Lebih Baik Perawat Diselamatkan Kritikan Daripada Diagungkan Pujian

29
JUMAT, 17 MARET 2017

MAUMERE — Kalau bicara tentang perawat secara keseluruhan tentu sudah sesuai dengan standar kompetensi yang tertulis dalam undang-undang. Namun, menjadi perawat banyak sekali keluhan yang diberikan sebab masyarakat sering hanya melihat sisi kekurangannya. Padahal banyak kelebihan pelayanan kesehatan yang diberikan perawat.

Para perawat di Sikka sedang mempraktikkan gerakan cuci tangan enam langkah.

Demikian disampaikan Martinus Hartadi, AMd.Kep, perawat yang bertugas di kamar operasi RSUD TC Hillers Maumere saat ditemui Cendana News usai apel HUT PPNI di lapangan Kota Baru Maumere, Jumat (17/3/2017).

Dikatakan Martinus, lebih baik perawat  diselamatkan oleh kritikan daripada diagung-agungkan oleh sebuah pujian yang kemudian membuat perawat merasa lengah dan tidak terus belajar dari waktu ke waktu dalam meningkatkan pelayanan.

“Yang kami butuhkan sebuah kritikan yang pedas tapi berkualitas. Kami ada kelebihan dan kekurangan sebab perawat juga manusia biasa yang tentunya memiliki kekurangan dan kami menerima kritikan itu,” tegasnya.

Tantangan yang dihadapi perawat di Sikka saat ini, kata Martinus, banyak perawat yang bertugas di desa harus jauh berjalan kaki sebab sarana transportasi juga tidak bagus dan daerah tersebut  juga tidak ada minyak dan minuman air bersih.

Dirinya berharap agar perawat di Sikka dengan semangat peringatan hari perawat kali ini, harus merasa menjadi bagian penting dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat Sikka pada khususnya dan bangsa Indonesia pada umumnya.

“Mari kita bersama-sama memberikan pelayanan yang terbaik bagi masyarakat Sikka demi menuju ke satu  Sikka  yang sehat  dan setiap saat kita bekerja, kita terus melayani agar orang yang sakit menjadi sehat dan yang sehat tetap sehat,” ungkapnya.

Hetridis Rosarince, salah seorang perawat senior di Kabupaten Sikka yang bertugas di Puskesmas Kopeta Perumnas Maumere, saat ditemui Cendana News di waktu yang sama mengatakan, sukanya menjadi perawat, dirinya banyak memberikan pelayanan kepada masyarakat dan sebentar lagi akan menjalani pensiun.

“Saya sedih sebab masih terbatasnya tenaga perawat sehingga beberapa pekerjaan harus diselesaikan satu orang. Selain itu, saat ini perawat minimal berijazah S1, sementara di Sikka masih banyak yang berijazah D3 bahkan ada juga yang D1 padahal pemerintah sudah melarangnya,” sebutnya.

Terkait situasi masyarakat yang suka marah, Mama Rince, sapaannya, katakan, mungkin karena kesibukan perawat, perawat lebih prioritaskan pasien yang memang harus didahulukan . Meski datang belakangan sehingga pasien yang datang terlebih dahulu merasa tidak enak dan sering marah.

“Kami dituntut  untuk memprioritaskan pelayanan kepada pasien yang memang harus didahulukan. Jadi tidak benar kalau dalam memberikan pelayanan kami pilih kasih,” tuturnya.

Hetridis Rosarince, salah seorang perawat senior di Kabupaten Sikka yang bertugas di Puskesmas Kopeta Perumnas Maumere.

Bagi perawat yang baru, perempuan yang sudah menjadi perawat selama 32 tahun ini katakan, dengan motto senyum, salam dan sapa, itu adalah bentuk dari pelayanan yang diberikan perawat. Perawat pun harus melayani dengan penuh kasih dan cinta dalam situasi apa pun demi melayani masyarakat.

Jurnalis: Ebed de Rosary / Editor: Satmoko / Foto: Ebed de Rosary

Komentar