang mewadahinya ini ada atau tidak? Karena yang mau mewadahinya ini yang terbatas, dan biasanya itu untuk lomba-lomba festival dan bulan-bulan tertentu. Karena tidak setiap bulan ada lomba baca puisi, hal ini kadang juga bisa menjadi penghambat. Karena biasanya anak-anak baru membuat puisi kalau mau ada lomba puisi, itu  yang menjadi salah satu kelemahan saat ini,” kata Maryaeni, sembari mengimbuhkan, jika berkarya itu seharusnya tidak boleh berhenti. Anak-anak harus terus dipupuk. Ada atau tidak ada even, harus terus didorong untuk berkarya.

Jurnalis: Agus Nurchaliq/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Agus Nurchaliq

Komentar