KSU Dewantara Ranah Minang Bantu Kembangkan Bank Sampah

66

SENIN, 20 MARET 2017

PADANG — Kepedulian Koperasi Serba Usaha (KSU) Posdaya Dewantara Ranah Minang terhadap penggiat Bank Sampah yang ada di Kota Padang, Sumatera Barat (Sumbar) memang patut diapresiasi. Pasalnya, berkat bantuan dana melalui koperasi yang bekerjasama dengan Damandiri, membuat penggiat bank sampah terus mengembangkan ide-ide kreatif nya.

Ibu-ibu rumah tangga tengah mengerjakan kerajinan olahan sampah atau barang bekas

Penggiat bank sampah di Kota Padang sekaligus menjadi Sekretaris di KSU Posdaya Dewantara Ranah Minang dan Koordinator Bank Sampah, Nina Dewi Sukmawati menceritakan, Bank Sampah yang buat itu sudah dikerjakan sejak tahun 2011 lalu. Namun ketika itu, masih terkendala dana dalam membeli barang-barang bekas yang dikumpulkan oleh pemulung.

“KSU Posdaya Dewantara Ranah Minang ini baru ada di Padang tahun 2015, jadi dengan adanya peminjaman dana dari koperasi Dewantara Ranah Minang, saya pun bisa membeli banyak barang bekas yang dikumpulkan oleh pemulung,” katanya, Senin (20/3/2017).

Bank Sampah yang dibuat oleh Dewi bukan hanya sekedar mengumpulkan barang-barang bekas/buangan saja, tapi barang bekas itu dikelola menjadi barang yang bisa digunakan kembali, dan bahkan layak jual. Seperti halnya pengelolaan sampah anorganik, yakni plastik pembungkus makanan, kertas, plastik mainan, botol dan sebagainya.

Untuk kertas, misalnya kertas surat kabar, dengan memiliki 5 hingga 7 orang ibu-ibu rumah tangga yang hidupnya tergolong kurang mampu, Dewi bisa melatih para ibu-ibu itu, bisa menghasil barang – barang yang bernilai.

“Khusus dari kertas surat kabar, kita sudah membuat tempat tisu, tempat air gelas, pot bunga, dan yang lainnya. Itu semua bukan disimpan, tapi juga telah banyak dijual,” katanya.

Nina Dewi Sukmawati saat berada di salah satu saat pameran waktu lalu

Hasil kreatifitas ibu-ibu rumah tangga itu, ikut membantu ekonomi kebutuhan sehari-hari, karena harga untuk tempat tisu yang terbuat dari kertas koran mampu terjual Rp50.00 hingga Rp150.000 per unitnya, tergantung besaran ukurannya.

Selain memanfaatkan kertas surat kabar, Bank Sampah tersebut juga mengolah barang bekas dari bahan plastik pembungkus makanan. Dewi menjelaskan, untuk dari plastik pembungkus makanan itu, ibu-ibu rumah tangga juga bisa menghasilkan kreasi barang lainnya, seperti tas dan dompet.

“Ide-ide memanfaatkan barang bekas itu merupakan inspirasi dari nenek saya, yang dulu memanfaatkan kulit jagung menjadi barang yang layak jual. Jadi, saya pun mencoba kepada barang bekas yang dipungut pemulung, menjadi barang yang berguna, hasilnya sempurna, saya pun bisa,” ujar Dewi.

Ia mengakui, meski telah membagi pengalamannya kebanyakan orang, ia menyebutkan sebagai ajang saling belajar, karena dari hasil kreasi ibu-ibu rumah tangga tersebut, juga banyak muncul dari ide-ide mereka sendiri.

Barang-barang karya pengrajin dari hasil Bank Sampah itu pun ternyata juga telah dipasarkan hingga ke Pulau Jawa, namun belum dalam jumlah yang banyak. Cerita Dewi, meski demikian, barang hasil olahan barang bekas itu cukup laris di kalangan penggiat Posdaya yang ada di Kota Padang.

“Saat ini kita saling membantu, yang membelinyapun antara Posdaya, jadi kerja keras ibu-ibu rumah tangga tersebut benar-benar membuahkan hasil,” tegasnya.

Tidak hanya dalam bentuk sampah anorganik, sampah organik pun juga turut dikelolah oleh Bank Sampah untuk menghasilkan pupuk. Untuk pupuk ini, Dewi bersama sang suami melakukan renovasi/modifikasi terhadap komposter yang pernah diperkenalkan Pemerintah Kota Padang.

“Suami saya Nofriandi melakukan sedikit modifikasi, yakni membuang kawat yang ada di dalam tabung komposternya, alasan dibuang kawat yang ada di dalam tabung itu, karena kawat akan menimbulkan efek karat terhadap pupuk yang dihasilkannya,” katanya.

Dewi memaparkan, hasil modifikasi komposter suaminya itu, mampu menghasilkan tujuh liter cairan pupuk dalam 15 hari, dan 1,5 liter pupuk padat.

“Sampah seperti rumput dan yang lainnya diiris kecil-kecil, dimasukan ke tabung komposter, lalu dibiarkan. Nah nanti akan menghasilkan pupuk, baik cair atau padat,” ungkapnya.

Untuk pupuk cair yang dihasilkan dari komposter itu, bisa digunakan sebagai pupuk pestisida yang dicampur dengan daun sirsak, pupuknya juga berguna untuk cabai yang mengalami keriting. Sementara pupuk padat, digunakan untuk bibit tumbuh-tumbuhan.

Hasil karya pengrajin dari sampah atau barang bekas yang terbuat dari kertas surat kabar

Modifikasi komposter dari Bank Sampah itu telah dipasarkan di sejumlah kabupaten/kota di Sumbar, seperti Kabupaten Pasaman Barat, Solok Selatan, Solok, Pesisir Selatan, Mentawai, dan Kota Payakumbuh. Harganya pun bervariasi dan tergantung ukurannya, seperti yang paling besar dijual Rp850.000 ukuran sedang Rp750.000, dan uang ukuran yang kecil Rp450.000.

“Luar dari Sumbar ada juga dijual, tapi hanya sedikit yakni sekira 5 hingga 10 unit yang dipasarkan di Bali dan Jakarta,” tutupnya.

Dewi berharap, hal yang dilakukan oleh Bank Sampah mampu membuat pihak Pemerintah Kota Padang untuk lebih peduli terhadap lingkungan. Kepedulian yang dimaksud ialah mensosialisasikan kepada pelaku/rumah tangga untuk bisa memanfaatkan sampah, tapi bukan memperbanyak relawan sampah.

“Sampah ini jika tidak diatur dan dimanfaatkan, maka akan terus menumpuk, bukan relawan yang diperbanyak, tapi kesadaran dari pelaku yang perlu diingatkan lagi,” tegasnya.

Sebelumnya, Manager KSU Posdaya Dewantara Ranah Minang Indra Putra mengatakan, dalam kegiatan Posdaya yang ada, KSU Posdaya Dewantara Ranah Minang membantu atau menjadi penyuluh bagi masyarakat. Misalnya dalam dana, melalui koperasi masyarakat bisa menjalani usahanya, sama hal nya dengan yang dilakukan salah satu pilar KSU Posdaya Dewantara Ranah Minang yakni lingkungan.

“Untuk mengelolah Bank Sampah itu butuh dana, karena akan membeli barang bekas. Jadi hal ini yang kita bantu dalam hal meminjamkan dana melalui koperasi yang kita punya,” tambahnya.

Jurnalis: Muhammad Noli Hendra / Redaktur : ME. Bijo Dirajo / Foto: Istimewa

Komentar