Komunitas Kelab Buku, Upaya Mengubah Mitos ‘Semarang Kuburan Sastra’

50

SELASA, 21 MARET 2017

SEMARANG — Kegelisahan melihat banyaknya kampus yang kurang bisa mengembangkan sastra, menjadi perhatian bagi Widyanuari Eko Putra, Arif Fitra Setiawan dan Sulung Pananggit. Ketiganya membentuk Komunitas Kelab Buku, sebagai upaya penyeimbang pengembangan sastra di kampus-kampus yang dinilainya belum maksimal.

Kegiatan Diskusi Komunitas Kelab Buku

Widyanuari Eko Putra, mengatakan, sebagai penggiat sastra, sebenarnya kampus mempunyai sumber daya besar untuk membangkitkan sastra di kota loenpia tersebut. Anggaran tetap, massa banyak dan orang-orang yang berpendidikan seharusnya menjadi modal besar pengembangan sastra. Tetapi, sayangnya banyak kampus yang memiliki jurusan sastra dan bahasa lebih banyak terjebak menjadikan sastra hanya bagian dari seremonial, sekedar untuk berdiri di atas panggung, bercerita kemudian bubar tanpa ada follow up yang jelas. Karena itu, pada Desember 2013, mereka mendirikan Komunitas Kelab Buku (KB) yang mempunyai misi menjadi penyeimbang pengembangan sastra yang belum maksimal di kampus-kampus, tanpa dukungan Pemerintah.

Menurut Wiwid, sapaan akrabnya, denyut nadi kesusasteraan di Semarang saat ini banyak dilakukan oleh komunitas. Saat ini, bahkan sastrawan generasi muda banyak yang mulai bergerak secara militan dan dinamis. Mereka sering menerbitkan buku sendiri tanpa banyak diblow-up oleh media. Kegiatan yang dilakukan hanya untuk membuktikan, bahwa Semarang sebagai kuburan sastra adalah mitos yang diciptakan oleh para sastrawan yang tidak produktif. Mereka hanya bisa berucap tanpa menghasilkan karya yang bermutu, padahal jika sastrawan mempunyai kreativitas tinggi, akan ada banyak pihak yang melirik.

Widyanuari Eko Putro

“Apalagi sekarang sudah zamannya internet, sastrawan bisa mempunyai banyak referensi untuk menghasilkan karya bagus,” terang Wiwid, Selasa (21/3/2017).

Di Komunitas KB, bagi orang yang ingin bergabung disyaratkan untuk selesai membaca buku yang dirujuk. Ini dimaksudkan untuk menjaga kualitas KB sendiri, karena memang KB didirikan untuk menjadikan sastra sebagai hal yang dikerjakan secara serius.

Menurut penggemar sastrawan Semarang, Triyanto Trikomo dan Prasetyo Utomo, itu sastra akan “dihargai” mahal, jika dikerjakan dengan pembahasan yang rutin dan berkelanjutan, ditambah menggunakan referensi internet dan pendalaman riset. Dukungan Pemerintah yang minim juga tidak dijadikan hambatan bagi Komunitas KB, dan mereka seringkali melakukan ‘saweran’ (iuran), jika ingin melakukan kegiatan.

Karena itu, di KB tidak ada kepengurusan struktural, karena sastra akan lebih menarik jika dikerjakan bersama-sama. Pembagian tugas hanya dilakukan jika ada kegiatan. Untuk lebih memperkuat eksistensi KB, mereka juga rutin mengadakan kegiatan pertemuan antar sastrawan dan bincang buku tiap bulan.

Komunitas KB juga kerap menyuarakan pesan sosial untuk merespon kejadian di sekelilingnya. Pada 2016, ketika Pasar Johar terbakar, mereka menerbitkan antologi essay “Kepada Buku-Buku yang Terbakar”, untuk menggambarkan keprihatinan banyaknya toko buku sastra terkenal yang ikut ludes dilalap si jago merah tersebut.

Arif Fitra Kurniawan

Lebih lanjut, Wiwid mengatakan sastra juga bisa digunakan sebagai ‘senjata’ untuk mengkritik, tetapi levelnya harus berbeda dibandingkan kritik yang sering dilontrakan. Dalam KB sendiri, metode pengkritikan bukanlah menggunakan kata-kata yang keras, tetapi lebih kepada penyampaian secara utuh, sehingga pendengar mengerti maksud yang disampaikan. Keberhasilan kritikan di sastra adalah ketika bisa memberikan kesadaran penuh kepada pendengarnya untuk bisa ikut mengkritik.

Sementara itu, Arif Fitra Kurniawan, menambahkan, tidak ada spesifikasi khusus untuk buku bahan kajian Komunitas KB. Semua buku bisa dibahas asal mendapat persetujuan dari “pengurus”. Baginya, yang terpenting adalah menjadikan buku-buku tersebut tidak hanya sekedar dibaca, tetapi didiskusikan dan ditulis. Ini merupakan poin penting untuk ciri khas pengembangan sastra.

Arif melihat, sastra yang berkembang di Semarang seringkali terinspirasi oleh keadaan di sekitarnya. Kondisi Semarang sebagai Ibukota Kota Jawa Tengah, menjadikan sastra yang berkembang lebih banyak menitik-beratkan pada titik locus daerah urban. Arif sendiri yang mempunyai spesialisasi puisi di KB, sering menulis puisi yang menceritakan tentang budaya Tionghoa, sementara sastrawan lainnya, Aghsanul Maghzi, pernah menulis cerita pendek yang berjudul ‘Selompret Kematian’, yang isinya menceritaan tentang keadaan di kota lama sebagai salah satu ikon Kota Semarang. Cerpen tersebut menjadi juara satu dalam festival yang diadakan oleh Pemerintah.

“Potensi sastra di Semarang bisa dikembangkan, jika Pemerintah mau memfasilitasi tempat-tempat kumpul dan lebih banyak menyediakan taman baca,” tambah Arif.

Arif dan Wiwid, sepakat, KB sebagai wadah untuk mendiskusikan buku bisa berkelanjutan, karena bagi mereka tidak ada yang final di sastra, setiap detik akan terus berkembang. Jika ada sastrawan yang beranggapan, era sastra sudah selesai, maka yang bermasalah adalah diri mereka sendiri. Selain itu, mereka juga harus menjaga kualitas anggota KB, agar tetap memproduksi karya-karya yang bermutu untuk bisa membuktikan kepada masyarakat luas, bahwa sastra di Semarang belum mati.

Jurnalis: Khusnul Imanuddin/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Khusnul Imanuddin

Komentar