KPK Masukkan Miryam S. Haryani DPO

37

RABU, 29 MARET 2017

JAKARTA — Miryam S. Haryani, merupakan salah satu saksi yang sedang menjalani pemeriksaan dalam persidangan di pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta. Mantan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat tersebut sebelumnya sempat bersaksi dalam kasus perkara dugaan penggelembungan anggaran proyek Kartu Tanda Penduduk (KTP) yang berbasis elektronik atau e-KTP.

Juru Bicara KPK, Febri Diansyah.

Saat bersaksi dalam persidangan putaran ketiga yang berlangsung Kamis (23/3/2017), Miryam sempat mengaku di hadapan Majelis Hakim yang memimpin persidangan bahwa dirinya merasa tertekan saat sedang menjalani pemeriksaan sebagai saksi di Gedung KPK Jakarta. Bahkan Miryam sempat mencabut atau membatalkan Berita Acara Pemeriksaan (BAP) oleh penyidik KPK.

Terkait dengan hal tersebut, maka penyidik KPK telah mendaftarkan Miryam S. Haryani ke dalam daftar pencegahan orang (DPO) bepergian ke luar negeri kepada Direktorat Jenderal (Ditjen) Imigrasi Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) Republik Indonesia. Dengan demikian Miryam dilarang atau tidak dapat meninggalkan negara Indonesia dengan alasan apa pun minimal selama 6 bulan ke depan.

Pencegahan bepergian ke luar negeri kepada Miryam S. Haryani tersebut mulai efektif diberlakukan sejak Jumat (24/3/2017) hingga Minggu (24/9/2017) mendatang atau sekitar 6 bulan lamanya. Dengan demikian hingga saat ini pihak KPK untuk sementara telah mendaftarkan 9 orang dalam daftar pencegahan bepergian ke luar negeri dalam kasus perkara penyelewengan anggaran dalam proyek e-KTP.

“KPK telah mendaftarkan saudara Miryam S. Haryani ke dalam daftar pencegahan bepergian keluar negeri kepada pihak Direktorat Jenderal Imigrasi, pencegahan tersebut mulai efektif sejak tanggal 24 Maret 2017 hingga 6 bulan ke depan. Pencegahan tersebut diperlukan karena keterangan dan kesaksian yang bersangkutan masih dibutuhkan dalam persidangan,” jelas Juru Bicara KPK, Febri Diansyah, kepada wartawan di Gedung KPK Jakarta, Rabu (29/3/2017).

Jurnalis: Eko Sulestyono / Editor: Satmoko / Foto: Eko Sulestyono

Komentar