Lampung Miliki Kekayaan Budaya yang Penting Difilmkan

38

KAMIS, 30 MARET 2017

LAMPUNG — Berperan sebagai tokoh paman bocah petualang atau dikenal dengan Si Bolang dalam program televisi atau film dokumenter yang tayang di salah satu televisi nasional, masih membekas di sanubari Sugeng Hariyono (31).  

Pengambilan gambar film Si Bolang di Lampung

Suami dari Asih Kurnia (29), tersebut memerankan tokoh paman dari sejumlah bocah petualang yang diperankan oleh beberapa siswa sekolah dasar di Lampung Selatan, di antaranya Soni Firnanda (11) sebagai Si Bolang, dan kawan-kawan Si Bolang, yaitu Almi Hariski, Agustian, dan Ruli Sanjaya. Selain itu, beberapa tokoh lain seperti Ibu Rita sebagai minan atau bibi Si Bolang, para penari tuping, dan Ninda berperan sebagai kakak Si Bolang.

Sugeng didaulat menjadi salah satu tokoh, karena merupakan penggerak literasi atau budaya membaca yang berkeliling menggunakan kendaraan bermotor atau dikenal dengan motor pustaka dan gerobak pustaka. Berperan sebagai tokoh Paman Si Bolang, Sugeng mengaku pembuatan film yang memperlihatkan beberapa budaya di wilayah Lampung Selatan mendapat tanggapan beragam dari masyarakat, terutama dengan lokasi-lokasi yang menjadi tempat pengambilan gambar.

Beberapa tempat pengambilan gambar mengambil tempat di Lamban Balak, Kuripan, yang merupakan salah satu bukti sejarah, saksi bisu masa hidup Pahlawan Nasional asal Lampung Selatan, yakni Raden Intan II, yang ada di Keratuan Darah Putih. Selain itu, beberapa tempat lainnya antara lain tempat wisata pantai di Lampung Selatan dan Way Belerang air panas Simpur dan lainnya.

Sugeng mengaku dengan adanya film dokumenter petualangan ‘Si Bolang’, Sikam Anjak di Pekon, Kuripan, Penengahan Lampung yang menyasar anak-anak bisa memberi nilai edukasi tentang wilayah Lampung Selatan yang kaya akan alam, peninggalan budaya dan tentunya menjadi wilayah yang memiliki budaya literasi cukup tinggi dengan adanya motor pustaka. :Setelah ditayangkan tentang film Si Bolang, jadi banyak yang tahu dan ingin berkunjung ke tempat peninggalan Raden Intan II,” ungkap Sugeng saat ditemui, Kamis (30/3/2017).

Sugeng mengatakan, sebetulnya banyak film dokumenter bisa dibuat oleh para pembuat film dengan mengambil tema-tema tentang Lampung Selatan, meski saat ini masih sangat minim. Bahkan belum ada karya yang dibuat secara khusus. Beberapa film selama ini hanya bersifat dokumenter dan belum ada yang membuat secara khusus untuk pendidikan atau memperkenalkan Lampung Selatan dari sisi yang lain.

Menurut Sugeng, kehadiran film dokumenter atau sebuah program televisi yang dikhusukan untuk anak-anak, memiliki nilai positif karena dengan film generasi muda akan tahu nilai-nilai budaya, karena visual sangat mudah dipahami dan lebih menarik karena bisa didengar, dilihat. Selain itu, film dokumenter juga memunculkan budaya-budaya lokal. “Saat ditanya di mana Pahlwan Raden Intan II dilahirkan dan rumah peninggalan Raden Intan II, banyak anak sekarang yang tidak tahu letak rumahnya semasa beliau hidup. Nah, dengan adanya film dokumenter yang kemasan yang menarik, akan mengingatkan sekaligus menginformasikan rumah semasa hidup Raden Intan II,” terang Sugeng.

Sugeng mengatakan lagi, tak hanya film dengan sasaran anak-anak, namun banyak tempat, budaya, keunikan yang ada di Lampung Selatan, layak untuk dijadikan film dokumenter, terutama Kabupaten Lampung Selatan, dengan beberapa peninggalan cukup terkenal seperti Gunung Krakatau yang meletus dahsyat pada 1883. Film tentang Krakatau pun telah lama ada dan dibuat oleh pembuat film dari luar negeri, namun untuk beberapa film dokumenter Krakatau saat ini masih minim.”Sebuah film sebetulnya menjadi sebuah arsip dan para pembuat film dokumenter memiliki tugas untuk lebih peduli dalam membuat film terkait kearifan atau hal hal bersifat sejarah di Lampung Selatan,” kata Sugeng Hariyono.

Jurnalis: Henk Widi/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Istimewa

Komentar