Ketersediaan Pangan di Sumbar Dijamin Cukup

68

JUMAT, 31 MARET 2017

PADANG — Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Sumatera Barat (Sumbar), Candra, menyatakan, menjamin keamanan ketersediaan bahan pangan untuk beberapa bulan ke depan. Bahkan stok beras dan jagung melebihi kebutuhan yang ada.

Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Sumatera Barat, Candra.

“Soal persediaan untuk bahan pangan kita cukup, karena kondisi kita setiap bulannya ada yang dipanen dan ditanam. Sebab di sini kita tidak memiliki yang namanya tanam musim serentak,” ujar Candra, ketika dihubungi Jumat (31/3/2017).

Menurut Candra, setiap bulan sekira 250.000 ton beras tersedia di Sumbar yang bersumber dari semua sentra penghasil, baik lewat distributor maupun pengadaan Bulog untuk kebutuhan beras. Belum lagi produksi pertanian sawah yang berasal dari kabupaten/kota di Sumbar, juga ikut memperkuat ketersediaan pangan setempat.

“Kita panen setiap bulan rata-rata 50.000 hektar, jadi stok untuk ketersediaan bahan pangan beras setiap bulannya cukup tersedia. Produksi beras kita yang paling banyak terdapat di heler,” sebutnya.

Ia mengatakan, selain beras, stok berbagai komoditi pangan seperti jagung, bawang hingga cabai produksinya cukup besar. Karena itu, tidak ada alasan masyarakat untuk mengkhawatirkan kekurangan kebutuhan pokok tersebut.

“Bawang dan cabai rata-rata kita punya stok 2.000 ton. Cabai termasuk sudah melebihi, walaupun sempat krisis namun harga sudah mulai turun jadi cukup aman,” ujarnya.

Saat ditanya terkait penambahan lahan, katanya, pihaknya berupaya mengatasi berkurangnya lahan pertanian melalui cetak sawah baru dengan cara membuka lahan-lahan yang tidak produktif dalam rangka menyukseskan swasembada pangan dan pemanfaatkan lahan kering.

Untuk meningkatkan ketahanan pangan, ia meminta seluruh kepala daerah di Sumbar untuk jeli melihat potensi pangan lokal di daerah masing-masing untuk meningkatkan cadangan pangan supaya mewujudkan produksi pangan.

“Kita mulai mengimbau peran aktif dari jajaran kepala daerah baik bupati/wali kota untuk bisa punya stok, serta bisa mengoptimalkan manajemen distribusi pangan dengan baik agar pasokan pangan merata di semua daerah,” pintanya.

Menurut Candra, sebetulnya kabupaten/kota sudah punya fasilitasi-fasilitasi melalui Kementrian Pertanian namanya Lembaga Distribusi Pangan Mandiri (LDPM) masing-masing kabupaten/kota sudah ada juga toko tani hingga 50 unit.

“Jadi, rasanya untuk bergerak itu hanya butuh gerakan dari kepala daerah, seperti Dinas Pertanian kabupaten/kota ataupun Perindagnya. Sehingga mereka bisa memanfaatkan sarana dan prasarana yang sudah terbangun dan tersedia,” tukasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pangan Sumbar, Effendi, membenarkan, saat ini Sumbar masih surplus beras. Namun, konsumsi pangan masyarakat Sumbar masih tergolong belum berimbang. Karena masih didominasi konsumsi beras dengan persentase yang melebihi angka ideal. Jika konsumsi masyarakat Sumbar terhadap beras tidak dikurangi, dikhawatirkan, tidak hanya mengganggu program swasembada beras, melainkan juga mengancam kualitas kesehatan masyarakat.

“Kalau produksi beras kita masih surplus. Tapi jika konsumsi beras tidak dikurangi, surplus terancam berkurang,” ujarnya.

Hamparan sawah di Kabupaten Pesisir Selatan.

Ia menyebutkan, guna mengurangi konsumsi beras masyarakat Sumbar, Dinas Pangan terus berupaya mendorong masyarakat melakukan penganekaragaman pangan. Konsumsi beras bisa dikurangi dan digantikan dengan komoditi pangan lokal lain, seperti ubi ataupun talas, serta memperbanyak porsi buah, ikan, daging, dan sayur.

Jurnalis: Muhammad Noli Hendra / Editor: Satmoko / Foto: Muhammad Noli Hendra

Komentar