Lestarinya Orkes Gambus Tunggal Lampung, Bergantung Warga

0
20

SABTU, 18 MARET 2017

LAMPUNG — Lagu-lagu yang mendayu-dayu dan dominan melankolis, sebagian penuh semangat, merupakan realitas kehidupan yang dialami oleh manusia. Di antara lagu-lagu tersebut berkisah tentang percintaan, seperti lagu ‘Say Lagi’, ‘’Punyandangan’, Busekhah’, ‘Tanoh Lado’, serta lainnya. Namun, semua itu semakin jarang dimainkan, sedangkan banyak warga merindukan musik Lampung dengan alunan musik aslinya yang tak hanya diiringi musik organ tunggal.

Orkes Gambus Tunggal Lampung ‘Mulang Muakhi’ saat sedang tampil.

Karena itu, Kepala Desa Tetaan, Baheram, mengaku sangat mendukung langkah warganya dalam mengembangkan alat musik tradisional. Pihak desa terus akan mengembangkan kesenian tersebut, dan bahkan kesenian tradisional lain seperti Tari Sembah, Tari Bedana, Tari Sigekh Pengunten, dengan adanya sanggar yang bisa menjadi tempat belajar anak-anak muda usia sekolah. “Kita tahu, saat ini di zaman modern, generasi muda sudah sulit untuk melestarikan kesenian tradisional. Dengan adanya generasi tua yang masih peduli bisa menjadi contoh, di antaranya pemain orkes Lampung yang selalu tampil di saat kegiatan hajatan atau kegiatan lain,” terang Baheram.

Perkembangan dan semakin banyaknya masyarakat yang menginginkan musik tersebut sebagai sajian untuk hiburan saat hajatan, ulang tahun desa, ulang tahun kecamatan, diharapkan akan semakin membuat musik Lampung kembali bergairah. Selain itu, bagi generasi muda juga akan dilatih untuk memainkan musik Gambus Lampung dengan berbagai kreasi menggunakan tambahan alat musik modern, agar kesenian musik Lampung tetap lestari dan dikenal orang.

Salah-satu keluarga saiful hajat resepsi pernikahan, Kholil (34), mengatakan, sudah saatnya kesenian tradisional orkes gambus tunggal Lampung kembali dihidupkan. Caranya, dengan mengundang pelaku seni orkes gambus tunggal Lampung untuk bisa manggung di setiap acara. Selain bersifat tradisional, kesenian itu juga tetap mempertahankan kondusifitas keamanan dibandingkan dengan menampilkan kesenian lain dengan penyanyi seronok atau vulgar dan tidak layak menjadi tontonan bagi anak-anak.

“Saya rasa ini sebuah langkah untuk melestarikan musik tradisional, dan kalau tidak ada yang mengundang atau menanggap mereka, susah untuk melestarikan. Makanya, masyarakat jugalah yang ikut melestarikan dengan menanggapnya,” terang Kholil.

Kepala Desa Tetaan, Baheram

Selain irama musik yang sangat menarik, lagu-lagu yang penuh dengan falsafah hidup, orkes gambus tunggal juga bisa dimainkan dengan irama yang tidak terlalu mengganggu pendengaran dibandingkan dengan iringan musik lain yang terkadang memekakkan telinga. Selain itu, beberapa sajian hiburan yang saat ini sedang marak menghadirkan biduan atau penyanyi yang terkesan mengenakan pakaian seronok yang tak pantas ditonton anak kecil, sehingga kebangkitan dan gairah musik tradisional yang tak kalah menghibur masyarakat bisa lebih memberi nilai positif dalam dunia hiburan di masyarakat.

Jurnalis: Henk Widi/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Henk Widi

Komentar